Asap Makin Pekat: 197 Sekolah di Kotim Terapkan Belajar dari Rumah untuk Lindungi Siswa
Ule.co.id – Asap Makin Pekat 197 Sekolah di Kotim Belajar dari Rumah menjadi keputusan penting setelah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mengganggu aktivitas belajar di Kabupaten Kotawaringin Timur. Kondisi udara yang semakin tidak bersahabat memaksa hampir seperempat total satuan pendidikan di wilayah itu untuk beralih ke model pembelajaran jarak jauh.
Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat 197 sekolah yang mengajukan permohonan belajar dari rumah (BDR) kepada Dinas Pendidikan setempat. Jumlah tersebut mencakup semua jenjang, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), hingga sekolah menengah atas (SMA). Dari total 834 satuan pendidikan, keputusan ini menunjukkan respons cepat terhadap ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh kabut asap.
Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, menjelaskan bahwa setiap sekolah menilai kondisi lingkungan mereka secara mandiri. “Keputusan BDR diambil berdasarkan kualitas udara di sekitar sekolah,” ujarnya pada Selasa, 22 September 2026. “Kami tidak memberlakukan kebijakan seragam, melainkan menyerahkan wewenang kepada masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan situasi di lapangan.”
Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan konsentrasi sekolah yang paling tinggi menerapkan BDR. Dari 128 sekolah yang ada, 49 sekolah memilih mengalihkan proses belajar ke rumah. Kecamatan Baamang menempati posisi kedua dengan 43 dari 78 sekolah yang beralih, sementara Kecamatan Kota Besi mencatat 31 sekolah BDR dari total 43 sekolah.
Meski dampak kabut asap terasa luas, tidak semua kecamatan di Kotim menghentikan pembelajaran tatap muka. Dua kecamatan di bagian selatan, Teluk Sampit dan Pulau Hanaut, masih melaksanakan pembelajaran secara langsung di kelas. Hal ini mencerminkan variasi tingkat keparahan asap di tiap wilayah.
Surat Edaran Bupati Kotim tentang adaptasi kegiatan pembelajaran di musim kemarau 2026 menjadi landasan hukum bagi sekolah yang terdampak. Edaran tersebut memberi keleluasaan bagi sekolah untuk memindahkan proses belajar ke rumah dengan memanfaatkan platform digital. Guru dan siswa dapat mengakses materi melalui akun belajar.id, Sistem Informasi Perbukuan Indonesia (SIBI), serta platform pembelajaran lainnya yang mendukung interaksi daring.
Implementasi BDR diharapkan dapat meminimalkan paparan siswa dan tenaga pendidik terhadap partikel berbahaya dalam kabut asap. Pada saat yang sama, proses belajar tetap berjalan tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Dinas Pendidikan menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur digital, termasuk koneksi internet stabil dan perangkat yang memadai, untuk menjamin kelancaran proses belajar dari rumah.
Namun, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah masih mengalami keterbatasan akses internet, terutama di daerah terpencil. Dinas Pendidikan bersama pemerintah daerah berupaya memperluas jaringan broadband dan menyediakan perangkat bagi siswa yang membutuhkan. Upaya ini sejalan dengan program nasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan digital di seluruh Indonesia.
Selain aspek kesehatan, kebijakan BDR juga berdampak pada aspek sosial ekonomi. Orang tua tidak perlu mengantar anak ke sekolah setiap hari, mengurangi beban transportasi dan biaya terkait. Di sisi lain, guru harus menyesuaikan metode pengajaran, mengembangkan materi yang interaktif dan mudah dipahami secara daring.
Para ahli lingkungan menilai bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi menuntut respons cepat dari semua sektor, termasuk pendidikan. “Kabut asap bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga mengganggu proses belajar mengajar. Kebijakan BDR merupakan langkah adaptif yang tepat dalam situasi darurat,” kata Dr. Ahmad Rizal, pakar lingkungan dari Universitas Palangka Raya.
Ke depan, Dinas Pendidikan Kotim berencana melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas BDR. Jika kondisi udara membaik, beberapa sekolah dapat kembali ke pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Namun, jika kabut asap kembali mengancam, kebijakan BDR akan tetap menjadi opsi utama untuk melindungi generasi muda.
Dengan 197 sekolah yang telah beralih ke belajar dari rumah, Kabupaten Kotawaringin Timur menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga keselamatan dan kesehatan siswa di tengah krisis lingkungan. Upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, dan komunitas sekolah menjadi kunci dalam memastikan pendidikan tetap berjalan, meski cuaca tidak bersahabat.

