analitik

Muktamar NU 2026 di Jombang: 3.000 Mushaf, Drone, dan Pertaruhan Kepemimpinan Baru

Ule.co.id – Muktamar nu 2026 digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, menandai pertemuan lima tahunan Nahdlatul Ulama yang kali ini diperkaya dengan 3.000 mushaf Al-Qur’an, pertunjukan drone spektakuler, serta agenda evaluasi kepemimpinan organisasi. Acara dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto pada Kamis, 27 Agustus 2026, menyatukan tokoh agama, politik, dan generasi muda dalam satu panggung.

Lokasi pemilihan, pesantren yang bersejarah itu, memiliki ikatan kuat dengan KH Wahab Hasbullah, salah satu pionir berdirinya NU. Pemilihan tempat ini menegaskan bahwa muktamar tidak sekadar rapat formal, melainkan sebuah ritual yang menghubungkan masa lalu dengan tantangan masa depan. Gus A’am Wahib Wahab, salah satu tokoh senior, menilai bahwa perpaduan tradisi pesantren, jejak sejarah, dan teknologi modern memberikan karakter yang berbeda dibandingkan muktamar sebelumnya.

Baca juga:
Sikap Indonesia dalam Konflik Global Berdasar UUD 1945

Rangkaian acara dimulai dengan pembagian ribuan mushaf kepada para delegasi, sebuah simbol kebersamaan dalam membaca Al-Qur’an. Selanjutnya, tim drone menampilkan formasi cahaya yang membentuk nama tokoh penting NU, menambah nuansa futuristik pada suasana religius. Pertunjukan ini menjadi sorotan media sosial dan menegaskan bahwa organisasi keagamaan dapat memanfaatkan inovasi tanpa mengorbankan nilai tradisional.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato yang menekankan peran historis Nahdlatul Ulama dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia menyinggung lagu “Ya Lal Wathon” yang diciptakan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah, menegaskan bahwa semangat patriotisme NU telah ada jauh sebelum proklamasi. “Ini kehormatan besar bagi saya. Nahdlatul Ulama adalah institusi yang bersejarah, yang sangat besar jasanya dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia,” ujar Prabowo di depan ribuan hadirin.

Di samping sorotan budaya, muktamar nu 2026 juga menjadi arena evaluasi kritis atas lima tahun terakhir organisasi. Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhaimin Iskandar, menyoroti kerusakan ukhuwah Nahdliyah yang terjadi dan menekankan pentingnya tidak mengulangi kesalahan masa lalu. “Kegagalan lima tahun terakhir harus menjadi evaluasi karena muktamar itu forum evaluasi,” ujarnya, menekankan kebutuhan akan kemandirian dan kekuatan sosial‑ekonomi NU.

Agenda utama muktamar kali ini adalah penentuan calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk periode berikutnya. Beberapa nama yang muncul dalam bursa calon antara lain:

  • KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng
  • Zulfa Mustofa, Wakil Ketua Umum PBNU
  • Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang
  • Abdussalam Shohib (Gus Salam), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar
  • Menteri Agama Nasaruddin Umar
  • Imam Jazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon
  • KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)
  • Gus Yahya Cholil Staquf, petahana ketum PBNU

Prof. Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, menilai bahwa sosok ideal harus mampu mempersatukan organisasi setelah terjadinya perpecahan internal pada beberapa tahun terakhir. “NU adalah organisasi besar bukan hanya di Indonesia, tapi bahkan organisasi Islam terbesar di dunia dari sisi jumlah,” tegasnya.

Baca juga:
Prabowo Berkumpul dengan Pemimpin Kancil, Apa yang Terjadi?

Selain agenda politik, muktamar nu 2026 juga menyentuh isu-isu sosial ekonomi. Delegasi membahas program pemberdayaan ekonomi berbasis koperasi, peningkatan kualitas pendidikan pesantren, serta strategi digitalisasi dakwah. Upaya ini selaras dengan seruan Cak Imin agar NU tidak bergantung pada pihak luar, melainkan mengembangkan sistem mandiri yang berkelanjutan.

Acara berlanjut hingga malam dengan diskusi panel yang melibatkan tokoh-tokoh muda, akademisi, dan aktivis. Diskusi menyoroti peran NU dalam menghadapi tantangan global, termasuk perubahan iklim, digitalisasi, dan pluralisme. Semua pihak sepakat bahwa muktamar nu 2026 bukan sekadar pertemuan formal, melainkan momentum strategis untuk merumuskan visi jangka panjang organisasi.

Dengan kehadiran Presiden, wakil presiden, dan ribuan tokoh NU, muktamar nu 2026 berhasil menampilkan sinergi antara tradisi dan inovasi. Hasilnya diharapkan menjadi landasan kebijakan yang memperkuat peran Nahdlatul Ulama dalam kancah politik, sosial, dan keagamaan Indonesia ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *