analitik

Saham Waskita Bangkit: Utang Turun, Dividen BMRI Menggiurkan, dan Kebijakan BEI Baru

Ule.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian perkembangan penting yang memengaruhi saham unggulan. PT Waskita Karya (Persero) Tbk berhasil menurunkan beban utangnya secara signifikan, sementara PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengumumkan dividen interim yang menarik, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan batas kepemilikan baru untuk Bursa Efek Indonesia (BEI). Kombinasi faktor-faktor ini memberikan sinyal positif bagi investor yang mencari peluang di pasar saham.

Waskita Karya mengakhiri proses restrukturisasi Obligasi III Tahap IV 2019 setelah Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) pada 3 September 2026 menyetujui seluruh usulan, termasuk perpanjangan tenor. Sejak akhir 2023, total utang perusahaan turun 20,8 persen menjadi Rp66,5 triliun dari sebelumnya Rp84 triliun, mencatat penurunan sebesar Rp17,5 triliun. Utang vendor yang melewati jatuh tempo juga berkurang drastis sebesar 97,1 persen, tersisa hanya Rp48 miliar pada semester I‑2026. Kinerja operasional turut menguat; pendapatan usaha naik 58,49 persen menjadi Rp4,92 triliun, didorong oleh proyek Sekolah Rakyat dan jaringan irigasi Kementerian PUPR. Nilai kontrak baru hingga Juni 2026 mencapai Rp5,1 triliun, menegaskan kemampuan perusahaan dalam menambah pipeline proyek.

Baca juga:
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Tajam, Simak Detail Harga 0,5 Gram hingga 1 Kilogram

Dengan hasil RUPO yang mendukung, Waskita berharap Bursa Efek Indonesia segera mencabut suspensi sahamnya yang telah berlangsung sejak 8 Mei 2023. Direktur Keuangan Waskita, Wiwi Suprihatno, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus memperkuat struktur keuangan melalui transparansi dan tata kelola yang baik, serta konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa.

Di sisi lain, PT Bank Mandiri mengumumkan pembagian dividen interim sebesar Rp66 per saham, setara dengan 20 persen dari laba bersih per saham pada semester I‑2026 (Rp325). Total dividen mencapai Rp6,16 triliun, menghasilkan yield sekitar 1,49 persen. Manajemen mengindikasikan kemungkinan pembagian dividen interim kedua pada Desember 2026 atau Januari 2027, yang dapat menjadikan total pembayaran dividen tiga kali dalam satu tahun. Analisis payout ratio menunjukkan bahwa BMRI dapat mempertahankan tingkat dividen di atas 75 persen, bahkan hingga 78 persen, selama profitabilitas tetap kuat.

Sementara itu, OJK mengumumkan regulasi baru yang membatasi kepemilikan saham BEI maksimal lima persen bagi setiap pemegang saham, kecuali bagi pihak strategis yang dapat memperoleh persetujuan khusus. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan tata kelola pasar modal dan mencegah konsentrasi kepemilikan yang berpotensi mengganggu likuiditas. Pihak potensial yang dapat mengajukan permohonan khusus meliputi Danantara Indonesia, Bank Indonesia, dan Kementerian Keuangan.

Langkah strategis lain muncul dari PT OCBC NISP Tbk, yang berhasil menyelesaikan akuisisi 20 persen saham PT Great Eastern Life Indonesia (GELI) dengan nilai transaksi Rp201,98 miliar. Meskipun hanya 20 persen, kepemilikan satu lembar saham preferen memberikan OCBC NISP hak pengendalian atas GELI, memperkuat posisi grup dalam membangun konglomerasi keuangan di Indonesia.

Baca juga:
Semarak UMKM 2026 Gumas: Dimeriahkan Sejumlah Artis, Ajang Promosi UMKM Lokal Siap Meriah

Data pasar hari ini menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,28 persen menjadi 6.695,695 poin pada pembukaan perdagangan 4 September 2026. Net buy asing tercatat Rp1,11 triliun, dengan saham paling diminati oleh investor asing adalah BMRI, BBCA, CPIN, ANTM, dan ADRO. Analisis BNI Sekuritas memperkirakan IHSG dapat bergerak dalam kisaran support 6.620‑6.650 dan resistance 6.700‑6.720. Penguatan global juga berkontribusi; Dow Jones naik 1,18 persen, S&P 500 naik 1,06 persen, dan Nasdaq naik 1,40 persen setelah komentar Fed yang menenangkan kekhawatiran pasar tentang kenaikan suku bunga.

Keseluruhan, kombinasi penurunan utang Waskita, kebijakan dividen BMRI, regulasi OJK, serta akuisisi OCBC NISP menciptakan lanskap yang lebih dinamis bagi para pelaku pasar saham Indonesia. Investor diharapkan dapat memanfaatkan peluang ini dengan melakukan diversifikasi portofolio, memperhatikan fundamental perusahaan, serta mengikuti perkembangan regulasi yang dapat memengaruhi likuiditas dan valuasi saham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *