analitik

Pemadaman Listrik Air Bini di Siantan Selatan, Kepulauan Anambas Picu Aksi Ratusan Warga

Ule.co.id – Ratusan warga Desa Air Bini, Kecamatan Siantan Selatan, Kabupaten Kepulauan Anambas menggelar aksi protes pada Selasa malam setelah mengalami pemadaman listrik hingga lima kali dalam satu hari. Demonstrasi yang dipimpin oleh Kepala Desa Landa ini menyoroti keluhan panjang terkait ketidakstabilan pasokan listrik di wilayah terpencil tersebut.

Menurut saksi mata, aksi dimulai sekitar pukul 22.30 WIB ketika warga berkumpul di halaman Kantor PLN Anambas, yang terletak di Desa Tarempa Barat. Lebih dari seratus sepeda motor mengisi area tersebut, sementara warga dari segala usia—dari lansia hingga remaja—mengisi ruangan dengan teriakan menuntut solusi segera. Mereka menempelkan spanduk bertuliskan “Listrik Harus Nyala 24 Jam” dan menggelar rapat singkat untuk menyampaikan daftar keluhan kepada petugas PLN yang hadir.

Baca juga:
Legislator Kapuas Minta PLN Percepat Pemulihan Layanan Listrik

Keluhan utama berpusat pada pemadaman listrik yang terjadi secara berulang, bahkan sampai lima kali dalam satu hari. Warga mengaku hal ini mengganggu aktivitas rumah tangga, pendidikan anak‑anak, serta operasional usaha kecil seperti warung makan dan toko kelontong. Beberapa warga melaporkan kerusakan peralatan elektronik akibat fluktuasi tegangan, sementara petugas kesehatan di puskesmas setempat mengakui keterbatasan dalam menyediakan layanan medis ketika listrik padam.

Setelah aksi selesai, suasana di sekitar kantor PLN berubah drastis. Pada Rabu pagi, kantor tampak lengang; hanya tersisa satu unit mobil pikap dan lima sepeda motor yang diduga milik petugas PLN. Pintu kaca berwarna gelap menghalangi pandangan ke dalam ruangan, sehingga aktivitas internal tidak dapat terlihat dari luar. Meskipun demikian, beberapa kendaraan melintas secara rutin karena lokasi kantor berada di jalur utama lalu lintas di Anambas.

Kepala Desa Landa, yang menjadi juru bicara dalam aksi, menegaskan bahwa warga tidak menuntut kompensasi melainkan perbaikan jaringan listrik yang berkelanjutan. “Kami ingin listrik menyala terus, tidak hanya saat malam atau saat ada acara penting. Kami siap bekerja sama dengan PLN, namun mereka harus menanggapi keluhan kami dengan serius,” ujarnya sambil menambahkan bahwa warga siap mengadakan dialog lanjutan bila diperlukan.

Pihak PLN belum memberikan pernyataan resmi pada saat penulisan artikel ini, namun beberapa sumber internal mengindikasikan bahwa tim teknis sedang menyiapkan rencana perbaikan jaringan utama yang melintasi Pulau Siantan. Pemerintah Kabupaten Kepulauan Anambas juga dijadwalkan mengadakan rapat koordinasi antara Dinas Energi, PLN, dan perwakilan masyarakat pada minggu depan untuk membahas solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan pemasangan gardu listrik tambahan.

Baca juga:
Gubernur Kalteng Beri Dampak Positif pada Permasalahan Listrik

Masalah kelistrikan di Kepulauan Anambas bukan fenomena baru. Karena letaknya yang jauh dari daratan utama, wilayah ini sering menghadapi tantangan logistik dalam pengiriman material dan tenaga kerja. Selain itu, pertumbuhan penduduk dan sektor pariwisata yang berkembang menambah beban pada infrastruktur yang sudah terbatas. Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah menargetkan investasi sebesar beberapa ratus miliar rupiah untuk memperkuat jaringan listrik di pulau‑pulau terluar, namun realisasi di lapangan masih memerlukan waktu.

Para ahli energi menilai bahwa pendekatan terintegrasi antara peningkatan kapasitas pembangkit, penggunaan energi terbarukan seperti panel surya, serta pemeliharaan rutin jaringan distribusi dapat mengurangi frekuensi pemadaman. “Kondisi geografis memang menantang, namun dengan perencanaan yang tepat dan alokasi anggaran yang konsisten, pemadaman seperti yang dialami warga Air Bini dapat diminimalisir,” kata Dr. Rudi Hartono, dosen Fakultas Teknik Universitas Riau.

Untuk sementara, warga Air Bini tetap mengandalkan sumber energi alternatif seperti generator diesel dan lampu tenaga surya portabel. Meskipun solusi sementara ini membantu, mereka berharap pemerintah dan PLN dapat menyelesaikan masalah secara permanen. Aksi protes yang terjadi pada 25 Agustus 2026 menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat siap menuntut hak dasar mereka akan listrik yang andal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *