analitik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Tingkatkan Intervensi di Pasar Valas

JAKARTA, Ule.co.idRupiah tembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mendorong Bank Indonesia (BI) meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan mekanisme pasar tetap berjalan secara sehat. Di tengah tekanan global yang terus meningkat, bank sentral menegaskan akan menggunakan berbagai instrumen kebijakan guna meredam volatilitas yang terjadi di pasar keuangan domestik.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan bahwa ketika rupiah tembus Rp18.000, BI akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Baca juga:

“Bank Indonesia terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya,” kata Destry dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis.

BI Tingkatkan Intervensi Saat Rupiah Tembus Rp18.000

Fenomena rupiah tembus Rp18.000 menjadi perhatian pelaku pasar karena menandai meningkatnya tekanan terhadap mata uang negara berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menyikapi kondisi tersebut, BI memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di berbagai segmen pasar keuangan.

Bank sentral menegaskan bahwa intervensi tidak hanya dilakukan di pasar spot, tetapi juga melalui instrumen derivatif dan pasar obligasi untuk menjaga keseimbangan permintaan dan penawaran valuta asing.

Menurut Destry, intervensi akan dilakukan secara berkelanjutan melalui:

  • Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore.
  • Transaksi spot di pasar domestik.
  • Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi terpadu BI untuk menjaga kepercayaan investor dan mengurangi tekanan yang muncul setelah rupiah tembus Rp18.000 terhadap dolar AS.

“Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar Destry.

Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Bank Indonesia menilai bahwa kondisi ketika rupiah tembus Rp18.000 tidak semata-mata dipengaruhi faktor domestik. Tekanan terbesar justru datang dari perkembangan global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Eskalasi konflik yang kembali terjadi membuat pasar keuangan dunia memasuki fase risk-off. Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Situasi tersebut mendorong penguatan dolar secara global dan memberi tekanan pada berbagai mata uang emerging market, termasuk rupiah.

Selain itu, ketegangan geopolitik juga menyebabkan harga minyak dunia tetap berada pada level tinggi. Kenaikan harga energi meningkatkan risiko inflasi global dan memperbesar kemungkinan bank sentral di sejumlah negara mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Kombinasi faktor tersebut menjadi salah satu penyebab utama mengapa rupiah tembus Rp18.000 dalam perdagangan terbaru.

Kebutuhan Valas Domestik Masih Besar

Di samping tekanan eksternal, Bank Indonesia mencatat kebutuhan valuta asing di dalam negeri masih cukup tinggi. Kondisi ini turut memperbesar tekanan ketika rupiah tembus Rp18.000.

Baca juga:

Permintaan dolar AS datang dari berbagai kebutuhan korporasi, termasuk:

  • Repatriasi dividen perusahaan.
  • Pembayaran utang luar negeri (ULN).
  • Kebutuhan impor bahan baku dan barang modal.
  • Transaksi perdagangan internasional.

Peningkatan kebutuhan dolar di pasar domestik membuat permintaan valas tetap tinggi meskipun BI terus melakukan stabilisasi pasar.

Karena itu, bank sentral memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan pelaku usaha, sektor perbankan, serta investor guna memastikan likuiditas tetap terjaga.

Pelemahan Rupiah Masih Sejalan dengan Regional

Meski rupiah tembus Rp18.000, Bank Indonesia menilai pergerakan mata uang Indonesia masih sejalan dengan tren yang terjadi di kawasan Asia.

Destry menjelaskan bahwa sejumlah mata uang negara berkembang juga mengalami tekanan akibat penguatan dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian global.

Berdasarkan data BI, pelemahan rupiah secara year to date (ytd) tercatat sekitar 7,44 persen. Angka tersebut masih mencerminkan pergerakan yang relatif sebanding dengan mata uang regional lainnya.

Artinya, kondisi ketika rupiah tembus Rp18.000 tidak terjadi secara terisolasi, melainkan merupakan bagian dari tekanan global yang juga dirasakan negara-negara lain.

Cadangan Devisa Tetap Kuat

Di tengah kabar rupiah tembus Rp18.000, Bank Indonesia memastikan posisi cadangan devisa Indonesia tetap berada pada level yang kuat.

Per akhir April 2026, cadangan devisa nasional tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS.

Cadangan devisa tersebut dinilai cukup untuk:

  • Membiayai kebutuhan impor nasional.
  • Mendukung pembayaran utang luar negeri pemerintah.
  • Menjaga stabilitas sistem keuangan.
  • Menjadi bantalan menghadapi gejolak pasar global.

Keberadaan cadangan devisa yang besar memberikan ruang bagi BI untuk melakukan intervensi secara terukur ketika rupiah tembus Rp18.000 dan pasar mengalami tekanan yang tinggi.

BI Dorong Penggunaan Mata Uang Lokal

Sebagai langkah jangka panjang, Bank Indonesia juga terus mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional.

Baca juga:

Kebijakan ini dilakukan melalui skema Local Currency Transaction (LCT) yang memungkinkan transaksi bilateral menggunakan mata uang masing-masing negara.

Saat ini Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan:

  • Tiongkok
  • Jepang
  • Malaysia
  • Thailand
  • Korea Selatan
  • Uni Emirat Arab

Melalui skema tersebut, pelaku usaha tidak perlu selalu menggunakan dolar AS sebagai mata uang perantara dalam transaksi perdagangan.

Kebijakan ini menjadi semakin relevan ketika rupiah tembus Rp18.000, karena dapat membantu mengurangi eksposur terhadap fluktuasi dolar dan menekan biaya transaksi internasional.

Nilai Transaksi LCT Terus Meningkat

Bank Indonesia mencatat perkembangan positif dalam implementasi LCT sepanjang tahun ini. Hingga April 2026, nilai transaksi melalui skema tersebut mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS.

Angka tersebut hampir menyamai total transaksi sepanjang tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 25,7 miliar dolar AS.

Peningkatan ini menunjukkan semakin banyak pelaku usaha yang memanfaatkan alternatif transaksi selain dolar AS.

“Diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar 22,7 miliar dolar AS dibandingkan full year tahun lalu yang sekitar 25,7 miliar dolar AS,” kata Destry.

BI Pastikan Stabilitas Rupiah Tetap Jadi Prioritas

Ketika rupiah tembus Rp18.000, Bank Indonesia menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi salah satu prioritas utama kebijakan moneter. BI akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valas, memperkuat instrumen moneter pro-market, serta menjaga koordinasi dengan pemerintah dan pelaku pasar.

Dengan cadangan devisa yang masih kuat, dukungan kebijakan yang konsisten, dan peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional, BI optimistis tekanan terhadap rupiah dapat dikelola secara efektif.

Meski tantangan global masih membayangi, langkah-langkah yang ditempuh bank sentral diharapkan mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga setelah rupiah tembus Rp18.000 per dolar AS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *