Data Center dari Smartphone Bekas: Peneliti Google dan UCSD Sulap Ponsel Pixel Lawas Jadi Server Berbiaya Murah
Ule.co.id – Data Center dari Smartphone Bekas menjadi inovasi terbaru yang dikembangkan oleh para peneliti dari University of California San Diego (UCSD) bersama Google Research. Alih-alih membiarkan ribuan smartphone lama berakhir sebagai limbah elektronik, tim peneliti berhasil menyulap perangkat tersebut menjadi pusat komputasi berbiaya rendah yang mampu menjalankan berbagai aplikasi layaknya server konvensional.
Riset ini membuka peluang baru dalam pemanfaatan perangkat elektronik yang sudah tidak lagi digunakan. Selain membantu mengurangi limbah elektronik global, konsep Data Center dari Smartphone Bekas juga dinilai mampu menghadirkan solusi komputasi yang lebih hemat biaya bagi universitas, lembaga pendidikan, hingga organisasi kecil yang memiliki keterbatasan anggaran.
Google dan UCSD Beri Kehidupan Kedua bagi Smartphone Lama
Dalam penelitian yang dikutip dari Tom’s Hardware, Sabtu (27/6/2026), Google Research menjelaskan bahwa smartphone yang sudah tidak lagi dipakai masih menyimpan nilai yang besar dari sisi perangkat keras.
Setiap smartphone menyimpan apa yang disebut sebagai embodied carbon, yaitu emisi karbon yang telah dihasilkan selama proses produksi perangkat tersebut. Ketika sebuah ponsel dibuang hanya karena pengguna beralih ke model yang lebih baru, seluruh jejak karbon dari proses produksinya menjadi sia-sia.
Melihat kondisi tersebut, para peneliti mengembangkan konsep Data Center dari Smartphone Bekas sebagai salah satu cara memperpanjang umur perangkat elektronik sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Dengan memanfaatkan motherboard dan prosesor yang masih berfungsi optimal, smartphone lawas dapat memperoleh “kehidupan kedua” sebagai platform komputasi yang mampu melayani berbagai kebutuhan digital.
Smartphone Tiga Tahun Masih Punya Performa Tinggi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa smartphone yang dirilis sekitar tiga tahun lalu ternyata masih memiliki performa yang sangat kompetitif.
Dalam pengujian berbasis benchmark SPEC, performa inti prosesor (single-core) smartphone bekas bahkan mampu melampaui beberapa prosesor server yang digunakan pada sistem kelas enterprise.
Walaupun dari sisi performa keseluruhan server modern masih jauh lebih unggul karena memiliki jumlah inti prosesor yang lebih banyak, kemampuan setiap inti prosesor smartphone tetap dinilai sangat memadai untuk menangani berbagai beban kerja tertentu.
Temuan inilah yang menjadi dasar pengembangan Data Center dari Smartphone Bekas.
Para peneliti menilai bahwa ribuan smartphone lama sebenarnya masih memiliki daya komputasi yang sangat layak dimanfaatkan daripada hanya menjadi limbah elektronik.
Hanya Motherboard yang Dipertahankan
Untuk mengubah smartphone menjadi server mini, para peneliti melakukan modifikasi perangkat secara menyeluruh.
Berbagai komponen yang tidak lagi dibutuhkan dilepas, antara lain:
- layar
- baterai
- kamera
- speaker
- casing perangkat
Satu-satunya bagian yang tetap dipertahankan adalah motherboard.
Di dalam motherboard terdapat System-on-Chip (SoC), memori, serta berbagai komponen utama yang menjalankan proses komputasi.
Pendekatan ini membuat perangkat menjadi jauh lebih ringkas sekaligus mengurangi konsumsi daya.
Android Diganti Linux
Langkah berikutnya adalah mengganti sistem operasi Android.
Karena Android dirancang untuk kebutuhan smartphone, sistem operasi tersebut dianggap kurang efisien apabila digunakan sebagai server.
Sebagai gantinya, peneliti memasang distribusi Linux yang umum dipakai pada pusat data profesional.
Penggunaan Linux memberikan sejumlah keuntungan, antara lain:
- menghilangkan aplikasi bawaan yang tidak diperlukan,
- mendukung perangkat lunak orkestrasi,
- memudahkan pengelolaan banyak perangkat sekaligus,
- meningkatkan efisiensi sumber daya.
Dengan konfigurasi tersebut, seluruh smartphone dapat bekerja sebagai satu klaster komputasi.
Puluhan Smartphone Bisa Menyaingi Server
Salah satu hasil penelitian yang paling menarik adalah kemampuan klaster smartphone dalam menjalankan beban komputasi.
Berdasarkan pengujian, sekitar 25 hingga 50 smartphone bekas mampu menghasilkan daya komputasi yang setara dengan satu prosesor server dual-socket.
Artinya, performa yang biasanya membutuhkan server mahal kini dapat dicapai menggunakan kumpulan smartphone yang sudah tidak terpakai.
Konsep Data Center dari Smartphone Bekas ini menunjukkan bahwa perangkat konsumen ternyata masih memiliki potensi besar untuk kebutuhan komputasi modern.
Mampu Melayani Puluhan Mahasiswa
UCSD juga menguji implementasi nyata dari sistem tersebut.
Dalam salah satu eksperimen, klaster berisi sekitar 20 smartphone berhasil menjalankan aplikasi pembelajaran yang digunakan oleh lebih dari 75 mahasiswa secara bersamaan.
Artinya, universitas tidak perlu selalu bergantung pada layanan cloud komersial untuk menyediakan layanan komputasi.
Selain mengurangi biaya operasional, pendekatan ini juga membuat data tetap berada di lingkungan kampus sehingga lebih mudah dikelola.
Target Bangun Pusat Data Berisi 2.000 Smartphone
Ke depan, tim peneliti memiliki target yang jauh lebih ambisius.
Mereka berencana membangun Data Center dari Smartphone Bekas menggunakan sekitar 2.000 unit smartphone.
Apabila berhasil direalisasikan, pusat data tersebut diperkirakan mampu melayani sekitar 100 kelas secara bersamaan.
Skala ini dinilai sudah cukup besar untuk memenuhi berbagai kebutuhan komputasi institusi pendidikan.
Selain itu, seluruh perangkat keras dapat dimiliki sendiri sehingga tidak perlu terus-menerus menyewa layanan cloud.
Biaya Jauh Lebih Rendah
Salah satu daya tarik utama proyek ini adalah efisiensi biaya.
Menurut tim peneliti, pembangunan Data Center dari Smartphone Bekas hanya membutuhkan sebagian kecil biaya dibandingkan pembangunan pusat data tradisional.
Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah kenaikan harga berbagai komponen semikonduktor, termasuk:
- chip memori,
- media penyimpanan,
- prosesor server,
- GPU untuk kecerdasan buatan.
Dengan memanfaatkan smartphone bekas yang jumlahnya sangat melimpah, investasi awal dapat ditekan secara signifikan.
Ramah Lingkungan dan Kurangi Limbah Elektronik
Selain menghemat biaya, proyek ini juga memiliki manfaat besar bagi lingkungan.
Limbah elektronik terus meningkat setiap tahun karena jutaan pengguna mengganti smartphone secara berkala.
Padahal sebagian besar perangkat lama masih dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan komputasi.
Melalui konsep Data Center dari Smartphone Bekas, umur perangkat dapat diperpanjang sehingga jumlah limbah elektronik yang berakhir di tempat pembuangan dapat dikurangi.
Pendekatan ini sekaligus membantu memaksimalkan manfaat dari emisi karbon yang telah dikeluarkan selama proses produksi smartphone.
Belum Akan Menggantikan Data Center Raksasa
Meski hasil penelitian sangat menjanjikan, para peneliti mengakui bahwa teknologi ini belum dirancang untuk menggantikan pusat data berskala besar.
Operator cloud global seperti Google Cloud, Microsoft Azure, maupun Amazon Web Services tetap membutuhkan server khusus dengan tingkat keandalan tinggi.
Server enterprise memiliki:
- kapasitas memori jauh lebih besar,
- sistem pendinginan profesional,
- jaringan berkecepatan tinggi,
- jumlah komponen yang lebih sedikit sehingga lebih mudah dirawat.
Karena itu, Data Center dari Smartphone Bekas lebih cocok digunakan pada lingkungan dengan kebutuhan komputasi menengah.
Solusi Ideal untuk Kampus dan Organisasi Kecil
Peneliti menilai konsep ini sangat sesuai diterapkan di:
- universitas,
- sekolah,
- laboratorium penelitian,
- organisasi nirlaba,
- lembaga pendidikan,
- komunitas teknologi.
Institusi tersebut sering kali membutuhkan kapasitas komputasi yang cukup besar tetapi memiliki keterbatasan dana untuk membeli server baru.
Dengan memanfaatkan smartphone bekas, mereka tetap dapat membangun infrastruktur komputasi yang memadai dengan biaya jauh lebih rendah.
Bukan Penelitian Pertama
Konsep memanfaatkan smartphone bekas sebagai server sebenarnya bukan hal baru.
Pada tahun sebelumnya, kelompok peneliti lain juga berhasil mengembangkan pusat data mini menggunakan empat smartphone bekas.
Sistem tersebut digunakan untuk menjalankan perangkat pemantauan bawah laut.
Keberhasilan berbagai penelitian tersebut menunjukkan bahwa SoC smartphone lama masih memiliki kemampuan yang sangat layak untuk berbagai aplikasi komputasi modern.
NASA Pernah Memanfaatkan Chip Smartphone
Pendekatan serupa bahkan pernah diterapkan oleh NASA.
Lembaga antariksa Amerika Serikat itu menggunakan Qualcomm Snapdragon 801, chipset kelas menengah yang diperkenalkan pada 2014, sebagai bagian dari sistem navigasi helikopter Mars Ingenuity.
Chip tersebut membantu rover Perseverance melakukan navigasi di permukaan Planet Merah dengan fungsi yang menyerupai prosesor pada sistem GPS sederhana.
Keberhasilan NASA menjadi bukti bahwa perangkat keras smartphone tidak selalu kehilangan manfaat hanya karena usianya sudah tua.
Prospek Pengembangan ke Depan
Tim UCSD menargetkan sistem ini dapat diluncurkan secara penuh pada akhir tahun.
Selanjutnya, mereka akan menguji ketahanan komponen smartphone ketika dioperasikan secara terus-menerus sebagai bagian dari pusat data.
Jika hasilnya sesuai harapan, Data Center dari Smartphone Bekas berpotensi menjadi solusi alternatif yang murah, ramah lingkungan, dan mudah diterapkan di berbagai institusi pendidikan maupun organisasi berskala kecil. Inovasi ini menunjukkan bahwa smartphone yang telah pensiun masih dapat memberikan nilai ekonomi dan manfaat komputasi yang signifikan, sekaligus mendukung upaya pengurangan limbah elektronik di tengah meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital.

