analitik

Sidang Adat Natasya: Ayah Emosi, Pertanyakan Empati Penyelenggara

Ule.co.id – Ayah Natasya Sempat Emosi di Sidang Adat Pertanyakan Empati Penyelenggara ketika ia menuntut keadilan bagi putrinya yang menjadi korban pelecehan nonverbal saat tampil di panggung amal karhutla. Geget Djili Ngantung, ayah dari vokalis R.A.S.Y.A berusia 19 tahun, mengungkapkan kekecewaan mendalam di hadapan Mantir Adat Kelurahan Menteng Dandan Ardi pada sidang yang digelar di Aula Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, Jumat 25 September 2026.

Geget menyoroti tindakan penyelenggara acara, Hendra, dengan pertanyaan yang bersifat emosional namun relevan: “Jika istri atau keluargamu bernyanyi, apakah kamu rela diperlakukan seperti ini?” Ia menekankan bahwa kejadian tersebut terjadi saat Natasya tampil di sebuah kafe Jalan G Obos pada Minggu 20 September 2026, ketika seorang penonton secara tak terduga mengangkat celana dalam ke depan panggung. Insiden itu kemudian terekam video dan menyebar luas di media sosial, menimbulkan kegelisahan publik.

Baca juga:
Dirut BULOG Doktor UI: Langkah Besar Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
➜

Sidang adat tersebut menjadi arena bagi Geget untuk menuntut pertanggungjawaban. Ia menanyakan mengapa pihak penyelenggara tidak mengambil langkah preventif sejak awal, dan mengapa Hendra tampak pasif menunggu kejadian terjadi. Emosi Geget sempat memuncak sehingga Mantir Adat meminta ia menjauh dari Hendra demi menjaga ketertiban.

Setelah ketegangan mereda, keluarga korban bersama sejumlah saksi membantu menenangkan suasana agar proses sidang dapat berlanjut. Hendra memberikan keterangan di depan Mantir Adat, menjelaskan bahwa ia baru menyadari insiden ketika pelaku membawa celana dalam ke panggung, dan langsung meminta panitia menyingkirkan benda tersebut. Ia menegaskan bahwa penyelenggara tidak membenarkan perilaku tersebut, namun pengawasan menjadi lemah setelah video viral.

Keputusan sidang adat menghasilkan sanksi denda bagi kedua pihak yang terlibat. Hendra dikenakan denda adat sebesar Rp5 juta karena dianggap lalai dalam mengatur keamanan acara, sementara Ain Koto, yang diduga terlibat dalam penyebaran video, dijatuhi denda Rp12,5 juta. Kedua denda tersebut diharapkan menjadi peringatan bagi penyelenggara acara musik di wilayah Kalteng agar lebih berhati-hati dalam menyiapkan protokol keamanan.

Kasus ini menyoroti pentingnya empati dan tanggung jawab sosial dalam penyelenggaraan acara publik. Ayah Natasya Sempat Emosi di Sidang Adat Pertanyakan Empati Penyelenggara, dan hal tersebut menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat Palangka Raya. Banyak yang menilai bahwa penyelenggara harus memiliki standar etika yang jelas, termasuk mekanisme penanganan insiden yang cepat dan transparan.

Para pengamat budaya setempat menambahkan bahwa sidang adat bukan sekadar prosedur hukum formal, melainkan juga sarana penyelesaian konflik yang menghormati nilai-nilai tradisional. Dalam konteks ini, sanksi denda adat mencerminkan upaya komunitas untuk menegakkan keadilan secara kolektif, sekaligus memberi pelajaran bagi pelaku industri hiburan agar lebih sensitif terhadap hak-hak artis dan penonton.

Baca juga:
PSSI Pertimbangkan Timo Scheunemann Jadi Pelatih Timnas Putri Senior, Fokus pada Pengembangan Bakat Muda
➜

Reaksi publik di media sosial beragam. Sebagian mengapresiasi keberanian Geget dalam mengungkapkan rasa sakitnya, sementara yang lain menilai bahwa tindakan emosionalnya dapat memperkeruh proses hukum. Namun, mayoritas setuju bahwa kasus ini membuka ruang diskusi tentang perlindungan artis muda dari pelecehan di panggung, terutama dalam acara amal yang seharusnya bersifat aman dan menyenangkan.

Ke depan, pihak kepolisian setempat berjanji akan menindaklanjuti laporan resmi terkait insiden tersebut. Sementara itu, penyelenggara acara di wilayah Kalteng diharapkan akan meninjau kembali prosedur keamanan, termasuk pelatihan staf dan penegakan aturan berpakaian bagi penonton. Upaya preventif ini diharapkan dapat mencegah terulangnya kasus serupa dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap event-event budaya.

Kasus Ayah Natasya Sempat Emosi di Sidang Adat Pertanyakan Empati Penyelenggara menjadi contoh konkret bagaimana dinamika sosial, budaya, dan hukum dapat bersinggungan dalam menyelesaikan konflik modern. Dengan adanya sanksi adat dan perhatian media, diharapkan pelajaran ini dapat memperkuat standar etika dalam industri hiburan Indonesia, khususnya di tingkat provinsi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *