Sekolah Rakyat: Dari Megah ke Transformasi Masa Depan Anak di Kalteng
Ule.co.id – Dalam kunjungan terbaru ke Sekolah Rakyat di Kotawaringin Timur, anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Abdul Hafid, menegaskan bahwa Sekolah Rakyat Jangan Hanya Megah Harus Ubah Masa Depan Anak menjadi landasan utama program pendidikan gratis ini. Ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah institusi tidak hanya diukur dari megahnya bangunan atau kelengkapan fasilitas, melainkan pada dampak nyata yang dirasakan oleh para peserta didik dalam jangka panjang.
Hafid menyoroti peran penting Sekolah Rakyat sebagai jembatan bagi keluarga kurang mampu agar tidak terhalang oleh keterbatasan ekonomi dalam mengakses pendidikan. “Kami berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi solusi konkret bagi kebutuhan pendidikan masyarakat tidak mampu, terutama karena program ini sepenuhnya gratis,” ujarnya pada Selasa, 1 September. Ia menambahkan bahwa tanpa intervensi semacam ini, banyak anak berpotensi kehilangan hak dasar untuk belajar dan mengembangkan potensi mereka.
Sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat memberikan kesempatan bagi pembinaan yang tidak terbatas pada jam pelajaran di kelas. Menurut Hafid, pendekatan holistik ini memungkinkan guru dan wali asuh membimbing siswa dalam kehidupan sehari-hari, memperkuat karakter, kepercayaan diri, serta kemampuan akademik. “Setiap peserta didik memiliki latar belakang, kemampuan, dan pengalaman sosial yang berbeda. Oleh karena itu, pendampingan harus dilakukan secara menyeluruh,” tegasnya. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi Sekolah Rakyat Jangan Hanya Megah Harus Ubah Masa Depan Anak yang menekankan transformasi menyeluruh, bukan sekadar penampilan.
Sejak tahap rintisan pada tahun 2025, Sekolah Rakyat Kotim menampung sekitar 100 peserta didik tingkat SD hingga SMA di eks Asrama Haji Kompleks Islamic Center Sampit. Pada tahun ini, program tersebut dipindahkan ke kompleks baru di kawasan Wengga Metropolitan yang mencakup lahan seluas 67.930 meter persegi. Fasilitas yang lebih luas diharapkan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran serta menyediakan ruang yang lebih kondusif bagi perkembangan sosial dan emosional siswa. Hafid menekankan bahwa keberhasilan tidak dapat diukur hanya dari jumlah siswa atau gedung megah, melainkan dari kemampuan anak-anak untuk tumbuh mandiri, berkarakter, dan berani mengejar cita‑cita.
Penguatan kualitas pendampingan menjadi fokus utama DPRD Kalteng. Anggota komisi tersebut menekankan perlunya sinergi antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menyediakan sarana prasarana yang memadai serta tenaga pendidik yang kompeten. “Jika dibina dengan baik, pendidikan yang setara dapat melahirkan guru, pengusaha, tenaga profesional, bahkan pemimpin masa depan,” ujar Hafid. Pernyataan ini menggambarkan harapan bahwa Sekolah Rakyat Jangan Hanya Megah Harus Ubah Masa Depan Anak tidak hanya menjadi slogan, melainkan realitas yang terwujud melalui kebijakan berkelanjutan.
Ke depan, Sekolah Rakyat diharapkan terus berkembang menjadi model pendidikan inklusif yang dapat direplikasi di wilayah lain. Dengan dukungan anggaran yang tepat, pelatihan guru, serta pemantauan hasil belajar, program ini memiliki potensi untuk mengubah pola pikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi semua lapisan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Abdul Hafid, perubahan yang diharapkan bukan sekadar tampilan fisik, melainkan transformasi hidup anak-anak yang memperoleh kesempatan setara untuk meraih masa depan yang lebih cerah.

