analitik

Prestasi Brunei, Penurunan Finlandia, dan Dampak AI: Analisis Komprehensif Hasil PISA 2025

Ule.co.id – Pada gelombang terbaru Programme for International Student Assessment (pisa) 2025, Brunei berhasil menembus tiga besar negara ASEAN dalam matematika dan sains, serta menempati posisi kedua dalam membaca, menandai kemajuan signifikan bagi sistem pendidikan negara kecil ini.

Lebih dari 5.000 pelajar Brunei yang berasal dari 55 sekolah menengah, baik di bawah Kementerian Pendidikan maupun Kementerian Agama, berpartisipasi dalam penilaian yang dilaksanakan antara April dan Mei 2025. Hasil tersebut mencerminkan kebijakan pendidikan yang berorientasi pada inovasi dan dedikasi, sekaligus mendekatkan Brunei pada visi 2035 yang menekankan kualitas sumber daya manusia.

Baca juga:
Kasus Dugaan Bullying di SMA Negeri 1 Palangka Raya Berujung Pemukulan, Orang Tua Lapor Polda Kalteng

Di tingkat regional, Singapura tetap memimpin dengan skor 560 di sains, 563 di matematika, dan 535 di membaca, sementara Vietnam berada di urutan kedua dengan 457 di sains dan 443 di matematika. Keberhasilan Brunei menambah dinamika kompetisi pendidikan di Asia Tenggara.

Sementara itu, Finlandia, yang selama dua dekade terakhir dikenal sebagai model pendidikan dunia, menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam tiga domain utama. Pada PISA 2025, siswa Finlandia mencatat 504 poin di sains, 469 di matematika, dan 474 di membaca, masih di atas rata-rata OECD (482, 463, 461 masing-masing) namun jauh dari puncak 2006 ketika skor sains mencapai 563 poin.

Penurunan tersebut terlihat jelas dalam data historis: 563 (2006), 554 (2009), 545 (2012), 531 (2015), 522 (2018), 511 (2022), dan kini 504 (2025). Meskipun Finlandia masih unggul dibandingkan rata-rata OECD, selisih keunggulan telah menyusut, menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas model tradisional di era digital.

Di Australia, laporan PISA mengonfirmasi kelanjutan penurunan skor membaca dan matematika selama 20 tahun terakhir, dengan hasil sains yang stagnan. Penurunan ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor internal sekolah; faktor eksternal seperti peningkatan waktu layar, menurunnya kebiasaan membaca untuk hiburan, serta penggunaan AI secara berlebihan menjadi sorotan utama.

Studi terbaru OECD mengungkap bahwa penggunaan AI oleh siswa memiliki efek beragam. Siswa yang menggunakan AI secara moderat—sekali sebulan hingga dua kali seminggu—justru menunjukkan skor sains yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hampir tidak menggunakan atau menggunakan AI setiap hari. Penggunaan AI untuk merangkum bacaan atau melakukan riset awal terbukti memberikan manfaat belajar yang signifikan.

Namun, penggunaan AI secara intensif atau sangat jarang justru berhubungan dengan penurunan performa. Penelitian menegaskan bahwa AI dapat menjadi alat pendukung bila dipakai secara terarah, namun dapat menjadi distraksi bila tidak diatur.

Di Skotlandia, perdebatan politik mengenai reformasi pendidikan semakin memanas. Mantan Menteri Pendidikan Inggris, Michael Gove, menawarkan bantuan kepada pemerintah SNP untuk memperbaiki sekolah Skotlandia, mengkritik apa yang ia sebut sebagai “fads ideologis” dan disiplin kelas yang menurun. Meskipun Menteri Pendidikan Skotlandia, Màiri McAllan, tidak menolak tawaran tersebut secara tegas, ia menegaskan bahwa prioritas utama tetap pada kebijakan internal.

Baca juga:
BGN Luncurkan Situs Radar MBG, Masyarakat Bisa Awasi Dapur SPPG-Cek Menu

Situasi ini mencerminkan tantangan global: bagaimana menyeimbangkan kebijakan tradisional dengan inovasi teknologi, serta mengatasi kesenjangan prestasi yang semakin melebar. Negara-negara dengan hasil PISA tinggi, seperti Singapura, terus berinvestasi pada pendekatan pembelajaran yang berbasis data dan pelatihan guru yang intensif.

Di Brunei, keberhasilan terbaru dipandang sebagai bukti bahwa strategi pendidikan yang terintegrasi—menggabungkan kurikulum akademik dengan nilai-nilai keagamaan—dapat menghasilkan hasil yang kompetitif. Pemerintah menekankan pentingnya pelatihan guru, peningkatan fasilitas, serta program pembelajaran berbasis teknologi yang terkontrol.

Finlandia, di sisi lain, sedang mengevaluasi kembali model pembelajaran yang menekankan kebebasan belajar dan sedikitnya tes standar. Pemerintah Finlandia berencana memperkuat kurikulum STEM dan menambah pelatihan digital bagi guru guna menanggapi dinamika global.

Australia berupaya mengatasi penurunan nilai dengan program remedial dan peningkatan literasi digital. Pemerintah federal mengalokasikan dana tambahan untuk program AI literacy, memastikan siswa dapat memanfaatkan teknologi secara kritis dan produktif.

Sementara itu, OECD menekankan pentingnya kebijakan yang menyeimbangkan penggunaan AI dengan pengembangan keterampilan berpikir kritis. Rekomendasi mencakup pelatihan guru dalam integrasi AI, serta pengembangan kerangka kerja etika penggunaan teknologi di kelas.

Secara keseluruhan, hasil PISA 2025 menyoroti keberhasilan Brunei sebagai contoh positif, penurunan Finlandia sebagai peringatan, serta tantangan global yang dihadapi Australia dan Skotlandia dalam era digital. Kebijakan pendidikan yang responsif, berbasis data, dan adaptif terhadap teknologi akan menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas belajar di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *