Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp17.503 per Dolar AS, Dipicu Memanasnya Selat Hormuz
PALANGKA RAYA, ULE.CO.ID – Nilai tukar rupiah hari ini kembali berada di zona merah setelah perdagangan Selasa siang menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hingga pukul 11.47 WIB, rupiah tercatat melemah 89 poin atau 0,51 persen menjadi Rp17.503 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar rupiah hari ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.
Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, situasi di Selat Hormuz masih memanas meskipun sebelumnya Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut konflik telah berakhir.
“Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump,” ujar Ibrahim dalam rekaman suara di Jakarta, Selasa.
Konflik Selat Hormuz Tekan Pasar Global
Nilai tukar rupiah hari ini ikut tertekan setelah Amerika Serikat dilaporkan menolak proposal perdamaian yang diajukan Iran. Penolakan tersebut memicu kembali serangan kecil antar kapal di kawasan Selat Hormuz.
Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar global memilih aset aman seperti dolar AS. Akibatnya, indeks dolar mengalami penguatan cukup tajam.
Kondisi ini berdampak langsung terhadap pergerakan nilai tukar rupiah hari ini yang terus mengalami tekanan sepanjang perdagangan.
Uni Emirat Arab Disebut Ikut Terlibat
Ibrahim juga mengungkap adanya keterlibatan Uni Emirat Arab (UEA) dalam konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Menurut dia, UEA disebut melakukan serangan terhadap kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. Meski tidak banyak terekspos secara internasional, eskalasi konflik dinilai semakin memperburuk sentimen pasar.
“Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan walaupun tidak di-expose secara internasional,” katanya.
Situasi tersebut membuat investor global semakin khawatir terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Dampaknya, nilai tukar rupiah hari ini kembali bergerak melemah.
Harga Minyak Dunia Ikut Melonjak
Selain menekan pasar keuangan, konflik di Timur Tengah juga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.
Harga minyak Brent mengalami penguatan seiring kekhawatiran terganggunya distribusi minyak melalui Selat Hormuz.
Sebagai salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia, Selat Hormuz memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas harga energi global.
Ketika ketegangan meningkat, negara-negara importir energi seperti Indonesia ikut terdampak. Faktor ini menjadi salah satu penyebab nilai tukar rupiah hari ini turun ke level Rp17.503 per dolar AS.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Cukup Kuat
Dari sisi domestik, Indonesia sebenarnya mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen.
Namun, menurut Ibrahim, capaian tersebut belum cukup kuat untuk menopang penguatan rupiah di tengah tekanan global.
Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi masih lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah, sementara investasi belum menunjukkan peningkatan signifikan.
“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 persen di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah terutama Selat Hormuz ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.
Karena itu, nilai tukar rupiah hari ini tetap berada dalam tekanan meski data ekonomi domestik relatif positif.
Ancaman PHK Perbesar Tekanan Rupiah
Selain faktor global, pasar juga menyoroti kondisi ketenagakerjaan nasional yang dinilai belum stabil.
Selama Januari hingga April 2026, sekitar 40 ribu pekerja sektor padat karya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Industri yang terdampak antara lain manufaktur tekstil, garmen, dan elektronik.
Ibrahim memprediksi angka PHK masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang apabila kondisi ekonomi global belum membaik.
Sentimen negatif tersebut ikut memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah hari ini di pasar keuangan.
Dominasi Pekerja Informal Jadi Sorotan
Masalah lain yang menjadi perhatian adalah tingginya jumlah pekerja informal di Indonesia.
Data menunjukkan sebanyak 87,74 juta masyarakat Indonesia bekerja di sektor informal, lebih tinggi dibandingkan pekerja formal.
Kondisi tersebut dinilai membuat daya tahan ekonomi nasional menjadi lebih rentan ketika terjadi tekanan global.
Ketidakpastian ekonomi domestik membuat investor cenderung berhati-hati sehingga nilai tukar rupiah hari ini sulit bergerak menguat.
Pasar Tunggu Keputusan MSCI
Pelaku pasar juga tengah menunggu keputusan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Lembaga tersebut dikabarkan berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia dalam indeks global.
Jika hal itu terjadi, maka arus modal asing keluar dari Indonesia bisa semakin besar dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Kondisi ini membuat nilai tukar rupiah hari ini masih dibayangi sentimen negatif dari pasar global maupun domestik.
Rupiah Diperkirakan Belum Lewati Rp17.550
Meski mengalami pelemahan, Ibrahim memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak dalam rentang terbatas.
Ia memprediksi rupiah tidak akan melewati level Rp17.550 per dolar AS dalam waktu dekat.
Namun, arah pergerakan rupiah tetap sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta pergerakan harga minyak dunia.
Jika ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat, maka tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Sebaliknya, apabila situasi mulai mereda dan pasar kembali stabil, peluang penguatan nilai tukar rupiah hari ini maupun dalam beberapa hari mendatang masih terbuka.

