analitik

Tak Semua Pekerja Diuntungkan, Dampak AI terhadap Pekerjaan Picu Ketimpangan Pendapatan

JAKARTA, Ule.co.idDampak AI terhadap pekerjaan semakin nyata seiring meluasnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor industri. Meski menghadirkan peluang ekonomi baru, perkembangan AI ternyata belum memberikan manfaat yang merata bagi seluruh pekerja.

Sebuah studi terbaru yang disusun ekonom Pakistan Syed Muhammad Haris Shah menemukan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan tidak hanya menciptakan jenis profesi baru, tetapi juga meningkatkan kesenjangan upah dan risiko hilangnya pekerjaan bagi pekerja dengan keterampilan rendah.

Baca juga:

Penelitian tersebut dipublikasikan dalam Advance Journal of Econometrics and Finance Volume 4 Issue 2 tahun 2026 dengan judul The Impact of Artificial Intelligence on Employment and Wage Inequality. Studi tersebut melibatkan 350 responden dari berbagai sektor, mulai dari teknologi informasi, manufaktur, kesehatan, keuangan, pendidikan, hingga layanan pelanggan.

Dampak AI terhadap Pekerjaan Sudah Terlihat di Berbagai Industri

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adopsi kecerdasan buatan di lingkungan kerja sudah berlangsung cukup luas. Sebanyak 72,6 persen responden menyatakan perusahaan tempat mereka bekerja telah aktif menggunakan teknologi AI.

Sementara itu, 27,4 persen lainnya mengaku perusahaan mereka masih berada pada tahap terbatas atau belum menerapkan AI secara signifikan.

Tingginya tingkat penggunaan teknologi tersebut membuat dampak AI terhadap pekerjaan semakin dirasakan oleh para pekerja. Perubahan tidak hanya terjadi pada sistem kerja, tetapi juga pada kebutuhan keterampilan dan struktur organisasi perusahaan.

AI Menciptakan Peluang Kerja Baru

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hampir setengah responden atau sekitar 48,9 persen menilai AI telah membuka peluang pekerjaan baru.

Selain itu, sebanyak 26,3 persen responden merasakan peningkatan keamanan kerja berkat dukungan teknologi. Sementara 39,4 persen lainnya melaporkan adanya perubahan tanggung jawab pekerjaan akibat proses otomatisasi dan integrasi AI.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan tidak selalu bersifat negatif. Kehadiran teknologi kecerdasan buatan juga mampu meningkatkan produktivitas serta memunculkan profesi baru yang membutuhkan kemampuan teknis dan digital.

Kekhawatiran Disrupsi Pekerjaan Meningkat

Di sisi lain, sekitar 24,6 persen responden mengaku khawatir AI dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja atau bahkan menggantikan sebagian pekerjaan manusia.

Penelitian menemukan semakin tinggi tingkat adopsi AI di suatu organisasi, maka semakin besar pula kekhawatiran pekerja terhadap kemungkinan terjadinya disrupsi pekerjaan.

Temuan ini memperlihatkan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan turut memunculkan tantangan baru bagi tenaga kerja, terutama mereka yang menjalankan tugas rutin dan mudah diotomatisasi.

Baca juga:

Kesenjangan Upah Akibat AI Semakin Lebar

Salah satu temuan utama dalam penelitian tersebut adalah ketimpangan pendapatan yang semakin besar antara pekerja berkeahlian tinggi dan pekerja berkeahlian rendah.

Pekerja dengan keterampilan rendah hanya mencatat pertumbuhan upah rata-rata sebesar 2,8 persen per tahun. Sementara pekerja berkeahlian menengah memperoleh kenaikan upah rata-rata 5,1 persen.

Adapun pekerja dengan keterampilan tinggi menikmati pertumbuhan upah hingga 8,7 persen per tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa manfaat ekonomi AI tidak terdistribusi secara merata. Dampak AI terhadap pekerjaan justru memberikan keuntungan yang jauh lebih besar bagi pekerja yang memiliki kemampuan teknis, analisis data, pemrograman, serta keterampilan digital tingkat lanjut.

Sebaliknya, pekerja yang menjalankan pekerjaan rutin lebih rentan terdampak otomatisasi.

Tingkat Adopsi AI Berpengaruh pada Pendapatan

Penelitian juga menemukan adanya hubungan langsung antara tingkat penggunaan AI dengan pertumbuhan upah pekerja.

Perusahaan yang memiliki tingkat adopsi AI tinggi mencatat pertumbuhan upah rata-rata sekitar 8,7 persen. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan organisasi dengan tingkat penggunaan AI rendah yang hanya mencapai sekitar 2,9 persen.

Temuan tersebut memperkuat fakta bahwa dampak AI terhadap pekerjaan sangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam mengintegrasikan teknologi kecerdasan buatan ke dalam proses bisnis mereka.

Pelatihan AI Tingkatkan Keamanan Kerja

Selain keterampilan, pelatihan AI juga terbukti menjadi faktor penting dalam meningkatkan keamanan kerja.

Responden yang pernah mengikuti pelatihan AI memiliki skor persepsi keamanan kerja rata-rata 4,1 dari skala lima.

Baca juga:

Sebaliknya, mereka yang belum pernah mengikuti pelatihan hanya mencatat skor rata-rata 2,9.

Analisis statistik dalam penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat keterampilan pekerja menjadi faktor paling berpengaruh terhadap pertumbuhan upah. Faktor tersebut kemudian diikuti tingkat adopsi AI dan partisipasi dalam program pelatihan AI.

Ketiga faktor tersebut memiliki korelasi positif terhadap peningkatan pendapatan pekerja.

AI Bukan Hanya Menggantikan Pekerjaan Manusia

Dalam kesimpulannya, peneliti menegaskan bahwa AI bukan sekadar teknologi yang menggantikan pekerjaan manusia.

Teknologi tersebut juga menciptakan jenis pekerjaan baru dan meningkatkan produktivitas. Namun, tanpa program peningkatan keterampilan yang memadai, manfaat ekonomi AI berpotensi hanya dinikmati oleh kelompok pekerja tertentu.

“AI menghadirkan peluang kerja baru untuk posisi yang sangat terampil, tetapi juga dapat mendorong ketidaksetaraan upah dan masalah perpindahan pekerjaan untuk pekerja berketerampilan rendah,” tulis peneliti dalam ringkasan hasil studi.

Karena itu, penelitian tersebut merekomendasikan pemerintah, perusahaan, dan lembaga pendidikan untuk memperluas program pelatihan dan reskilling tenaga kerja.

Menurut peneliti, investasi pada peningkatan keterampilan menjadi kunci agar manfaat AI dapat dirasakan secara lebih merata. Dengan demikian, dampak AI terhadap pekerjaan tidak hanya menguntungkan pekerja berkeahlian tinggi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja secara keseluruhan di tengah transformasi ekonomi berbasis kecerdasan buatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *