analitik

Detik-detik Kopassus terjun payung bawa gambar Prabowo di HUT RI ke-81, Kontroversi & Dukungan

Ule.co.id – Detik-detik prajurit Kopassus terjun payung bawa gambar Prabowo saat peringatan HUT ke-81 RI [titlebase] menjadi sorotan utama pada rangkaian upacara kemerdekaan di Istana Negara, Jakarta. Sejumlah 17 penerjun dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) meluncur dari ketinggian belasan ribu meter, menebarkan bendera Merah Putih sekaligus menampilkan spanduk berisi foto Presiden Prabowo Subianto. Aksi yang dinamakan “Victory Jump” ini sekaligus mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menanggapi fenomena tersebut dengan menegaskan bahwa penggunaan gambar Presiden merupakan bentuk kebanggaan rakyat. “Itu kan bentuk kebanggaan saudara‑saudara kita gitu ya,” ujarnya dalam rapat koordinasi bersama pimpinan DPR di Gedung DPR, Senayan. Prasetyo menambahkan bahwa era pemerintahan Prabowo telah memperkuat alutsista, termasuk kehadiran pesawat tempur Rafale dan pesawat angkut A400 yang berperan penting dalam operasi bantuan bencana.

Baca juga:
Istana Ungkap Alasan Prabowo Pilih Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur Bank Indonesia, Apa Alasannya?

Penguatan alutsista menjadi poin utama yang ditekankan dalam sambutan Mensesneg. Ia menyoroti demo udara yang menampilkan beberapa unit Rafale, menilai kehadiran pesawat tempur tersebut sebagai bukti capaian nyata pertahanan udara Indonesia. “Empat‑empatnya adalah putra‑putra terbaik bangsa Indonesia,” kata Prasetyo, menekankan pentingnya kemampuan teknis yang tidak mudah dicapai. Selain itu, pesawat A400 dipuji karena kemampuannya mengirim logistik dalam waktu singkat, terbukti efektif pada penanganan bencana di Sumatera dan Nusa Tenggara Timur.

Sementara itu, kritik muncul dari kalangan publik. Connie Bakrie, pengamat militer, menyuarakan keberatan atas penggunaan gambar Prabowo dalam atraksi tersebut. Dalam video yang diunggah pada Senin (17/8/2026), ia menilai aksi tersebut terlalu berlebihan dan menganggapnya sebagai bentuk narsisme. “Pertanyaan saya cuma satu, bukan enggak boleh, tapi senarsis itukah? Perlukah Pak Prabowo sampai benderanya diangkat sedemikian rupa?” ujar Connie, mengajak prajurit TNI lebih sensitif terhadap perasaan masyarakat.

Kontroversi tersebut meluas ke media sosial, bahkan menjadi trending topic dengan tag “Korut” di platform X. Netizen mengolok‑olok penggunaan foto presiden dengan menyebutnya seperti aksi propaganda di negara lain. Salah satu komentar menulis, “Seakan‑akan kek Korea Utara, cuma versi yang lebih buruk.” Meskipun demikian, pihak penyelenggara menegaskan bahwa tujuan utama adalah menampilkan kebanggaan nasional dan mengapresiasi upaya pertahanan yang sedang dibangun.

Baca juga:
Garuda Indonesia (GIAA) Berhentikan Sementara Direktur Niaga Mulai 14 Agustus, Apa yang Terjadi?

Di tengah perdebatan, mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menyampaikan permintaan maaf karena tidak dapat menghadiri upacara secara langsung. SBY, yang sedang berada di Amerika Serikat untuk pemeriksaan kesehatan, menegaskan dukungannya terhadap agenda pembangunan ekonomi dan pertahanan yang diusung pemerintah saat ini. Pernyataan SBY menambah dimensi politik dalam peringatan HUT ke‑81, memperlihatkan dinamika hubungan antar tokoh politik utama.

Secara keseluruhan, aksi Kopassus yang menurunkan gambar Prabowo di langit menimbulkan dua narasi: satu menyoroti kebanggaan atas capaian alutsista, dan satu lagi menyoroti potensi politisasi simbol negara dalam upacara kemerdekaan. Bagaimana respons publik ke depannya akan menjadi indikator sejauh mana simbolisme militer dapat diterima dalam konteks demokrasi dan kebangsaan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *