analitik

MRT Jakarta Perluas Jejak, TOD Baru, dan Kolaborasi Internasional di Tengah Kebijakan Ganjil Genap

Ule.co.id – MRT Jakarta terus menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan, dengan rencana ekspansi jalur timur‑barat serta pengembangan tujuh proyek Transit Oriented Development (TOD) yang menargetkan kawasan berkelanjutan. Upaya ini diperkuat oleh kerja sama internasional, termasuk kunjungan pejabat tinggi Oriental Consultants Global (OC Global) yang menegaskan komitmen pada proyek‑proyek kereta api di ibu kota.

Pertemuan pada 28 Agustus 2026 antara Eiji Yonezawa, Presiden OC Global, dan Deputi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Ronny Hutahayan menyoroti keberhasilan supervisi konstruksi fase pertama jalur Utara‑Selatan MRT Jakarta. Menteri memuji kualitas kerja OC Global dan menantikan kontribusi mereka pada jalur Timur‑Barat serta perpanjangan jalur Utara‑Selatan yang sedang direncanakan.

Baca juga:
MRT Jakarta: Progres Bundaran HI-Kota capai 63%, siapkan rute timur-barat

Sejalan dengan mandat Gubernur DKI Jakarta, PT MRT Jakarta (Perseroda) mengumumkan tujuh proyek TOD di enam lokasi strategis: Kali Besar Heritage, XGL Mixed‑Use, Ultimate Development Blok M, Lebak Bulus Park and Ride, Thamrin Asset Development, Extended Concourse Bundaran HI, dan Dukuh Atas Pedestrian Deck. Proyek‑proyek ini tidak hanya menambah fasilitas transit, tetapi juga mengintegrasikan properti komersial, ruang publik, dan jalur pejalan kaki untuk menciptakan lingkungan yang ramah pengguna.

Berikut rangkaian proyek TOD yang sedang dipersiapkan:

  • Kali Besar Heritage – revitalisasi kawasan bersejarah dengan akses langsung ke stasiun MRT.
  • XGL Mixed‑Use – pengembangan gedung serbaguna di sekitar stasiun Asean.
  • Ultimate Development Blok M – integrasi komersial dan hunian di wilayah pusat bisnis.
  • Lebak Bulus Park and Ride – fasilitas parkir terpadu dengan koneksi ke jaringan bus dan MRT.
  • Thamrin Asset Development – pengembangan area komersial di jalur utama Thamrin.
  • Extended Concourse Bundaran HI – perluasan koridor pejalan kaki di kawasan ikon kota.
  • Dukuh Atas Pedestrian Deck – jembatan penyeberangan multiguna menghubungkan LRT, MRT, dan KRL.

Pengembangan TOD ini diharapkan meningkatkan nilai properti, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan memperkuat jaringan transportasi publik. Pemerintah menegaskan dukungan kebijakan, termasuk kelanjutan skema ganjil‑genap yang kembali diberlakukan pada 14‑15 September 2026 untuk mengurangi kemacetan pada jam‑jam puncak.

Skema ganjil‑genap, yang melarang kendaraan dengan nomor plat tertentu melintas pada jam tertentu, telah terbukti menurunkan kepadatan lalu lintas, terutama di ruas‑ruas utama. Pemerintah kota terus mendorong penggunaan MRT Jakarta, LRT, KRL, serta layanan Transjakarta sebagai alternatif utama. Bagi pemilik kendaraan dengan plat genap, penggunaan transportasi umum menjadi pilihan yang disarankan pada hari ganjil, dan sebaliknya.

Baca juga:
Pramono Beberkan Proyek LRT dan MRT Jakarta Hingga 2029, Meningkatkan Konektivitas Ibu Kota

Sementara itu, warga Jakarta Utara melaporkan kebakaran lahan di kawasan Kampung Bandan, Ancol, yang diduga disebabkan puntung rokok. Insiden tersebut menambah tantangan bagi otoritas dalam menjaga keamanan lingkungan, terutama di area dekat infrastruktur transportasi.

Di sisi sosial, Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) dan PMI Jakarta Barat menyalurkan bantuan logistik kepada korban kebakaran di Jalan Jelambar Utama. Upaya bantuan ini mencerminkan koordinasi lintas sektor yang juga diperlukan dalam pengembangan infrastruktur besar seperti MRT Jakarta.

Dengan dukungan pemerintah, sektor swasta, dan partisipasi masyarakat, MRT Jakarta berada pada jalur pertumbuhan yang signifikan. Proyek‑proyek TOD dan kolaborasi internasional tidak hanya memperluas jaringan kereta, tetapi juga menyiapkan kota untuk masa depan yang lebih hijau, terhubung, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *