Rusia Nilai Gagasan Dialog Stabilitas Strategis AS Tidak Realistis Jelang Konferensi Tinjauan NPT

MOSKOW, Ule.co.id – Rusia melontarkan kritik tajam terhadap gagasan Amerika Serikat (AS) terkait kelanjutan dialog stabilitas strategis, menjelang Konferensi Tinjauan ke-11 Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) yang akan digelar di New York.

Duta Besar untuk Tugas Khusus Kementerian Luar Negeri Rusia sekaligus kepala delegasi Rusia untuk konferensi tersebut, Andrey Belousov, menilai pendekatan Washington masih jauh dari konkret dan belum layak untuk ditindaklanjuti dalam bentuk negosiasi.

“Pada saat ini, gagasan Amerika dirumuskan secara tidak realistis dan masih sangat kabur dalam rinciannya,” ujar Belousov dalam wawancara dengan kantor berita RIA Novosti.

Rusia Belum Siap Bernegosiasi

Belousov menegaskan bahwa hingga saat ini Moskow belum mengambil keputusan untuk memulai kembali dialog dengan Washington terkait stabilitas strategis, terutama yang menyangkut pengendalian senjata nuklir.

Menurutnya, terdapat sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan. Salah satu yang utama adalah normalisasi hubungan bilateral yang saat ini masih berada dalam tensi tinggi.

Selain itu, Rusia juga menuntut penyelesaian berbagai kontradiksi mendasar di bidang keamanan internasional yang dinilai menjadi penghambat utama dialog.

Dengan kata lain, bagi Moskow, pembahasan teknis soal nuklir tidak bisa dipisahkan dari dinamika geopolitik yang lebih luas.

Kritik atas Pendekatan Multilateral AS

Rusia juga menyoroti dorongan Amerika Serikat untuk menggelar negosiasi pengendalian senjata nuklir secara multilateral yang melibatkan China.

Belousov menilai pendekatan tersebut problematik, mengingat China secara konsisten menolak untuk terlibat dalam kerangka pembicaraan semacam itu.

“Washington secara ketat mengaitkan kerja sama ini dengan keterlibatan wajib China, padahal sikap penolakan Beijing sudah diketahui,” katanya.

Di sisi lain, Rusia mempertanyakan sikap AS yang tidak memasukkan Inggris dan Prancis dalam skema negosiasi tersebut. Padahal, kedua negara tersebut merupakan kekuatan nuklir yang diakui dan memiliki relevansi strategis bagi keseimbangan global.

Bagi Moskow, absennya dua negara tersebut justru mengurangi kredibilitas gagasan yang diusung Washington.

Konteks Konferensi Tinjauan NPT

Pernyataan Rusia ini muncul menjelang Konferensi Tinjauan NPT yang akan berlangsung pada 27 April hingga 22 Mei 2026 di New York. Forum ini menjadi ajang penting bagi negara-negara anggota untuk mengevaluasi implementasi perjanjian serta memperkuat komitmen terhadap pengendalian senjata nuklir.

NPT sendiri merupakan perjanjian internasional yang telah menjadi pilar utama arsitektur keamanan global sejak berlaku pada 1970.

Perjanjian ini memiliki tiga pilar utama. Pertama, non-proliferasi, yakni mencegah penyebaran senjata nuklir ke negara-negara yang belum memilikinya. Kedua, perlucutan senjata, yang mewajibkan negara pemilik nuklir untuk secara bertahap mengurangi arsenal mereka. Ketiga, penggunaan damai energi nuklir, yang memberikan hak kepada negara anggota untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk kepentingan sipil.

Hingga kini, hampir seluruh negara di dunia telah menjadi pihak dalam NPT, menjadikannya salah satu perjanjian internasional dengan partisipasi paling luas.

Lima Negara Nuklir dan Peran IAEA

NPT secara resmi mengakui lima negara sebagai pemilik senjata nuklir, yaitu Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, dan Prancis. Status ini diberikan karena kelima negara tersebut telah melakukan uji coba senjata nuklir sebelum tahun 1967.

Untuk memastikan kepatuhan terhadap perjanjian, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) berperan sebagai lembaga verifikasi. IAEA bertugas mengawasi agar penggunaan bahan nuklir tetap berada dalam koridor damai dan tidak dialihkan untuk kepentingan militer.

Posisi Indonesia

Indonesia termasuk negara yang aktif mendukung penguatan rezim non-proliferasi global. Sebagai negara pihak NPT, Indonesia secara konsisten mendorong perlucutan senjata nuklir dan penggunaan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Di berbagai forum internasional, Indonesia juga kerap menekankan pentingnya komitmen negara-negara pemilik senjata nuklir untuk memenuhi kewajiban mereka dalam mengurangi arsenal secara transparan dan terukur.

Dinamika Global yang Menguji NPT

Ketegangan antara Rusia dan Amerika Serikat menjadi salah satu faktor yang membayangi efektivitas NPT ke depan. Minimnya kepercayaan dan meningkatnya rivalitas geopolitik berpotensi menghambat kemajuan dalam isu pengendalian senjata.

Situasi ini menempatkan Konferensi Tinjauan NPT 2026 dalam posisi krusial. Alih-alih sekadar forum evaluasi, pertemuan ini menjadi ujian nyata bagi komitmen global dalam menjaga stabilitas strategis dan mencegah perlombaan senjata nuklir baru.

Jika dialog tetap buntu, dunia berisiko memasuki fase baru ketidakpastian nuklir—sebuah skenario yang, ironisnya, justru ingin dicegah sejak NPT pertama kali diteken lebih dari setengah abad lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *