Yayoi Kusama Tutup Usia 97: Warisan Polkadot, Keluarga, dan Pameran Terakhir yang Menggugah Dunia Seni
Ule.co.id – Yayoi Kusama, seniman polkadot legendaris asal Jepang, meninggal pada 14 Agustus 2026 di sebuah rumah sakit di Tokyo pada usia 97 tahun, menandai berakhirnya karier lebih dari tujuh dekade yang mengubah lanskap seni kontemporer global.
Lahir pada 22 Maret 1929 di Matsumoto, Prefektur Nagano, Yayoi Kusama merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dan satu-satunya perempuan dalam keluarga. Orang tuanya mengelola bisnis pembibitan dan penjualan benih tanaman, sebuah latar belakang agrikultur yang kelak memengaruhi motif labu dan pola organik dalam karyanya. Meskipun tumbuh dalam lingkungan konservatif, kecintaan Yayoi pada seni sudah tampak sejak usia dini, meski mendapat sedikit dukungan dari anggota keluarga.
Kariernya dimulai di Jepang, namun pada 1957 ia pindah ke New York untuk bergabung dengan gerakan avant‑garde. Di sana, ia memperkenalkan “Infinity Nets”—kanvas besar yang dipenuhi ribuan titik—serta instalasi Infinity Mirror Rooms yang memukau pengunjung dengan ilusi tak berujung. Selama tahun 1960-an, karya‑karyanya juga menyentuh isu seksualitas dan penolakan terhadap Perang Vietnam, menegaskan posisi politiknya dalam seni.
Setelah lebih dari satu dekade di Amerika, Yayoi kembali ke Jepang pada 1973. Pada 1977, ia secara sukarela masuk ke rumah sakit psikiatri di Tokyo, tempat ia terus berkarya sambil mengelola studio di sekitarnya. Pengalaman halusinasi visual sejak kecil—pola titik, cahaya, dan bentuk organik—menjadi sumber inspirasi utama, menjadikan motif polkadot, labu, dan cermin sebagai ciri khasnya.
Pengakuan internasional kembali menguat pada akhir 1980-an, terutama setelah partisipasinya di Venice Biennale 1993. Sejak itu, retrospektif di museum‑museum terkemuka di Eropa, Asia, dan Amerika Utara memperkuat reputasinya. Penghargaan bergengsi seperti Praemium Imperiale (2006) dan Order of Culture (2016) menegaskan kontribusinya terhadap kebudayaan dunia.
- 1965: Kolaborasi pertama dengan merek fashion, menandai pergeseran seni ke ranah komersial.
- 2017: Pembukaan Yayoi Kusama Museum di Tokyo, menjadi destinasi wajib bagi pecinta seni.
- 2020‑2022: Kolaborasi dengan Louis Vuitton, memperluas jangkauan visual polkadot ke industri mode.
Pameran terakhirnya, “All the Eternal Love I Have for the Pumpkins”, dipamerkan di Cincinnati Art Museum hingga 18 Oktober 2026. Instalasi ini menampilkan labu berwarna kuning berukuran berbeda, dihiasi titik hitam, serta dikelilingi cermin, mencerminkan tema tak terhingga dan repetisi obsesif yang menjadi identitas Yayoi Kusama.
Kepergian Yayoi Kusama tidak hanya menutup babak hidup seorang seniman, tetapi juga meninggalkan warisan budaya yang terus menginspirasi generasi seniman di seluruh dunia. Karya‑karyanya tetap menjadi referensi utama dalam diskusi tentang hubungan antara kesehatan mental, kreativitas, dan ekspresi visual.

