Strategi BI Jaga Rupiah Indonesia di Tengah Gejolak Global, Proyeksi Penguatan Hingga 2027
Ule.co.id – Rupiah Indonesia kembali menjadi sorotan utama setelah mengalami pelemahan di kisaran Rp17.770 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 2 September 2026. Gubernur Bank Indonesia yang baru, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar dan inflasi menjadi prioritas utama dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.
Dalam sebuah wawancara di Headline News Metro TV, Destry menjelaskan bahwa kebijakan moneter akan tetap konsisten dengan kebijakan sebelumnya, namun akan disesuaikan dengan dinamika ekonomi domestik dan eksternal. Koordinasi yang lebih kuat antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk mendukung rencana ekspansi pemerintah tanpa menimbulkan tekanan inflasi.
Data pasar menunjukkan bahwa rupiah Indonesia melemah 0,15 persen atau 26 poin menjadi Rp17.770 per dolar AS, melampaui penutupan sebelumnya di Rp17.744. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengaitkan pelemahan tersebut dengan eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah, serta penguatan indeks dolar AS yang dipicu oleh imbal hasil obligasi Treasury yang naik ke 4,79 persen.
Penguatan dolar AS berdampak langsung pada obligasi pemerintah Indonesia (INDOGB). Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik menjadi 7,06 persen, sementara tenor 2 tahun mencapai 6,71 persen. Jessica Tasijawa dari Mirae Asset Sekuritas menilai koreksi imbal hasil lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal daripada sentimen domestik.
Bank Mandiri memperkirakan rupiah akan berfluktuasi antara Rp17.650‑Rp17.800 dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, Bank Indonesia memproyeksikan penguatan nilai tukar hingga kisaran Rp17.300‑Rp17.800 per dolar AS pada tahun 2027. Proyeksi tersebut didukung oleh lima faktor utama: perbaikan ekonomi global, fundamental ekonomi domestik yang kuat, pelaksanaan kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), kebijakan stabilisasi BI, dan penguatan koordinasi fiskal‑moneter.
Destry menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan mencapai 3,3 persen pada 2027, menurunkan risiko geopolitik dan menarik kembali aliran modal ke pasar emerging. Di dalam negeri, inflasi diproyeksikan tetap berada dalam target 2,5 % ± 1 %, neraca pembayaran tetap sehat, dan imbal hasil investasi tetap kompetitif.
Kebijakan DHE, yang mencakup ekspor satu pintu dan penerapan PP DHE SDA, diharapkan meningkatkan penerimaan devisa serta memperkuat cadangan devisa. BI juga akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing melalui NDF, spot, dan DNDF, serta memanfaatkan instrumen suku bunga dan lindung nilai untuk menahan tekanan nilai tukar.
Selain kebijakan moneter, sektor riil juga menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Operasi Axiata di Indonesia mencatat penurunan kerugian sebesar 61 % kuartal‑kuartal, dari Rp716 juta menjadi Rp282 juta pada kuartal II 2026. Meskipun fokus utama artikel ini tetap pada rupiah Indonesia, perbaikan kinerja korporasi dapat menambah kepercayaan investor terhadap ekonomi nasional.
Berikut rangkuman proyeksi nilai tukar rupiah Indonesia dalam dua tahun ke depan:
| Tahun | Kisaran Rupiah (per USD) |
|---|---|
| 2026 | Rp 17.700‑17.800 |
| 2027 | Rp 17.300‑17.800 |
Secara keseluruhan, rupiah Indonesia berada pada level Rp17.715 per dolar AS pada 31 Agustus 2026, menguat 1,57 % dibandingkan akhir Juli. Dengan kebijakan yang terkoordinasi, dukungan fundamental domestik, dan perbaikan kondisi global, prospek penguatan nilai tukar rupiah di tahun 2027 menjadi lebih optimis.

