Pemalsuan Identitas Makin Canggih, HID Dorong Penerbitan Identitas Digital yang Lebih Aman
Ule.co.id – Penerbitan identitas digital menjadi sorotan di tengah meningkatnya ancaman pemalsuan identitas dan serangan siber yang semakin kompleks. Perusahaan solusi keamanan identitas, HID, menilai sistem yang selama ini digunakan banyak organisasi perlu mengalami transformasi menyeluruh agar mampu menjawab tantangan era digital.
Menurut HID, proses penerbitan identitas digital tidak lagi dapat dipandang sekadar sebagai tahapan mencetak kartu identitas atau menerbitkan kredensial bagi pengguna. Di era layanan digital yang saling terhubung, sistem tersebut harus menjadi bagian dari infrastruktur keamanan yang dirancang secara terintegrasi, mulai dari proses pendaftaran hingga pengelolaan identitas sepanjang siklus penggunaannya.
Pernyataan tersebut muncul seiring semakin masifnya implementasi program identitas nasional maupun layanan identitas digital oleh pemerintah dan sektor swasta di berbagai negara, khususnya di kawasan Asia Pasifik.
Keamanan Menjadi Fondasi Kepercayaan
Regional Director FARGO Asia Pacific HID, Lee Wei Jin, mengatakan bahwa keamanan merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan terhadap sistem identitas modern.
Menurutnya, penerbitan identitas digital harus mampu menjawab tiga kebutuhan utama, yaitu mendukung implementasi dalam skala besar, memberikan perlindungan keamanan yang kuat, serta mampu mengelola siklus hidup identitas secara dinamis.
Ketiga aspek tersebut menjadi penentu apakah sebuah identitas dapat dipercaya oleh berbagai pihak atau justru membuka peluang terjadinya penyalahgunaan.
“Sebagus apa pun proses pendaftaran dan verifikasi dilakukan, kepercayaan terhadap sistem tetap dapat runtuh apabila kredensial yang diterbitkan masih mudah dipalsukan atau dimodifikasi,” jelas Lee Wei Jin.
Karena itu, keamanan tidak boleh hanya diterapkan pada tahap akhir, tetapi harus menjadi bagian dari keseluruhan proses.
Pendekatan Secure-by-Design Dinilai Semakin Penting
HID mendorong organisasi untuk menerapkan konsep secure-by-design dalam proses penerbitan identitas digital.
Pendekatan ini mengintegrasikan perangkat keras, perangkat lunak, serta sistem kriptografi ke dalam satu arsitektur keamanan yang dirancang sejak awal pengembangan.
Dengan model tersebut, perlindungan tidak hanya diberikan pada hasil akhir berupa kartu identitas atau kredensial digital, tetapi juga mencakup seluruh proses pengelolaan data.
Integrasi antarsistem dinilai mampu mengurangi risiko manipulasi data maupun penyalahgunaan identitas yang dapat terjadi pada setiap tahapan penerbitan.
Celah Keamanan Justru Banyak Terjadi di Proses Transisi
Berdasarkan analisis industri yang dikutip HID, berbagai insiden keamanan tidak selalu berasal dari sistem utama.
Sebaliknya, banyak celah muncul ketika data berpindah dari satu proses ke proses lainnya.
Misalnya, perpindahan informasi dari proses pendaftaran manual menuju sistem personalisasi kartu atau kredensial digital sering kali menjadi titik rawan yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Kondisi tersebut diperparah apabila organisasi masih menggunakan sistem lama yang belum terintegrasi.
Akibatnya, proses penerbitan identitas digital menjadi lebih rentan terhadap manipulasi data maupun kebocoran informasi sensitif.
Infrastruktur Lama Dinilai Menjadi Tantangan
HID juga menyoroti masih banyaknya organisasi yang bergantung pada infrastruktur lama.
Sistem yang dibangun bertahun-tahun lalu umumnya belum dirancang untuk menghadapi ancaman keamanan digital modern.
Ketika sistem lama dipadukan dengan layanan digital baru tanpa pembaruan menyeluruh, risiko keamanan pun meningkat.
Selain menghambat efisiensi operasional, kondisi tersebut juga dapat memperbesar peluang terjadinya pemalsuan identitas.
Karena itu, modernisasi penerbitan identitas digital dinilai menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
Sejumlah Kelemahan Masih Sering Ditemukan
HID mengidentifikasi beberapa kelemahan yang masih kerap ditemukan dalam implementasi sistem identitas saat ini.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Pengelolaan blank credential atau bahan baku kartu identitas yang belum optimal.
- Perlindungan kunci kriptografi yang masih lemah.
- Minimnya pemantauan aktivitas secara real-time.
- Proses audit yang belum menyeluruh.
- Pengendalian akses yang belum menerapkan prinsip hak akses minimum.
Kelemahan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan manipulasi maupun penyalahgunaan kredensial.
Kontrol Akses dan Audit Menjadi Prioritas
Untuk memperkuat penerbitan identitas digital, HID merekomendasikan penerapan kontrol akses berbasis peran atau role-based access control.
Melalui pendekatan ini, setiap pengguna hanya memperoleh hak akses sesuai tugas dan tanggung jawabnya.
Selain itu, organisasi juga perlu menerapkan audit trail yang mampu mencatat seluruh aktivitas selama proses penerbitan berlangsung.
Jejak audit tersebut memudahkan proses investigasi apabila ditemukan aktivitas yang mencurigakan sekaligus meningkatkan transparansi dalam pengelolaan identitas.
Era Identitas Hybrid Semakin Dekat
Selain keamanan, HID juga menilai dunia sedang memasuki era identitas hybrid.
Dalam model ini, kartu fisik masih tetap digunakan, namun secara bertahap akan berdampingan dengan berbagai bentuk identitas digital.
Contohnya meliputi:
- Digital wallet.
- Identitas berbasis smartphone.
- Kredensial digital.
- Platform identitas berbasis cloud.
Perkembangan tersebut membuat penerbitan identitas digital tidak lagi hanya berfokus pada kartu fisik.
Penyedia layanan kini harus memastikan kredensial digital memiliki tingkat keamanan yang sama, bahkan lebih tinggi, dibandingkan identitas konvensional.
Di sisi lain, pengalaman pengguna juga harus tetap sederhana agar teknologi baru mudah diadopsi masyarakat.
Standar Global Dibutuhkan
HID juga menilai pentingnya penggunaan standar internasional dalam sistem identitas.
Saat ini setiap negara masih memiliki kerangka kerja yang berbeda sehingga proses verifikasi identitas lintas negara sering menghadapi kendala.
Dengan standar yang lebih seragam, penerbitan identitas digital akan mampu mendukung ekosistem identitas global yang lebih aman.
Pendekatan tersebut memungkinkan seseorang menggunakan identitas digital yang diakui di berbagai yurisdiksi tanpa mengurangi aspek keamanan maupun privasi.
Model seperti ini dinilai akan menjadi kebutuhan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan berkembangnya layanan digital lintas negara.
Fleksibilitas Menjadi Kunci Infrastruktur Masa Depan
Menurut HID, infrastruktur identitas masa depan juga harus memiliki fleksibilitas tinggi.
Sistem perlu dirancang agar mampu mengadopsi teknologi baru tanpa harus membangun ulang seluruh platform yang telah berjalan.
Kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting mengingat perkembangan teknologi keamanan berlangsung sangat cepat.
Organisasi yang memiliki sistem fleksibel akan lebih mudah mengintegrasikan inovasi seperti autentikasi berbasis biometrik, kecerdasan buatan, hingga metode kriptografi generasi terbaru.
Keamanan Identitas Bukan Lagi Sekadar Urusan TI
HID menegaskan bahwa penerbitan identitas digital kini telah berkembang menjadi bagian dari strategi organisasi, bukan sekadar fungsi teknis divisi teknologi informasi.
Sistem identitas yang aman berperan penting dalam mendukung akses ke berbagai layanan, mulai dari administrasi pemerintahan, sektor keuangan, layanan kesehatan, pendidikan, hingga transaksi digital.
Di tengah meningkatnya ancaman siber dan berkembangnya ekosistem layanan digital, organisasi dituntut membangun sistem identitas yang aman sejak tahap perancangan.
Melalui pendekatan secure-by-design, kontrol akses yang ketat, perlindungan kriptografi, serta integrasi menyeluruh, penerbitan identitas digital diharapkan mampu menghadirkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi sekaligus mengurangi risiko pemalsuan identitas di masa mendatang.

