analitik

Kementerian Perdagangan Dorong Daya Saing Ekspor lewat PKS KADIN, Cetak Biru SDM, dan Trade CorpU

Ule.co.id – Kementerian perdagangan republik Indonesia kembali menegaskan perannya dalam memperkuat daya saing pelaku usaha nasional melalui serangkaian inisiatif strategis yang meliputi penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN), peluncuran Cetak Biru Pengembangan SDM Perdagangan Menuju Indonesia Emas 2045, serta pendirian Trade Corporate University (Trade CorpU) sebagai ekosistem pembelajaran berkelanjutan bagi aparatur sipil negara (ASN) sektor perdagangan.

Pada Rabu, 2 September 2026, Menteri Perdagangan Budi Santoso bersama Wakil Menteri Dyah Roro Esti Widya Putri menyaksikan penandatanganan PKS yang diratifikasi oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Djatmiko Bris Witjaksono dan Wakil Ketua Umum Koordinator KADIN Indonesia Juan Permata Adoe. Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman yang ditandatangani pada Desember 2025, dan difokuskan pada tiga pilar utama: pengembangan kapasitas pelaku usaha, perluasan akses pasar, serta peningkatan kompetensi ekspor yang berkelanjutan.

Baca juga:
Rincian Harga dan Buyback Emas Antam, UBS, serta Galeri 24 di Pegadaian Selasa 28 Juli 2026

Menurut Puti Reno Ali, Wakil Ketua Umum Daya Saing Ekspor KADIN, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pelatihan yang diberikan, melainkan dari sejauh mana pelaku usaha dapat mengkonversi peluang pasar menjadi transaksi nyata. “Kami menilai hasilnya melalui kesiapan eksportir, pertumbuhan nilai transaksi, serta kemampuan mereka bertahan di pasar global,” ujarnya dalam konferensi pers di Auditorium Utama Kementerian perdagangan republik Indonesia.

Sementara itu, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Rini Widyantini menyoroti pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan cepat dalam perdagangan internasional. Pada acara yang sama, Rini meluncurkan Trade CorpU serta Cetak Biru SDM Perdagangan, menegaskan bahwa tiga kapabilitas strategis—kebijakan dan negosiasi, pengembangan ekspor, serta digital, data, dan kepemimpinan—harus diperkokoh melalui pembelajaran yang terintegrasi dengan pekerjaan sehari-hari ASN.

Trade CorpU bukan sekadar lembaga pelatihan, melainkan ekosistem yang menghubungkan strategi organisasi, pengembangan kompetensi, dan kinerja operasional. Rini menambahkan bahwa mekanisme evaluasi harus meliputi rantai dampak mulai dari proses belajar, peningkatan kapabilitas, kinerja individu, dampak organisasi, hingga nilai publik yang dirasakan oleh masyarakat dan dunia usaha.

Dalam konteks pengembangan SDM, Budi Santoso menguraikan tiga fase transformasi yang termuat dalam Cetak Biru SDM Perdagangan: fase pertama (2026‑2035) fokus pada penguatan fundamental dan ekosistem pembelajaran; fase kedua (2036‑2040) menitikberatkan pada akselerasi daya saing dan inovasi nilai tambah; serta fase ketiga (2041‑2045) menyiapkan kepemimpinan perdagangan global. Delapan agenda strategis, termasuk kerangka kompetensi perdagangan, arsitektur pembelajaran digital, sertifikasi, dan kemitraan inovatif, dirancang untuk memastikan kesinambungan kompetensi ASN hingga mencapai target Indonesia Emas 2045.

Baca juga:
Wakil Kepala IMF Peringatkan Dampak Dolarisasi Mata Uang Digital pada Ekonomi Global

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor Indonesia masih didominasi oleh bahan baku dan barang modal sebesar 91 persen, sementara impor barang konsumsi hanya mencapai 8,43 persen. Menteri Perdagangan Budi Santoso menafsirkan angka tersebut sebagai indikator positif bahwa sektor manufaktur nasional bergerak aktif. “Struktur impor kita 91 persen bahan baku dan barang modal, artinya industri kita berjalan dengan baik,” ujarnya dalam sambutan peluncuran Trade CorpU.

Namun, pemerintah tidak hanya berfokus pada kelancaran pasokan bahan baku. Upaya memperluas akses pasar melalui PKS KADIN diharapkan dapat meningkatkan jumlah eksportir, nilai transaksi, dan keberlanjutan di pasar internasional. Juan Permata Adoe menekankan bahwa hasil nyata—peningkatan jumlah eksportir, pertumbuhan nilai transaksi, dan kemampuan bertahan di pasar global—adalah tolok ukur utama keberhasilan kolaborasi ini.

Secara keseluruhan, sinergi antara KADIN, Kementerian perdagangan republik Indonesia, dan institusi pendidikan serta pelatihan menandai langkah konkret menuju perdagangan yang lebih kompetitif, berkelanjutan, dan berorientasi pada nilai tambah. Dengan fondasi kebijakan yang kuat, kapabilitas SDM yang terasah, serta akses pasar yang lebih luas, Indonesia menyiapkan diri untuk menjadi pemain utama dalam rantai nilai global menjelang 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *