Iran Buka Jalur Pelayaran di Selat Hormuz Dua Pekan
Teheran, Ule.co.id – Iran telah mengumumkan kesiapannya untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan. Keputusan signifikan ini disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada hari Rabu, menyusul tercapainya kesepakatan gencatan senjata bilateral dengan Amerika Serikat.
Pembukaan Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu jalur maritim paling vital di dunia untuk pengiriman minyak global, merupakan bagian dari pakta yang sebelumnya diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (7/4). Araghchi menjelaskan melalui platform X bahwa akses pelayaran yang aman melalui selat ini akan diizinkan dengan koordinasi ketat bersama Angkatan Bersenjata Iran, dengan tetap memperhatikan batasan teknis yang berlaku.
Detail Kesepakatan Gencatan Senjata AS-Iran
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran kemudian merinci beberapa poin krusial yang terkandung dalam kesepakatan dengan Amerika Serikat. Negosiasi lebih lanjut terkait implementasi kesepakatan ini dijadwalkan akan berlangsung pada hari Jumat mendatang di Islamabad, Pakistan. Poin-poin utama yang disepakati mencakup:
- Kedaulatan atas Selat Hormuz: Iran akan tetap memegang kendali penuh atas wilayah perairan Selat Hormuz.
- Pencabutan Sanksi: Seluruh sanksi ekonomi yang sebelumnya diberlakukan terhadap Teheran akan dicabut.
- Program Pengayaan Uranium: Iran akan diizinkan untuk melanjutkan program pengayaan uraniumnya.
- Penarikan Pasukan AS: Seluruh personel dan pasukan militer Amerika Serikat akan ditarik dari kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA: Kematian Ali Khamenei Dikonfirmasi TV Iran
Implikasi Regional dan Global
Langkah pembukaan kembali Selat Hormuz dan tercapainya gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membawa dampak yang sangat signifikan terhadap stabilitas regional di Timur Tengah serta dinamika pasar energi global. Selat ini merupakan arteri utama bagi sebagian besar pasokan minyak dunia.
Perkembangan diplomatik ini diharapkan dapat meredakan ketegangan yang selama ini membayangi hubungan antara kedua negara adidaya. Kesepakatan ini juga membuka peluang baru untuk dialog konstruktif lebih lanjut mengenai isu-isu keamanan, ekonomi, dan geopolitik di kawasan tersebut, menandai babak baru dalam upaya deeskalasi konflik.

