Api Menghanguskan 129 Rumah Tradisional: Desa Adat Sade Lombok Terbakar pada Sabtu Malam
Ule.co.id – Desa Adat Sade Lombok terbakar pada Sabtu malam, ilalang dan bangunan bambu ludes dilahap api [titlebase] menimbulkan kepanikan di kalangan warga Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Kebakaran yang mulai berkobar sekitar pukul 22.00 WIB itu meluluhlantakkan 129 rumah tradisional serta merusak fasilitas umum, meninggalkan lebih dari 320 jiwa tanpa tempat tinggal.
Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Lombok Tengah, Supardan, tim pemadam bersama TNI-Polri segera dikerahkan untuk memadamkan api. “Tim sudah kita turunkan,” ujarnya dalam keterangan kepada media setempat. Upaya pemadaman terhambat oleh bahan bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu, bambu, dan atap ilalang, sehingga api menyebar dengan cepat.
Sejumlah saksi mata melaporkan bahwa api muncul secara tiba-tiba, namun penyebab pastinya masih dalam penyelidikan. Supardan menegaskan bahwa penyebab kebakaran belum dapat dipastikan secara pasti, sementara pihak berwenang terus mengumpulkan bukti dari lokasi.
Desa Adat Sade, yang dikenal sebagai destinasi budaya ikonik Lombok, memiliki rumah tradisional “bale” dengan rangka kayu, dinding bambu, dan atap alang‑alang. Selain rumah tinggal, terdapat berugak (bangunan panggung terbuka) serta ruang tenun tradisional yang menjadi magnet wisatawan domestik dan mancanegara. Keunikan arsitektur ini kini menjadi korban kebakaran, menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara pelestarian budaya dan keselamatan.
Dalam hitungan menit, api melahap 89 bangunan utama, termasuk rumah tinggal, masjid, museum budaya, dan lapak UMKM. Kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, namun pemerintah menegaskan tidak ada korban jiwa. Warga yang terdampak dievakuasi ke posko sementara yang dibangun di Balai Koperasi Desa Merah Putih, sementara bantuan logistik disalurkan melalui tim relawan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, turun ke lokasi pada Minggu pagi untuk meninjau kerusakan dan menyerahkan bantuan tunai senilai Rp200 juta serta 100 paket sembako. “Saya sudah berkoordinasi agar revitalisasi pembangunan di Desa Adat Sade dapat segera dilakukan,” ujar Sari dalam pernyataannya. Kepala Desa Rambitan, Lalu Winakse, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan moral dan materiil, menambahkan bahwa semangat gotong‑royong warga semakin menguat dalam proses pemulihan.
Para ahli kebencanaan menyoroti bahaya penggunaan atap ilalang dalam konteks perubahan iklim dan peningkatan suhu. “Material tradisional memang memiliki nilai budaya, namun sangat rentan terhadap api,” kata Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri, dalam rapat koordinasi. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mengevaluasi standar bangunan tradisional, mempertimbangkan penggunaan material yang lebih tahan api tanpa menghilangkan estetika budaya.
Upaya rekonstruksi sudah direncanakan, dengan target membangun kembali rumah adat secara bertahap. Pemerintah Provinsi NTB berjanji akan menyediakan dana khusus untuk rehabilitasi, sekaligus melibatkan arsitek lokal dalam perancangan ulang yang mengedepankan keselamatan. Sementara itu, para pengrajin tenun tetap melanjutkan produksi, berharap pasar wisatawan dapat kembali pulih setelah musim liburan.
Desa Adat Sade Lombok terbakar pada Sabtu malam, ilalang dan bangunan bambu ludes dilahap api [titlebase] menjadi pelajaran penting bagi seluruh wilayah wisata budaya di Indonesia. Kejadian ini memicu diskusi nasional tentang perlindungan warisan budaya yang berkelanjutan, mengingat ancaman kebakaran dapat menghapus jejak sejarah dalam sekejap.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta, proses pemulihan diharapkan tidak hanya mengembalikan struktur fisik, tetapi juga menghidupkan kembali tradisi yang menjadi identitas Suku Sasak. Pemerintah menargetkan penyediaan kebutuhan dasar selama tiga hari pertama, diikuti dengan program rehabilitasi jangka panjang yang melibatkan pelatihan keamanan kebakaran bagi penduduk desa.

