Kontroversi Pancatera: Kehilangan Ribuan Follower Usai Hadir di Istana, Kronologi Lengkap dan Permintaan Maaf
Ule.co.id – Pancatera kehilangan ribuan follower usai hadir di istana, ini kronologi hingga permintaan maaf [titlebase] menjadi sorotan utama setelah tiga host podcast In Her View muncul dalam foto bersama Presiden Prabowo Subianto pada perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, 17 Agustus 2026. Kejadian tersebut memicu gelombang kritik tajam dari komunitas pendengar setia yang menilai kehadiran itu tidak sejalan dengan citra independen program.
Podcast Pancatera, yang didirikan pada 2025, dikenal lewat konten “In Her View” yang membahas isu-isu perempuan secara terbuka, mulai dari karier, hubungan, hingga kesehatan mental. Empat anggota tetap – Marissa Anita, Caroline Soerachmat, Karina Basrewan, dan Kai Soerja – telah membangun basis pendengar yang kuat, dengan kanal YouTube lebih dari 80 ribu subscriber dan ratusan ribu followers di Instagram.
Namun, pada sore 17 Agustus 2026, ketiga host – Marissa Anita, Caroline Soerachmat, dan Karina Basrewan – muncul dalam foto bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka. Foto tersebut diunggah ke akun Instagram resmi Pancatera dan langsung menjadi viral. Netizen menilai kehadiran mereka di acara kenegaraan sebagai bentuk dukungan politik yang berpotensi mengaburkan posisi netral podcast.
Reaksi publik tidak memakan waktu lama. Di platform Instagram, komentar mengkritik keputusan mereka beredar ribuan kali. Beberapa pengguna menyebut bahwa kehadiran di istana dapat menurunkan kepercayaan pendengar, terutama karena “In Her View” selama ini diposisikan sebagai ruang diskusi independen perempuan, bukan platform politik. Akibatnya, akun Pancatera mengalami penurunan signifikan dalam jumlah followers, dengan laporan internal menyebut kehilangan ribuan follower dalam hitungan hari.
Pancatera kehilangan ribuan follower usai hadir di istana, ini kronologi hingga permintaan maaf [titlebase] menjadi topik perbincangan hangat di media sosial, terutama di kalangan pendengar setia yang menyebutkan rasa kecewa dan kebingungan. Pada 18 Agustus 2026, Pancatera mengeluarkan klarifikasi resmi melalui unggahan di Instagram dan Threads, yang ditulis oleh Marissa Anita. Dalam pernyataan tersebut, mereka menyapa komunitas “ViewHers” dan menyampaikan permohonan maaf atas tindakan yang dianggap keliru.
- “Kepada ViewHers yang kami cintai dan hormati, kami minta maaf atas tindakan kami yang keliru,” tulis Marissa Anita.
- Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kehadiran di Istana Merdeka tidak dimaksudkan untuk mengaitkan podcast dengan agenda politik manapun.
- Mereka juga berjanji akan lebih berhati-hati dalam memilih momen publik yang akan dihadiri, demi menjaga integritas konten.
Para analis media menilai langkah permintaan maaf ini sebagai upaya damage control yang tepat. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa reputasi digital sangat rentan terhadap persepsi publik. Kehilangan ribuan follower dapat berdampak pada monetisasi konten, serta menurunkan daya tarik sponsor potensial.
Sejumlah pakar komunikasi menyoroti pentingnya konsistensi nilai brand dalam era media sosial. “Jika sebuah brand menekankan independensi, setiap tindakan yang tampak berafiliasi dengan institusi politik harus dipertimbangkan secara matang,” ujar Dr. Siti Nurhaliza, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia.
Selain permintaan maaf, Pancatera juga mengumumkan rencana konten khusus untuk menanggapi kritik. Mereka berencana meluncurkan episode khusus “Refleksi In Her View” yang akan membahas tantangan independensi media, serta mengundang pakar hak perempuan dan kebebasan pers sebagai narasumber.
Meski demikian, dampak jangka pendek sudah terasa. Statistik Instagram Pancatera menunjukkan penurunan followers sekitar 12% dalam seminggu setelah foto istana dipublikasikan. Beberapa brand yang sebelumnya berkolaborasi dengan Pancatera menunda atau membatalkan kerja sama, mengindikasikan potensi kerugian finansial.
Ke depan, Pancatera berupaya memulihkan kepercayaan pendengar dengan meningkatkan transparansi. Mereka berjanji akan lebih terbuka mengenai keputusan kehadiran di acara publik, serta melibatkan komunitas dalam proses editorial. Harapan mereka, komunitas “ViewHers” akan kembali mendukung program yang selama ini memberikan ruang aman bagi perempuan untuk berbagi cerita.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi kreator konten digital di Indonesia, terutama yang mengusung nilai independen. Keseimbangan antara eksposur publik dan konsistensi nilai menjadi kunci utama untuk mempertahankan loyalitas audiens.

