Yordania–Kuwait Dorong Solusi Berkelanjutan Konflik Iran-AS, Soroti Keamanan Selat Hormuz
AMMAN, Ule.co.id – Yordania dan Kuwait menegaskan pentingnya memperkuat jalur diplomasi dalam meredakan ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kedua negara menilai, setiap perkembangan pascagencatan senjata harus diarahkan pada resolusi jangka panjang yang mampu meredam konflik secara berkelanjutan, bukan sekadar solusi sementara.
Seruan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi dan Menteri Luar Negeri Kuwait Syekh Jarrah Jaber Al-Ahmad Al-Sabah di Amman, Minggu (26/4). Dalam pernyataan bersama, keduanya menekankan urgensi menjaga stabilitas kawasan, termasuk menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi global.
Dalam konteks hukum internasional, Yordania dan Kuwait secara tegas menyerukan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip yang tertuang dalam Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut 1982 (UNCLOS). Mereka juga menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan negara sebagai fondasi utama dalam menjaga ketertiban global.
Safadi dalam kesempatan tersebut kembali menyuarakan kecaman Yordania terhadap berbagai serangan yang menyasar kedaulatan negara-negara Arab. Ia juga menegaskan solidaritas penuh Amman terhadap Kuwait di tengah dinamika geopolitik yang kian kompleks.
Sebaliknya, Menlu Kuwait menyampaikan dukungan terhadap Yordania dalam menghadapi ancaman eksternal, mencerminkan hubungan bilateral yang semakin erat di tengah situasi regional yang tidak menentu.
Perkuat Koordinasi dan Konsultasi Politik
Sebagai tindak lanjut konkret, kedua negara sepakat untuk menggelar putaran baru konsultasi politik antar kementerian luar negeri dalam waktu dekat. Langkah ini dipandang sebagai instrumen strategis untuk menyelaraskan kebijakan luar negeri sekaligus memperkuat posisi diplomatik di kawasan Timur Tengah.
Sorotan untuk Gaza, Yerusalem, dan Lebanon
Selain isu Iran-AS, pertemuan tersebut juga menyoroti sejumlah titik panas lain di kawasan. Yordania dan Kuwait menekankan pentingnya stabilisasi situasi di Jalur Gaza, termasuk memastikan distribusi bantuan kemanusiaan berjalan tanpa hambatan.
Keduanya juga mengingatkan perlunya menjaga prospek solusi dua negara bagi Palestina-Israel. Mereka menyerukan penghentian langkah-langkah yang dinilai dapat merusak solusi tersebut, seperti ekspansi permukiman dan perubahan status situs suci di Yerusalem.
Terkait Lebanon, kedua negara menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata serta mendukung pemerintah Lebanon dalam memperkuat kedaulatan nasional, termasuk memastikan kontrol negara atas seluruh persenjataan.
Diplomasi Jadi Kunci Stabilitas Kawasan
Pertemuan ini menegaskan satu benang merah: di tengah kompleksitas konflik Timur Tengah, diplomasi tetap menjadi instrumen utama yang paling rasional untuk mencegah eskalasi lebih luas.
Yordania dan Kuwait tampak mengambil posisi sebagai “penjaga keseimbangan” yang mendorong dialog, kepatuhan hukum internasional, serta kerja sama regional. Di kawasan yang kerap dipenuhi ketegangan, pendekatan ini bukan sekadar idealisme—melainkan kebutuhan strategis.
Jika Selat Hormuz adalah urat nadi energi dunia, maka stabilitas politik di sekitarnya adalah denyut yang harus dijaga. Tanpa itu, bukan hanya kawasan yang terdampak, tetapi juga ekonomi global.

