analitik

Pulpis Minta Sumur Bor Permanen ke Pusat: Upaya Tegas Atasi Karhutla di Kalimantan Tengah

Ule.co.id – Pulpis Minta Sumur Bor Permanen ke Pusat dalam upaya memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau.

Karhutla yang melanda wilayah tersebut sejak pertengahan Agustus 2026 menimbulkan kerusakan ekosistem, mengganggu aktivitas pertanian, dan menambah beban pada tim penanggulangan. Tanah yang kering dan angin kencang memperparah penyebaran api, sehingga menuntut respons cepat serta sumber air yang memadai.

Baca juga:
Dinkes Kotim Gencarkan Pembagian Masker Gratis, Cegah Dampak Asap Pekat di Kalimantan Tengah

Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, melakukan kunjungan lapangan pada Rabu, 19 Agustus 2026, bersama Gubernur Agustiar Sabran, Kapolda Irjen Pol Iwan Kurniawan, dan Pangdam XXII Tambun Mayjen TNI Zainul Arifin. Kunjungan tersebut bertujuan menilai tingkat kerusakan, mengawasi proses pemadaman, serta mendengar aspirasi pemerintah daerah terkait kebutuhan infrastruktur penanggulangan kebakaran.

Selama pertemuan, Bupati Pulang Pisau, H. Ahmad Rifa’i, menegaskan bahwa “Pulpis Minta Sumur Bor Permanen ke Pusat” sebagai langkah strategis jangka panjang. Ia menjelaskan bahwa sumur bor yang dibangun secara permanen akan menyediakan pasokan air yang stabil, memungkinkan pemadam kebakaran mengakses air tanpa harus mengandalkan sungai atau hujan yang tidak menentu.

Sumur Bor Permanen tidak hanya berfungsi sebagai sumber air darurat, tetapi juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Air bersih yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk irigasi, kebutuhan rumah tangga, dan bahkan sebagai fasilitas penunjang ekowisata. Dengan demikian, investasi infrastruktur ini memiliki nilai ganda bagi ketahanan lingkungan dan ekonomi lokal.

Bupati Ahmad Rifa’i menambahkan bahwa permintaan resmi kepada Kementerian Kehutanan telah disampaikan melalui surat resmi, sekaligus mengajak kolaborasi dengan BNPB, pemerintah provinsi, serta lembaga keamanan seperti TNI dan Polri. “Kami sangat menghargai dukungan Manggala Agni, BNPB, dan semua pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Namun, keberlanjutan penanggulangan memerlukan fasilitas yang permanen, bukan sekadar bantuan sementara,” ujar Rifa’i.

Baca juga:
BGN Bekukan SPPG Karangturi Usai Insiden Keamanan Pangan, Apa Penyebabnya?

Dalam konteks kebijakan nasional, pembangunan Sumur Bor Permanen selaras dengan program mitigasi bencana yang dicanangkan Kementerian Kehutanan. Program tersebut menekankan pentingnya sumber daya air yang dapat diakses secara cepat ketika kebakaran melanda, mengurangi ketergantungan pada curah hujan yang tidak dapat diprediksi.

Selain itu, Bupati juga mengimbau masyarakat Pulang Pisau untuk tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar. “Mari kita jaga hutan dan lahan kita dari bencana karhutla. Setiap tindakan preventif, termasuk tidak membakar, akan memperkecil risiko kebakaran di masa depan,” tegasnya.

Dengan tekad kuat, Pulpis Minta Sumur Bor Permanen ke Pusat kembali menjadi agenda utama dalam rapat koordinasi lintas sektoral. Diharapkan, dalam beberapa bulan ke depan, sumur bor pertama dapat selesai dibangun, memberikan harapan baru bagi penanggulangan kebakaran dan peningkatan kualitas hidup warga Tumbang Nusa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *