analitik

Pembersihan Drainase Sampit Dipercepat, Dinas SDABMBKPRKP Kotim Bergerak Antisipasi Banjir

SAMPIT, Ule.co.id – Pembersihan drainase Sampit terus dipercepat oleh Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sebagai langkah antisipasi banjir di tengah meningkatnya curah hujan.

Dalam kegiatan pembersihan drainase Sampit tersebut, pemerintah daerah mengerahkan tiga unit ekskavator ke sejumlah titik yang dinilai rawan mengalami genangan maupun penyumbatan saluran air.

Baca juga:

Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim, Mentana Dhinar Tistama, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari pemeliharaan rutin drainase agar sistem aliran air tetap berjalan optimal saat hujan deras mengguyur wilayah Kota Sampit.

“Ini kegiatan pemeliharaan drainase untuk antisipasi banjir. Kegiatan dimulai dari tiga lokasi ini dan akan berlanjut terus,” kata Mentana di Sampit, Senin.

Pembersihan drainase Sampit dilakukan oleh tim Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Jalan, Jembatan dan Drainase dengan fokus awal di wilayah yang membutuhkan penanganan cepat.

Kegiatan yang dimulai sejak Sabtu (9/5) lalu itu mencakup dua kecamatan di Kota Sampit, yakni Kecamatan Baamang dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Tiga Ekskavator Diterjunkan di Titik Berbeda

Untuk mempercepat proses pembersihan drainase Sampit, Dinas SDABMBKPRKP Kotim menurunkan tiga jenis ekskavator dengan penempatan berbeda sesuai kondisi lapangan.

Satu unit ekskavator tipe 130 diterjunkan di kawasan Jalan Dewi Sartika untuk mengangkat endapan lumpur yang menyebabkan saluran mengalami pendangkalan.

Selain itu, satu unit ekskavator long arm ditempatkan di ring drain 1 atau Sei Mentawa karena area tersebut memiliki saluran yang lebih dalam dan membutuhkan jangkauan alat berat lebih panjang.

Sedangkan satu unit ekskavator mini digunakan di kawasan Jalan Christopel Mihing untuk membersihkan saluran yang berada di area sempit.

“Tiga ekskavator diturunkan hari ini yaitu ekskavator 130 di Jalan Dewi Sartika, ekskavator long di ring drain 1 atau Sei Mentawa dan ekskavator mini mulai Christopel Mihing,” ujarnya.

Baca juga:

Menurut Mentana, penggunaan alat berat dalam pembersihan drainase Sampit dinilai lebih efektif dibanding pengerjaan manual karena mampu mempercepat pengangkatan lumpur dan sampah.

Selain mempercepat proses normalisasi, penggunaan ekskavator juga membuat kapasitas saluran air kembali optimal sehingga air hujan dapat mengalir lancar menuju Sungai Mentaya.

Lumpur dan Sampah Jadi Penyebab Utama Genangan

Pemerintah daerah mengakui salah satu penyebab utama banjir perkotaan di Sampit adalah kondisi drainase yang mengalami pendangkalan akibat lumpur dan tumpukan sampah.

Ketika saluran air tersumbat, aliran menuju Sungai Mentaya menjadi lambat sehingga air hujan mudah meluap ke jalan maupun kawasan permukiman warga.

Karena itu, pembersihan drainase Sampit menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko genangan saat intensitas hujan meningkat.

“Lumpur dan sampah bisa memicu pendangkalan dan menghambat arus air. Dampaknya, aliran air ke Sungai Mentaya menjadi lambat sehingga rawan memicu luapan ke jalan atau perumahan yang posisinya rendah,” jelas Mentana.

Ia menyebut normalisasi drainase akan terus dilakukan secara bertahap di berbagai titik yang dianggap rawan banjir.

Antisipasi Banjir Saat Curah Hujan Meningkat

Dalam beberapa waktu terakhir, curah hujan di wilayah Kotawaringin Timur mengalami peningkatan. Kondisi tersebut membuat sejumlah kawasan di Kota Sampit rawan tergenang apabila saluran drainase tidak berfungsi maksimal.

Pembersihan drainase Sampit pun menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem.

Baca juga:

Dengan saluran air yang bersih dan lancar, debit air hujan diharapkan bisa langsung mengalir menuju Sungai Mentaya tanpa menyebabkan genangan berkepanjangan.

Pemerintah daerah menilai langkah antisipasi lebih efektif dibanding penanganan setelah banjir terjadi.

Selain kawasan perkotaan, pemeliharaan drainase juga dilakukan secara berkala di wilayah lain di Kotawaringin Timur, termasuk kawasan selatan yang memiliki area permukiman dan pertanian cukup luas.

Langkah itu dilakukan agar aktivitas masyarakat tidak terganggu akibat banjir maupun genangan air.

Warga Diminta Ikut Menjaga Kebersihan Drainase

Di tengah upaya pemerintah melakukan pembersihan drainase Sampit, masyarakat juga diminta ikut menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan ke saluran air.

Mentana menegaskan keberhasilan pencegahan banjir membutuhkan dukungan seluruh masyarakat karena sampah rumah tangga menjadi salah satu faktor utama penyumbatan drainase.

Menurutnya, drainase yang sudah dibersihkan akan kembali tersumbat apabila kesadaran masyarakat menjaga kebersihan lingkungan masih rendah.

“Pemerintah daerah berupaya mengantisipasi agar saat hujan deras tidak sampai terjadi genangan akibat drainase yang kurang lancar. Mudah-mudahan pemeliharaan yang kita laksanakan ini bisa membawa dampak besar mencegah banjir,” demikian Mentana.

Pembersihan drainase Sampit dipastikan akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan dengan menyasar sejumlah titik lain yang membutuhkan penanganan prioritas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *