Karhutla Kotawaringin Timur Meluas: Bantuan PWI, Satwa Terpanggang, dan Ancaman pada Bandara Sampit
Ule.co.id – Di kabupaten kotawaringin timur, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menggerogoti wilayah yang sudah lama rawan, menimbulkan ancaman serius bagi penduduk, satwa liar, serta operasional bandara regional. Pada pekan terakhir Agustus 2026, sejumlah titik api baru muncul, memaksa petugas pemadam, militer, dan relawan bekerja tanpa henti untuk mengendalikan laju kebakaran.
Rombongan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kotawaringin Timur, dipimpin oleh Ketua Siti Fauziah, turun ke lokasi kebakaran di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Ketapang. Mereka membagikan air mineral, makanan ringan, susu, suplemen energi, serta masker kepada petugas yang tengah berjuang memadamkan api. Bantuan tersebut bersumber dari sumbangan mitra kerja dan anggota PWI, dan direncanakan akan dilanjutkan selama beberapa hari ke depan.
Petugas lapangan menyambut baik kehadiran PWI. Koordinator relawan Masyarakat Peduli Api, Adi Wahyudi, mengungkapkan bahwa selain makanan, kebutuhan mendesak yang belum terpenuhi adalah selang pemadam yang rusak akibat panas tinggi. “Mereka butuh peralatan yang tahan lama, bukan hanya makanan sementara,” ujarnya.
Sementara itu, Satgas Karhutla melaporkan munculnya 13 titik api baru pada hari Kamis, 27 Agustus 2026, menambah beban kerja tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta relawan masyarakat. Pada hari sebelumnya, total hotspot tercatat mencapai sekitar 400 titik, menandakan penyebaran yang cepat dan sulit diatasi secara simultan. Wandan Harian, koordinator Posko Karhutla Kotawaringin Timur, menyatakan upaya memperdalam galian parit untuk dijadikan embung air sebagai langkah mitigasi jangka pendek.
Kerusakan tidak hanya terbatas pada vegetasi. Pencinta reptil lokal, Hary Siswanto, menemukan sekurang‑kurangnya 26 ekor satwa liar mati terbakar akibat kebakaran. Di antaranya terdapat 20 ekor sanca reticulatus (ular piton), satu ekor king cobra, tiga ekor dipong, satu ekor biawak, dan satu ekor ular air. “Satwa liar merupakan penyeimbang ekosistem, dan kehilangan mereka menambah beban lingkungan,” kata Hary, yang menekankan pentingnya upaya pencegahan kebakaran untuk melindungi keanekaragaman hayati.
Kebakaran yang melanda kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP) Bandara Haji Asan Sampit menambah kompleksitas penanganan. Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, memantau secara langsung proses pemadaman di Jalan Tjilik Riwut kilometer 6,5. Karena letak kebakaran dekat landasan pacu, pihak berwenang mengerahkan tambahan armada dari BPBD, Disdamkarmat, Kodim 1015/Sampit, serta unit Korem 102/Pjg. Irawati menegaskan bahwa kebakaran di zona bandara dapat mengganggu jadwal penerbangan, termasuk kedatangan pesawat Super Air Jet yang dijadwalkan pada hari itu.
Upaya kolaboratif antara aparat keamanan, militer, dan masyarakat menunjukkan sinergi yang kuat, namun tantangan tetap besar. Lahan gambut yang kering selama musim kemarau memperparah intensitas api, sementara ketersediaan selang dan alat pemadam masih terbatas. Wandan menambahkan bahwa penanganan jangka panjang harus meliputi rehabilitasi lahan gambut, pembuatan embung, serta penegakan hukum terhadap pembakaran liar.
Secara keseluruhan, situasi karhutla di kabupaten kotawaringin timur mencerminkan dampak ganda: kerusakan ekosistem dan tekanan pada sumber daya manusia. Bantuan PWI memberikan dorongan moral bagi petugas, namun kebutuhan material seperti selang dan peralatan pemadam tetap menjadi prioritas. Pemerintah daerah diharapkan memperkuat koordinasi lintas sektor dan meningkatkan program edukasi masyarakat untuk mencegah kebakaran di masa mendatang.
Dengan intensitas kebakaran yang terus meningkat, setiap langkah pencegahan dan penanggulangan menjadi krusial. Harapan semua pihak adalah agar api dapat dipadamkan sepenuhnya, satwa liar dapat pulih, dan operasional bandara kembali normal, sehingga kabupaten kotawaringin timur dapat kembali pada kondisi yang lebih aman dan lestari.

