Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance Akui Penyelidikan Serangan di Pesta Pernikahan Iran, Tekankan Tidak Menargetkan Warga Sipil
Ule.co.id – Wakil presiden Amerika Serikat JD Vance pada Kamis (3/9/2026) mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah menyelidiki laporan serangan yang menimpa sebuah pesta pernikahan di desa Kuhestak, provinsi Sirik, Iran, sambil menegaskan bahwa militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil dalam operasi tempur.
Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Vance menyatakan, “Jika militer kami melakukan kesalahan, mereka akan belajar dari kesalahan itu untuk memperbaiki prosedur di masa depan.” Pernyataan itu muncul setelah media Iran melaporkan bahwa serangan tersebut menewaskan setidaknya empat orang dan melukai hampir 70 lainnya, termasuk perempuan dan anak-anak. Vance menambahkan bahwa penyelidikan masih dalam tahap awal dan bahwa pihak berwenang AS berkomitmen untuk mengungkap fakta secara transparan.
Menurut laporan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, serangan terjadi pada Selasa malam (1/9/2026) dan menimpa sebuah rumah yang sedang mengadakan perayaan pernikahan. Pihak berwenang setempat mencatat lima korban tewas dan sekitar 70 luka-luka. Sebuah tim medis Iran mengidentifikasi korban jiwa termasuk seorang anak berusia empat tahun, serta beberapa perempuan hamil. Daftar korban sementara meliputi:
- 4 orang tewas pada hari kejadian
- 1 korban meninggal beberapa hari kemudian karena luka parah
- ~70 orang luka-luka, mayoritas wanita dan anak-anak
Empat pakar persenjataan internasional yang dianalisis oleh Reuters menilai kerusakan struktural pada bangunan sesuai dengan dampak hantaman langsung, bukan sekadar pecahan rudal yang memantul. Tiga dari mereka berpendapat bahwa amunisi yang digunakan kemungkinan besar berasal dari senjata AS, sementara pakar keempat mengemukakan kemungkinan bahwa rudal pertahanan udara Iran yang meleset dapat menjadi penyebabnya. Analisis visual dari BBC Verify menunjukkan menara telekomunikasi setempat hancur, berjarak sekitar 112 meter dari rumah tempat pesta berlangsung.
Pemerintah AS, melalui Pentagon, belum secara resmi mengakui tanggung jawab atas insiden tersebut, namun menyatakan telah menerima laporan dan sedang melakukan peninjauan menyeluruh. Seorang pejabat militer yang tidak disebutkan namanya menyebutkan bahwa investigasi akan mencakup kemungkinan kecelakaan, kegagalan sistem pencegahan, atau kesalahan operasional lainnya. Vance menegaskan, “Kami peduli, kami ingin tahu, dan jika kami melakukan kesalahan, kami akan memperbaikinya.”
Reaksi di wilayah Timur Tengah pun cepat muncul. Iran menuduh Amerika Serikat melakukan serangan keji dan mengklaim bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari kampanye agresi yang lebih luas sejak pecahnya konflik pada Februari 2026. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke pangkalan militer AS di Bahrain, Irak, dan Yordania, serta menargetkan kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Pemerintah Amerika menanggapi dengan meningkatkan patroli maritim dan menegaskan haknya untuk melindungi jalur perdagangan internasional.
Konflik yang kini telah berlangsung lebih dari enam bulan ini menambah tekanan politik domestik di Amerika Serikat menjelang pemilihan tengah tahun. Vance, yang baru saja terpilih sebagai wakil presiden, menghindari menyebut situasi sebagai “perang” dan menolak memprediksi kapan konflik akan berakhir. “Saya tidak akan menyebutnya perang. Saat ini tidak ada penembakan aktif,” ujarnya, menekankan bahwa keputusan akhir bergantung pada tindakan Iran dalam menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz.
Di luar arena militer, Beijing secara terbuka mendesak Washington untuk mencabut sanksi terhadap perusahaan dan warga negara China yang terkait dengan Iran. Juru bicara Kementerian Perdagangan China menilai sanksi AS sebagai pelanggaran hukum internasional yang mengganggu arus perdagangan dan keamanan energi global. Meskipun demikian, AS tetap mempertahankan kebijakan sanksi sebagai respons terhadap dukungan Iran terhadap kelompok milisi regional.
Situasi di Kuhestak menyoroti kompleksitas operasi militer di wilayah yang padat penduduk dan menimbulkan pertanyaan tentang prosedur identifikasi target. Jika penyelidikan menemukan bahwa serangan tersebut merupakan kesalahan manusia atau kegagalan teknologi, Washington kemungkinan akan menghadapi tekanan internasional untuk meningkatkan akurasi dan transparansi dalam operasi udara. Sebaliknya, jika bukti mengarah pada kegagalan sistem pertahanan Iran, dinamika geopolitik di kawasan Teluk dapat berubah secara signifikan.
Dengan ribuan nyawa terancam dan hubungan diplomatik yang tegang, perkembangan selanjutnya akan sangat menentukan arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat serta stabilitas keamanan regional. Pemerintah AS diharapkan menyampaikan hasil penyelidikan secara terbuka, sementara pihak Iran menuntut pertanggungjawaban dan ganti rugi atas kerugian yang diderita warga sipil.

