Lonjakan ISPA Kalteng: 77.760 Kasus Januari‑Agustus 2026, Ancaman Asap Karhutla bagi Anak dan Lansia
Ule.co.id – ISPA di Kalteng Tercatat 77 760 Kasus sejak Januari hingga Agustus 2026, mencerminkan beban kesehatan yang semakin berat akibat kabut asap karhutla yang melanda wilayah ini. Angka tersebut menandai peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, terutama pada dua bulan terakhir ketika kualitas udara menurun drastis.
Kabut asap yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan masih menyelimuti sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah. Partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida mengkontaminasi udara, menciptakan kondisi tidak sehat hingga buruk. Dampaknya terasa jelas pada data kesehatan: lebih dari 77 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dilaporkan di seluruh kabupaten dan kota Kalteng.
Data terperinci menunjukkan konsentrasi kasus tertinggi berada di Kota Palangka Raya dengan 17.061 kasus, diikuti Kotawaringin Barat (13.125 kasus), Kapuas (8.578 kasus), dan Kotawaringin Timur (8.462 kasus). Kabupaten Murung Raya mencatat 3.713 kasus, sementara daerah lain seperti Barito Selatan, Barito Timur, dan Barito Utara masing-masing melaporkan lebih dari lima ribu kasus. Berikut tabel ringkasnya:
| Kabupaten/Kota | Kasus ISPA |
|---|---|
| Palangka Raya | 17.061 |
| Kotawaringin Barat | 13.125 |
| Kapuas | 8.578 |
| Kotawaringin Timur | 8.462 |
| Barito Selatan | 5.751 |
| Barito Timur | 5.636 |
| Barito Utara | 5.335 |
| Murung Raya | 3.713 |
| Gunung Mas | 2.539 |
| Lamandau | 2.378 |
| Katingan | 1.845 |
| Seruyan | 1.410 |
| Pulang Pisau | 1.286 |
| Sukamara | 641 |
Lonjakan kasus tidak hanya bersifat statistik. Pada Agustus, seorang anak berusia 11 tahun di Murung Raya meninggal setelah mengalami sesak napas yang semakin parah. Anak tersebut memiliki riwayat penyakit kronis, dan kondisinya memburuk secara dramatis ketika kabut asap mencapai level tidak sehat hingga buruk. Keluarga sempat membawanya ke rumah sakit setempat, namun upaya penyelamatan tidak berhasil.
Pihak Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah (Dinkes Kalteng) melalui Plh Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Yaesarwawan, menyatakan bahwa penyelidikan epidemiologis masih berlangsung untuk memastikan korelasi antara paparan asap dan kematian tersebut. “Kalau ada korelasi antara kematian karena dampak asap karhutla, masih dalam pengkajian. Namun pendugaan sementara berdasarkan surveilans epidemiologi menunjukkan adanya kaitan,” ujar Yaesarwawan pada Jumat (4/9/2026). Meskipun belum ada konfirmasi definitif, indikasi awal menegaskan bahwa ISPA Kalteng dipengaruhi oleh kualitas udara yang memburuk.
Polutan yang terkandung dalam asap karhutla, seperti PM2,5, CO, NO₂, dan SO₂, dapat memicu atau memperparah kondisi pernapasan, termasuk asma, pneumonia, dan iritasi mata. Kelompok rentan—anak-anak, lansia, serta penderita penyakit penyerta—menjadi yang paling terdampak. Pada bulan Agustus, indeks kualitas udara di beberapa wilayah, termasuk Mura, berada pada kategori buruk, meningkatkan risiko komplikasi serius bagi populasi yang sudah lemah.
Secara keseluruhan, ISPA di Kalteng Tercatat 77 760 Kasus menjadi alarm kesehatan publik yang tidak dapat diabaikan. Pemerintah daerah dan lembaga kesehatan terus berupaya meningkatkan pemantauan kualitas udara, memperkuat layanan medis di wilayah terdampak, serta melakukan edukasi kepada masyarakat tentang langkah pencegahan. Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan juga menjadi prioritas untuk mengurangi sumber polusi dan melindungi kesehatan jangka panjang warga Kalimantan Tengah.

