IHSG Diprediksi Sideways, Rekomendasi Saham TPIA, ARKO, COIN & Medc Jadi Pilihan Investor
Ule.co.id – Pasar saham Indonesia kembali menjadi sorotan pada Selasa, 22 September 2026, ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan bergerak sideways setelah investor menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI). Sentimen “wait and see” menguat, memicu pergerakan lemah pada indeks utama.
Data terbaru menunjukkan IHSG menutup melemah 0,88% pada level 6.384,73, dengan aksi jual bersih asing mencapai Rp510 miliar. Saham-saham yang paling banyak terjual oleh investor asing meliputi BMRI, ANTM, BBCA, TLKM, dan MDKA. Analis Retail Research di PT BNI Sekuritas, Muhammad Lutfi Permana, menilai IHSG akan berada di antara level support 6.340‑6.270 dan resistance 6.440‑6.500, mengindikasikan pergerakan yang relatif datar namun cenderung ke arah penurunan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, BNI Sekuritas menyoroti beberapa saham yang dianggap memiliki potensi kuat untuk dipertimbangkan oleh investor. Rekomendasi meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), PT Arkora Hydro Tbk (ARKO), PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN). Berikut rangkuman singkat mengenai masing‑masing saham:
- TPIA: Produsen petrokimia terbesar di Indonesia, diperkirakan akan mendapat manfaat dari pemulihan permintaan global.
- BULL: Perusahaan logistik maritim yang tengah memperluas jaringan pelayaran domestik.
- BIPI: Fokus pada infrastruktur transportasi, terutama proyek jalan tol dan jembatan.
- ARKO: Aktif di sektor energi terbarukan, khususnya hidroelektrik, dengan proyek‑proyek baru di Jawa Barat.
- MEDC: Perusahaan energi yang mengoperasikan beberapa lapangan minyak dan gas di Indonesia.
- COIN: Platform teknologi blockchain yang sedang mengembangkan ekosistem kripto domestik.
Pergeseran fokus investor juga terlihat pada pasar global. Wall Street mencatatkan penguatan signifikan pada indeks Nasdaq Composite, dipimpin oleh saham-saham teknologi seperti Advanced Micro Devices, Intel, dan Arm Holdings. Kenaikan tersebut dipicu oleh optimisme terkait kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, yang turut memengaruhi sentimen pasar Asia, termasuk Indonesia.
Sementara itu, Bursa Saham Vietnam resmi naik kelas menjadi bagian dari indeks pasar berkembang (emerging market) milik FTSE Russell pada 21 September 2026. Kenaikan status ini diproyeksikan dapat mengalihkan hingga US$6 miliar dana asing ke pasar Vietnam. Investor asing mencatatkan pembelian bersih senilai US$104 juta pada pekan lalu, meski secara akumulatif masih net sell. Proses inklusi Vietnam ke dalam indeks FTSE akan berlangsung secara bertahap hingga 2027, dengan alokasi pertama sebesar 10% pada September 2026, diikuti oleh 20% pada Maret 2027, dan dua tahap masing‑masing 35% pada Juni dan September 2027.
Langkah tersebut menambah dinamika regional, mengingat Indonesia dan Vietnam kini bersaing dalam menarik investasi asing. Bagi investor Indonesia, perkembangan ini menjadi bahan pertimbangan tambahan dalam menyusun portofolio, terutama yang mengincar diversifikasi ke pasar ASEAN.
Data perdagangan harian menunjukkan nilai transaksi pasar Indonesia masih berada di bawah Rp15 triliun, menandakan likuiditas yang relatif rendah. Dari total 26,90 miliar saham yang diperdagangkan, 280 saham menguat, 354 melemah, dan 156 tidak bergerak signifikan. Kondisi ini menegaskan pentingnya memilih saham unggulan yang memiliki fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang jelas.
Secara teknikal, IHSG berada di zona merah pada penutupan Senin, 21 September 2026, dengan level tertinggi 6.415 dan terendah 6.378. Sentimen pasar dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA) yang diprediksi akan kembali menaikkan suku bunga, serta pertemuan antara Presiden Amerika Serikat dan Presiden Tiongkok yang menambah ketidakpastian geopolitik.
Investor yang mengadopsi pendekatan jangka pendek disarankan untuk memperhatikan level support dan resistance yang telah disebutkan, serta memperhatikan volume perdagangan asing yang dapat memicu volatilitas. Sementara investor jangka panjang dapat menilai fundamental sektor energi, infrastruktur, dan teknologi sebagai pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi berada di tangan pembaca. Lakukan analisis menyeluruh sebelum membeli atau menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

