analitik

Bencana Banjir Bandang di Nepal: Ribuan Korban, Upaya Pemulihan Rp78 Triliun, dan Tindakan Pemerintah Indonesia

Ule.co.id – Bencana banjir bandang di Nepal menimbulkan krisis kemanusiaan terbesar dalam dekade terakhir, memakan ratusan nyawa dan meninggalkan ribuan orang hilang sejak runtuhnya gletser di perbatasan Nepal‑Tibet pada 26 Agustus 2026.

Menurut laporan resmi otoritas Nepal, aliran air dan material es yang meluncur ke sungai Lende dan Trishuli menyebabkan kenaikan ketinggian air sekitar sembilan meter dalam hitungan menit, memicu banjir bandang yang meluluhlantakkan desa‑desa di distrik Rasuwa, Nuwakot, Dhading, serta daerah perbatasan dengan China.

Baca juga:
Kemlu Belum Ada WNI Terdampak Gempa di Mesir, Kondisi Terkini Dari Kementerian Luar Negeri

Data terkini menunjukkan total korban meninggal mencapai 750 orang, dengan 2.498 orang masih dinyatakan hilang. Rincian angka korban dapat dilihat pada daftar berikut:

  • Korban tewas di Nepal: 734 jiwa
  • Korban tewas di Tibet (China): 16 jiwa
  • Orang hilang di Nepal: 2.426 jiwa
  • Orang hilang di Tibet: 546 jiwa

Angka-angka ini terus berubah seiring dengan penemuan jenazah baru dan konfirmasi identitas korban.

Di antara yang hilang, terdapat lebih dari 540 warga asing, mayoritas peziarah Hindu dari India serta sejumlah wisatawan dari Amerika Serikat, Eropa, dan negara‑negara Asia lainnya. India melaporkan 320 warganya masih belum ditemukan, menjadikannya kelompok warga asing terbesar yang belum teridentifikasi.

Pemerintah Nepal telah meminta bantuan teknis dari India dan China, termasuk tim SAR berpengalaman dalam operasi di terowongan dan zona longsor. China juga mengerahkan pasukan penyelamat serta helikopter untuk mempercepat pencarian di wilayah Gyirong, Tibet.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI melalui juru bicara Yvonne Mewengkang menegaskan bahwa pemantauan terus dilakukan. “Berdasarkan data KBRI Dhaka, terdapat sekitar 45 WNI yang tercatat berada di Nepal, mayoritas di Kathmandu. Hingga kini belum ada laporan WNI terdampak,” ujarnya pada 30 Agustus 2026. Yvonne menambahkan bahwa agen perjalanan diminta segera melaporkan keberadaan WNI kepada KBRI, dan warga Indonesia di daerah perbatasan diimbau meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti arahan otoritas setempat.

Estimasi biaya pemulihan mencapai Rp78 triliun (sekitar US$5 miliar), mencakup rekonstruksi infrastruktur, penguburan jenazah tak dikenal, serta program rehabilitasi ekonomi bagi korban. Nepal telah membuka permohonan bantuan internasional, dan sejumlah negara serta organisasi kemanusiaan telah menyatakan kesediaan untuk berkontribusi.

Operasi pencarian masih berlangsung meski cuaca mulai membaik. Tim SAR menggunakan helikopter, drone, dan tim darat untuk menyisir wilayah yang masih terendam. Pemerintah Nepal menekankan bahwa upaya identifikasi jenazah dan penyaluran bantuan darurat menjadi prioritas utama hingga semua korban terlokalisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *