Rupiah Melemah ke Rp17.130 per Dolar AS, Tekanan Sentimen Domestik Masih Kuat

Jakarta, Ule.co.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa pagi (14/4/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 25 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.130 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.105 per dolar AS.

Pelemahan ini mencerminkan rapuhnya sentimen domestik yang masih membayangi pasar keuangan nasional dalam beberapa waktu terakhir.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari sejumlah indikator ekonomi dalam negeri yang menunjukkan tren kurang menggembirakan.

“Pelemahan ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah, mulai dari kekhawatiran defisit anggaran, penurunan outlook pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa yang terus menurun, hingga surplus perdagangan yang semakin terbatas,” ujarnya di Jakarta.

Defisit APBN Melonjak Tajam

Salah satu faktor utama yang membebani rupiah adalah lonjakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Hingga Maret 2026, defisit tercatat mencapai Rp240,1 triliun, melonjak sekitar 140 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia, terutama dalam menjaga keseimbangan antara belanja dan penerimaan negara.

Cadangan Devisa Menyusut

Dari sisi eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan. Per akhir Maret 2026, cadangan devisa berada di level 148,2 miliar dolar AS, turun dari posisi Februari yang mencapai 151,9 miliar dolar AS.

Penurunan cadangan devisa ini menjadi sinyal berkurangnya bantalan stabilitas bagi rupiah, terutama dalam menghadapi gejolak pasar global.

Surplus Perdagangan Menipis

Kinerja neraca perdagangan juga belum memberikan dorongan signifikan. Pada Februari 2026, Indonesia mencatat surplus sebesar 1,27 miliar dolar AS, sedikit meningkat dari 0,95 miliar dolar AS pada bulan sebelumnya.

Surplus tersebut ditopang oleh penurunan impor migas, dengan nilai ekspor sebesar 22,17 miliar dolar AS dan impor 20,89 miliar dolar AS. Meski masih positif, besaran surplus dinilai belum cukup kuat untuk menopang nilai tukar rupiah secara konsisten.

Outlook Ekonomi Direvisi Turun

Tekanan tambahan datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di level 4,7 persen, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,8 persen.

Penurunan outlook ini memperkuat persepsi pasar bahwa pemulihan ekonomi domestik berjalan lebih lambat dari ekspektasi.

Harapan dari Sentimen Global

Meski dibayangi sentimen negatif domestik, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat jika faktor eksternal mendukung. Lukman menyebut adanya perbaikan sentimen global, terutama terkait harapan kelanjutan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, penurunan harga minyak dunia ke bawah 100 dolar AS per barel juga berpotensi memberikan ruang bagi penguatan rupiah, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor energi.

Proyeksi Pergerakan Rupiah

Dengan kombinasi faktor domestik dan global tersebut, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.050 hingga Rp17.150 per dolar AS dalam jangka pendek.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan kebijakan fiskal, stabilitas eksternal, serta dinamika geopolitik global sebagai penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *