Krisis Asap Karhutla Kalimantan: Ribuan Titik Api, Protes Negara Tetangga, dan Warga Tercekik Asap Seumur Hidup
Ule.co.id – Karhutla Kalimantan, lonjakan titik api hingga kemarahan warga yang ‘tercekik’ kabut asap seumur hidup [titlebase] kembali menggerogoti hutan dan lahan di pulau ini, menimbulkan asap tebal yang melintasi perbatasan hingga Malaysia dan Singapura.
Menurut data satelit NOAA-20, hingga 20 Agustus 2026 tercatat 1.487 titik panas dengan konsentrasi tertinggi di Kalimantan Tengah (767 titik) dan Kalimantan Barat (560 titik). Angka ini tidak hanya mencerminkan kebakaran aktual, melainkan juga potensi kebakaran yang belum terdeteksi secara dini. Di Kalimantan Timur, hotspot mencapai sekitar 8.000 titik, menyamai total seluruh Agustus 2025.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani, menegaskan bahwa “Karhutla Kalimantan, lonjakan titik api hingga kemarahan warga yang ‘tercekik’ kabut asap seumur hidup [titlebase]” telah memicu serangkaian nota protes dari negara tetangga. Ia mengingatkan pemerintah untuk tidak menunggu keberatan berulang kali sebelum menindak tegas pihak yang sengaja membakar lahan. “Setiap titik api harus diketahui siapa yang bertanggung jawab,” pungkasnya dalam siaran pers pada 21 Agustus 2026.
Provinsi Kalimantan Barat menjadi wilayah dengan karhutla terluas pada periode Januari‑Juni 2026, mencatat luas kebakaran 28.680,47 hektar. Sementara Kalimantan Timur membagi penanganan menjadi lima zona, mengerahkan water bombing dan rekayasa cuaca. Kabupaten Mahakam Ulu meminta warga melapor sebelum membakar ladang, dan Kutai Barat mengirim tim gabungan ke kampung Longdali. Berikut rangkuman data hotspot per provinsi:
| Provinsi | Hotspot (titik) | Luas Kebakaran (ha) |
|---|---|---|
| Kalimantan Tengah | 767 | — |
| Kalimantan Barat | 560 | 28.680,47 |
| Kalimantan Timur | ≈8.000 | — |
| Kalimantan Selatan | 177 | 383,07 |
Sejarah mencatat bahwa kebakaran hutan di Kalimantan bukan fenomena baru. Pada 1997‑1998, El Nino memicu kebakaran yang meluluhlantakkan jutaan hektare, mengakibatkan kabut asap meluas ke Malaysia, Singapura, dan Brunei. Penelitian CIFOR mengungkap bahwa sebagian besar titik api pada periode itu berasal dari pembukaan lahan dengan cara pembakaran, bukan semata-mata karena kekeringan.
Dampak kesehatan masyarakat kini menjadi sorotan utama. Polutan PM2,5 mencapai level berbahaya di kota‑kota besar Kalimantan, memperparah kondisi pernapasan terutama pada anak-anak dan lansia. Sekolah‑sekolah terpaksa ditutup sementara, dan aktivitas ekonomi seperti transportasi serta pariwisata mengalami penurunan signifikan.
Pemerintah pusat bersama Kementerian Kehutanan dan BMKG telah mengaktifkan posko penanggulangan kebakaran, memperkuat koordinasi lintas sektoral, serta menyiapkan dana darurat. Namun, kritik mengingatkan bahwa penegakan hukum terhadap pembakar ilegal masih lemah, sehingga kebakaran berulang kali kembali muncul.
Dengan tekanan geopolitik yang meningkat, Indonesia dihadapkan pada pilihan antara mengendalikan karhutla secara efektif atau menghadapi kerugian ekonomi, kesehatan, dan hubungan luar negeri yang lebih dalam. Upaya mitigasi yang terintegrasi, termasuk restorasi lahan gambut, penegakan hukum yang tegas, serta edukasi masyarakat, menjadi kunci untuk menghentikan siklus kebakaran yang terus menggerogoti Kalimantan.

