Celtic Terpuruk: O’Neill Hadapi Tekanan, Baur Kontroversi, dan Penurunan Koefisien UEFA
Ule.co.id – Celtic kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian hasil mengecewakan yang menimbulkan pertanyaan serius tentang masa depan klub. Di tengah tekanan, mantan pelatih sekaligus legenda klub, Martin O’Neill, menegaskan bahwa prestasi masa lalu tidak melindungi dia dari kritik saat ini.
O’Neill, yang kembali ke Parkhead pada musim lalu dan berhasil mengantarkan Celtic meraih double liga dan piala, kini harus menghadapi kegagalan di beberapa laga penting. Kekalahan dramatis melawan LASK Linz pada babak play‑off Liga Champions, diikuti dengan kekalahan telak atas Rangers di Premier Sports Cup, menambah beban di pundaknya. Pada hari Kamis, timnya hanya mampu menahan kemenangan tipis Ferencvaros 3‑1 di Liga Europa, menegaskan penurunan performa yang signifikan.
“Saya tidak pernah berpikir seperti itu,” ujar O’Neill dalam konferensi pers, menambahkan bahwa “Anda hanya sebaik pertandingan terakhir Anda pada akhirnya.” Pernyataan tersebut mencerminkan kesadaran dirinya bahwa keberhasilan masa lalu tidak menjamin kelangsungan prestasi di masa kini.
Sementara itu, kontroversi lain melibatkan gelandang muda Celtic, Mika Baur, yang pada pertandingan melawan Rangers melakukan tantangan keras terhadap striker Rangers, Ryan Naderi. Baur menabrak pergelangan kaki Naderi dengan stud mengarah ke depan, memicu perdebatan tentang kemungkinan sanksi retroaktif.
Mark Clattenburg, mantan wasit FIFA dan Premier League, memberikan penilaiannya bahwa Baur memang melakukan pelanggaran, namun tidak cukup berat untuk dikenakan larangan bermain. “Tidak ada preseden untuk melarang pemain dalam situasi ini,” kata Clattenburg. Ia menilai bahwa kartu kuning atau merah sudah cukup, namun keputusan resmi tidak akan diubah karena VAR telah menilai insiden tersebut selama pertandingan.
Perspektif resmi dari Scottish FA juga menegaskan bahwa mereka tidak berniat melakukan peninjauan ulang, mengingat keputusan wasit sudah dianggap final dan tidak memengaruhi hasil akhir pertandingan.
Di luar isu internal, Celtic juga menghadapi masalah struktural dalam kompetisi Eropa. Klub telah turun ke peringkat 56 pada tabel koefisien UEFA, jauh di bawah posisi historisnya. Sekitar 19 bulan lalu, Celtic hampir menyingkirkan Bayern Munich di fase grup Champions League, namun serangkaian kekalahan melawan LASK dan Ferencvaros menurunkan peringkat mereka secara signifikan.
Jika hasil pada musim 2024/25 diabaikan, posisi Celtic dapat meluncur ke sekitar peringkat 80, menandakan penurunan drastis dalam lima tahun terakhir. Jadwal Liga Europa berikutnya meliputi laga tandang melawan Benfica dan laga kandang melawan Celta Vigo, yang diperkirakan akan menambah tekanan pada peringkat koefisien klub.
Penurunan koefisien tidak hanya berdampak pada peringkat klub, tetapi juga pada alokasi tempat masuk kompetisi Eropa bagi tim Skotlandia. Selama dua musim terakhir, juara Skotlandia mendapatkan tiket langsung ke fase grup Champions League, sementara runner‑up harus melalui babak kualifikasi. Penurunan posisi Celtic dapat mengancam hak istimewa tersebut di musim mendatang.
Para pengamat menilai bahwa kombinasi antara kegagalan taktis, kontroversi pemain, dan penurunan koefisien UEFA menempatkan Celtic pada titik kritis. Dukungan dari suporter tetap ada, namun harapan akan perbaikan cepat menjadi semakin menuntut.
Di sisi lain, Rangers, yang berhasil mengalahkan Celtic 3‑0 di Ibrox, terus berupaya memperkuat posisi mereka di liga domestik. Pelatih Derek McInnes menyatakan bahwa diskusi dengan kepala ofisial wasit, Willie Collum, mengenai tantangan Baur menunjukkan betapa pentingnya keputusan wasit dalam menentukan dinamika pertandingan.
Dengan tekanan yang terus meningkat, O’Neill menyatakan bahwa timnya akan fokus pada perbaikan performa di setiap pertandingan mendatang, termasuk laga penting melawan Benfica dan Celta Vigo. Namun, pertanyaan besar tetap: apakah Celtic dapat mengembalikan kejayaannya sebelum musim berakhir?

