analitik

Sumur Bor Kameloh: TNI Pasang 40 Unit untuk Cegah Kebakaran Gambut di Kalteng

Ule.co.idGambut Mengering Api Mengintai TNI Pasang 40 Sumur Bor di Kameloh dan Perbatasan Pulang Pisau menjadi sorotan utama setelah personel Kodam XXII/Tambun Bungai menurunkan 40 sumur bor di wilayah rawan kebakaran, termasuk Kelurahan Kameloh, Kota Palangka Raya, serta perbatasan Kabupaten Pulang Pisau. Langkah ini diharapkan dapat menahan laju kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap melanda daerah gambut selama musim kemarau panjang.

Penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah semakin intensif seiring dengan kondisi iklim yang semakin kering. Pemerintah pusat telah menyalurkan sarana dan prasarana (sarpras) berupa sumur bor serta dukungan helikopter water bombing untuk memperkuat kapasitas pemadaman di lapangan. Upaya ini dipercepat setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Palangka Raya, yang menekankan pentingnya memperluas jaringan sumber air di area gambut.

Baca juga:
Ilmuwan AS Perdana Gunakan AI untuk Rancang Virus Baru, Apa yang Diharapkan?

Setelah pertemuan tersebut, Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin langsung menginstruksikan pasukannya untuk memperkuat penanganan karhutla, termasuk pemasangan sumur bor di titik-titik kritis. Dandim 1016/Palangka Raya Kolonel Inf Kurniawan Agung Sancoyo melaporkan bahwa hingga 27 Agustus 2026, sebanyak 40 sumur bor telah terpasang, mulai dari Kameloh Baru hingga perbatasan Pulang Pisau.

Setiap sumur bor diperkirakan dapat menyediakan air cukup untuk membasahi lahan gambut seluas 100 meter persegi selama lebih dari tiga jam. Dengan demikian, Sumur Bor Kameloh menjadi aset strategis yang dapat menurunkan suhu tanah, mengurangi risiko percikan api, serta memperlambat penyebaran titik api yang muncul secara sporadis.

  • Lokasi pemasangan: Kameloh Baru, Kameloh Lama, dan area perbatasan Pulang Pisau.
  • Jumlah sumur: 40 unit, masing-masing dengan kedalaman mencapai 30 meter.
  • Kapasitas air: rata-rata 1.200 liter per jam per sumur.

“Keberadaan sumur bor ini memberikan kami sumber air yang stabil, terutama di daerah yang selama ini sulit diakses karena kondisi tanah yang sangat keras,” ujar Kolonel Kurniawan. “Dengan satu sumur, kami dapat mengendalikan area seluas 100 meter persegi selama tiga jam, yang sangat membantu dalam operasi pemadaman darat.”

Implementasi sumur bor di wilayah rawan karhutla ini menjadi bagian penting dari strategi komprehensif yang mencakup tiga pilar: peningkatan infrastruktur air, penambahan personel TNI, dan operasi aerial water bombing. Kombinasi tersebut diharapkan dapat menurunkan angka kejadian kebakaran serta mengurangi dampak asap yang mengganggu kesehatan masyarakat di sekitar Palangka Raya.

Baca juga:
Karhutla Meningkat: PT Globalindo Alam Perkasa Perkuat Upaya Pemadaman dan Edukasi Pencegahan

Kondisi musim kemarau yang berkepanjangan menambah tantangan bagi tim pemadam. Sumber air alami semakin menipis, sehingga sumur bor menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan. Selain itu, penurunan muka tanah gambut yang mengering meningkatkan risiko kebakaran spontan, sehingga penanggulangan harus bersifat preventif dan responsif secara bersamaan.

Ke depan, TNI berencana menambah jumlah sumur bor di area lain yang belum terjangkau, termasuk wilayah pedalaman Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Barito Selatan. Pemerintah daerah juga diminta untuk berkoordinasi dalam perawatan sumur, memastikan pompa tetap berfungsi optimal, serta melakukan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kelembaban tanah gambut.

Dengan langkah konkret seperti pemasangan sumur bor, diharapkan Kalteng dapat menurunkan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan serta lahan, melindungi ekosistem gambut yang kaya akan keanekaragaman hayati, sekaligus mengurangi dampak sosial‑ekonomi yang timbul akibat kebakaran dan kabut asap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *