Saudi Uji “Lampu Cerdas” di Jalur Haji, Targetkan Keselamatan dan Kenyamanan Jamaah
MAKKAH, Ule.co.id – Arab Saudi mulai menguji pendekatan baru dalam manajemen keselamatan lalu lintas selama musim haji dengan meluncurkan sistem pencahayaan canggih bertajuk “darbak noor”. Inisiatif ini dirancang untuk meningkatkan kewaspadaan pengemudi sekaligus memberikan pengalaman berkendara yang lebih aman dan nyaman bagi jutaan jamaah.
Otoritas Jalan Raya Arab Saudi (Roads General Authority/RGA) menjelaskan bahwa teknologi ini dipasang di ruas-ruas strategis menuju kawasan suci, terutama jalur dengan intensitas lalu lintas tinggi. Program ini juga menjadi bagian dari upaya modernisasi infrastruktur transportasi yang selaras dengan target besar Saudi Vision 2030.
“Program ini menghadirkan dimensi visual baru dalam pengalaman berkendara,” demikian pernyataan RGA.
Secara teknis, sistem “darbak noor” memadukan teknologi laser dan pencahayaan tenaga surya. Sebanyak 16 perangkat laser dipasang untuk memproyeksikan cahaya berwarna di atas permukaan jalan hingga jarak mencapai 2 kilometer. Selain itu, terdapat 1.110 penanda jalan berbasis energi surya yang berfungsi sebagai panduan visual tambahan bagi pengemudi.
Pendekatan ini bukan sekadar estetika. RGA menekankan bahwa pencahayaan adaptif tersebut dirancang untuk mengurangi kelelahan visual, meminimalkan risiko kantuk saat berkendara, serta menjaga fokus pengemudi—faktor krusial dalam perjalanan jarak jauh yang kerap ditempuh jamaah selama musim haji.
Fase awal implementasi difokuskan pada Jalan Hijrah yang menghubungkan Makkah dan Madinah. Jalur ini dikenal sebagai salah satu koridor tersibuk, terutama saat puncak pergerakan jamaah. Pemilihan lokasi dilakukan melalui parameter teknis dan operasional yang ketat untuk memastikan efektivitas sistem.
Meski begitu, RGA mengakui bahwa proyek ini masih berada pada tahap uji coba. Evaluasi akan dilakukan secara komprehensif sebelum diperluas ke jaringan jalan lainnya di Arab Saudi.
Dari perspektif kebijakan, langkah ini memperlihatkan bagaimana teknologi mulai diintegrasikan ke dalam manajemen mobilitas berbasis keselamatan. Saudi tidak hanya mengejar kapasitas—yang tercermin dari target 30 juta jamaah umrah pada 2030—tetapi juga kualitas pengalaman dan mitigasi risiko di lapangan.
Lebih jauh, sistem ini juga berkontribusi pada aspek tata kota. Pencahayaan dinamis yang diproyeksikan di jalur masuk Makkah memberikan sentuhan visual yang memperkuat identitas kawasan, sekaligus meningkatkan estetika infrastruktur.
RGA berharap hasil uji coba ini dapat berdampak langsung pada peningkatan indikator keselamatan lalu lintas. Jika terbukti efektif, “darbak noor” berpotensi menjadi model baru dalam rekayasa jalan berbasis teknologi—bukan hanya untuk Arab Saudi, tetapi juga sebagai referensi global dalam pengelolaan mobilitas massal berbasis keagamaan.
Dengan tekanan mobilitas ekstrem yang terjadi setiap musim haji, eksperimen seperti ini bukan sekadar inovasi, melainkan kebutuhan. Pertanyaannya kini bukan apakah teknologi semacam ini diperlukan, tetapi seberapa cepat ia bisa diadopsi secara luas dan terukur.

