analitik

Israel Serang Pangkalan Udara Idlib, Tegaskan Ancaman Turki di Suriah

Ule.co.id – Takut kehadiran pasukan Turki, Israel serang pangkalan Suriah di Idlib [titlebase] sebagai respons atas apa yang dianggapnya ancaman langsung terhadap keamanan nasional Tel Aviv.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi udara pada 18 Agustus 2026 menargetkan Pangkalan Udara Abu al‑Duhur di provinsi Idlib, menolak tuduhan Turki bahwa serangan itu bersifat agresif. Netanyahu menyatakan, “Kami tidak akan mentoleransi upaya militer Turki untuk memperkuat posisi mereka ke arah selatan, karena hal itu mengancam kami.” Pernyataan ini menegaskan kembali fokus kebijakan Israel untuk mencegah Israel serang pangkalan Idlib yang direncanakan menjadi basis bagi pasukan Turki.

Baca juga:
Amerika Serikat dan Israel Pertimbangkan Blokade Darat Terhadap Iran

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menambahkan melalui unggahan di media sosial X bahwa Turki telah “menyeret negaranya ke dalam petualangan berbahaya di Suriah”. Katz menekankan bahwa Israel tidak akan membiarkan pihak mana pun mengancam keamanan negara tersebut, sekaligus memperingatkan Ankara bahwa serangan selanjutnya akan lebih tegas.

Pernyataan keras Israel disambut kecaman luas. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa‑Bangsa, Stephane Dujarric, menyebut serangan Israel ke pangkalan Abu al‑Duhur sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan dan integritas wilayah udara Suriah. PBB menuntut penghentian serangan dan menyerukan dialog untuk menghindari eskalasi lebih lanjut.

Amerika Serikat juga mengkritik aksi tersebut. Tom Barrack, Duta Besar AS untuk Turki sekaligus Utusan Khusus di Suriah, menyebutnya “eskalasi yang tidak perlu” dan memperingatkan risiko konfrontasi militer langsung antara Israel dan Turki. Barrack menegaskan tidak ada korban jiwa, namun menekankan pentingnya menahan langkah militer yang dapat memperburuk ketegangan di kawasan. Takut kehadiran pasukan Turki, Israel serang pangkalan Suriah di Idlib [titlebase] menegaskan posisi Tel Aviv.

Turki menanggapi dengan keras, menyatakan bahwa tuduhan Israel tidak berdasar dan merupakan upaya melegitimasi serangan ilegal. Pemerintah Turki menyerukan komunitas internasional untuk mengambil sikap tegas demi menghentikan agresi Israel yang semakin meningkat terhadap Suriah. Ankara menegaskan bahwa tidak ada pasukan Turki yang ditempatkan di Idlib, meski Israel beranggapan sebaliknya.

Baca juga:
Palestina Kesepakatan Fase 2 Gencatan Gaza Belum Terwujud, Apa yang Terjadi?

Sebuah laporan mengungkap adanya panggilan rahasia antara kepala Mossad, Roman Gofman, dan Menteri Luar Negeri Suriah, Asaad al‑Shaibani, beberapa hari sebelum serangan. Dalam percakapan tersebut, kehadiran militer Turki menjadi topik utama, menandakan bahwa intelijen Israel telah memantau potensi penempatan pasukan Turki di wilayah tersebut.

Analisis para pakar menilai bahwa serangan ini menandai titik balik dalam dinamika keamanan Timur Tengah. Sementara Israel berupaya menegakkan kebijakan pre‑emptive untuk mencegah Turki memperluas kehadirannya, Turki berusaha mempertahankan pengaruhnya di Suriah. Ketegangan ini dapat memicu perlombaan senjata lebih luas jika tidak ada dialog diplomatik yang konstruktif. Situasi ini memperkuat narasi Takut kehadiran pasukan Turki, Israel serang pangkalan Suriah di Idlib [titlebase] dalam konteks geopolitik regional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *