Fabio Grosso Dipecat dari Fiorentina: Awal Musim Buruk dan Langkah Selanjutnya Klub Italia
Ule.co.id – Fabio Grosso resmi kehilangan jabatan pelatih kepala ACF Fiorentina setelah hanya tiga pertandingan di Serie A yang berujung pada tiga kekalahan beruntun dan nol poin. Keputusan klub diambil pada malam hari Minggu, menjelang jam 23.30, menandai eselon pertama di musim 2026/27 yang berujung pada pemecatan seorang mantan pahlawan dunia.
Awal musim bagi Viola dimulai dengan catatan yang mengerikan: 4-0 melawan Roma di laga pembuka, diikuti 3-0 oleh tim yang baru dipromosikan, Frosinone, dan berlanjut dengan kekalahan tipis 2-1 atas Torino di kandang Stadio Artemio Franchi. Total gol yang kebobolan mencapai sembilan, sementara hanya satu gol yang berhasil diciptakan. Kegagalan tersebut memicu kekecewaan mendalam di antara suporter, media, dan jajaran manajemen klub.
Komunikasi resmi Fiorentina menyatakan bahwa “Fabio Grosso telah diberhentikan dari tugasnya sebagai pelatih tim utama”. Pernyataan singkat ini mengakhiri masa jabatan sang mantan pemain yang pernah mengeksekusi penalti penentu kemenangan Italia di Piala Dunia 2006. Sebelumnya, Grosso telah menandatangani kontrak hingga Juni 2028, namun hasil buruk dalam tiga pertemuan pertama membuatnya kehilangan kepercayaan penuh.
Ketegangan antara Grosso dan sejumlah tokoh internal klub juga menjadi faktor yang mempercepat keputusan. Hubungan dengan Direktur Olahraga, Leonardo Paratici, sempat menegang setelah pernyataan Grosso mengenai pemain bintang Kean, yang menyatakan “Jika saya memilikinya, saya akan memanfaatkannya”. Sikap tersebut tidak disukai manajemen, menambah tekanan pada posisi sang pelatih.
Para pendukung Fiorentina mengekspresikan rasa frustrasi mereka di media sosial, menyoroti senyum canggung Grosso setelah pertandingan yang menambah ketegangan. Beberapa bahkan menuntut pengunduran diri, namun pada akhirnya klub memutuskan untuk mengakhiri kontrak secara sepihak.
Sementara itu, spekulasi mengenai pengganti Grosso terus beredar. Nama Paolo Vanoli muncul sebagai kandidat terkuat, mengingat ia sebelumnya pernah memimpin tim pada masa transisi sebelum Grosso mengambil alih. Vanoli, yang pernah melatih tim pada musim 2025/26, dikabarkan masih dalam pembicaraan intensif dengan manajemen. Alternatif lain yang disebutkan meliputi Thiago Motta dan Raffaele Palladino, namun Vanoli tetap menjadi pilihan utama.
Penggantian pelatih di tengah musim menuntut penyesuaian taktik yang cepat. Jika Vanoli kembali ke bangku kepelatihan, ia diharapkan dapat mengembalikan semangat kompetitif tim, terutama menjelang pertandingan melawan Venezia yang dijadwalkan pada Jumat mendatang. Tantangan utama adalah memperbaiki pertahanan yang rapuh serta meningkatkan efektivitas serangan yang selama ini minim.
Selain persoalan taktis, keputusan ini juga memengaruhi dinamika transfer. Pada awal musim, Fiorentina menghabiskan sekitar 150 juta euro untuk memperkuat skuad, termasuk pemain seperti Christ Oulaï, Arthur Atta, dan Mateo Pellegrino. Namun, kebijakan transfer tersebut belum menghasilkan hasil yang diharapkan, menambah beban pada Grosso.
Keputusan pemecatan ini juga menyoroti tekanan tinggi yang dihadapi pelatih dalam sepak bola Italia, khususnya di klub-klub dengan tradisi kuat seperti Fiorentina. Seorang mantan pemain internasional sekaligus pelatih kini harus menghadapi realitas bahwa prestasi masa lalu tidak menjamin keberlangsungan di dunia manajerial.
Fiorentina kini berada di zona degradasi, menempati posisi terendah klasemen Serie A setelah tiga pertandingan. Dengan hanya satu poin yang diraih, klub harus segera bangkit untuk menghindari perangkap zona bawah yang dapat berujung pada relegasi. Manajemen menegaskan bahwa pencarian pengganti akan selesai secepatnya, dengan harapan tim dapat kembali kompetitif dalam beberapa pekan ke depan.
Para analis sepak bola menilai bahwa keputusan ini, meski drastis, mungkin diperlukan untuk menghentikan kemerosotan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa pergantian pelatih tidak selalu menjamin perbaikan instan, terutama jika masalah struktural tim masih belum terselesaikan.
Sejumlah pemain senior, termasuk Donyell Malen, diharapkan dapat memimpin tim di lapangan sambil menunggu arahan baru dari pelatih pengganti. Sementara itu, para pendukung tetap menantikan klarifikasi resmi mengenai siapa yang akan mengambil alih kepelatihan, serta strategi apa yang akan diterapkan untuk mengubah nasib tim dalam sisa musim.

