Danantara Prioritaskan Teknologi Terbukti untuk PSEL, 20 Wilayah Aglomerasi Jadi Fokus Investasi
Jakarta, Ule.co.id – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menegaskan akan memprioritaskan penggunaan teknologi yang telah teruji secara global dalam pengembangan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Pendekatan ini dipilih untuk memastikan efektivitas, kecepatan implementasi, serta penerimaan masyarakat terhadap proyek strategis tersebut.
Chief Executive Officer (CEO) BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa pihaknya tetap membuka peluang terhadap berbagai inovasi teknologi, namun dengan catatan utama: rekam jejak yang jelas dan keberhasilan implementasi di berbagai negara.
“Kita terbuka untuk teknologi lain, tapi yang menjadi prioritas adalah teknologi yang sudah terbukti berjalan baik di banyak negara di dunia,” ujar Rosan dalam konferensi pers di Gedung Danantara, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
20 Wilayah Aglomerasi Masuk Tahap Prioritas
Dalam konferensi pers yang turut dihadiri Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq, diungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan 20 wilayah aglomerasi yang mencakup 47 kabupaten/kota sebagai prioritas awal investasi PSEL.
Penetapan ini mengacu pada arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan percepatan penanganan sampah, khususnya di kawasan perkotaan dan aglomerasi dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari.
Seluruh wilayah tersebut telah memenuhi kriteria tahap pertama dan secara resmi mengantongi surat keputusan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
Kota Skala Menengah Masih Dikaji
Sementara itu, kota-kota dengan volume sampah antara 500 hingga 1.000 ton per hari belum masuk dalam kategori prioritas utama sesuai Peraturan Presiden (Perpres) terkait PSEL. Regulasi tersebut secara spesifik menetapkan ambang batas prioritas pada wilayah dengan timbulan sampah di atas 1.000 ton per hari.
Meski demikian, peluang tetap terbuka. Berdasarkan hasil pemantauan tim gabungan, terdapat tujuh wilayah aglomerasi yang mencakup 26 kabupaten/kota dalam kategori ini yang masih berpotensi untuk dikembangkan pada tahap berikutnya.
Faktor Penerimaan Publik Jadi Penentu
Rosan menekankan bahwa keberhasilan proyek PSEL tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga penerimaan masyarakat di sekitar lokasi pengolahan.
“Yang penting pekerjaan ini bisa dilakukan dengan baik, cepat, dan paling penting diterima masyarakat, terutama di lingkungan tempat pengelolaan sampah itu berada,” ujarnya.
Aspek sosial ini menjadi krusial mengingat sejumlah proyek pengolahan sampah di masa lalu kerap menghadapi resistensi warga, terutama terkait isu lingkungan dan kesehatan.
Sumber Teknologi dari Berbagai Negara
Dalam hal penyediaan teknologi, Danantara membuka peluang kerja sama internasional. Sejumlah negara dengan rekam jejak kuat dalam teknologi pengolahan sampah menjadi energi seperti Jepang, Korea Selatan, Belanda, dan China masuk dalam radar.
Tidak hanya itu, Rosan juga menyinggung potensi pengembangan teknologi dalam negeri sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Alatnya bisa dari Jepang, Korea, Belanda, China, dan juga ke depan kita dorong produk dari dalam negeri,” katanya.
Dorong Solusi Terintegrasi Krisis Sampah
Langkah Danantara ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah nasional yang kian kompleks, terutama di wilayah perkotaan dengan pertumbuhan penduduk tinggi.
PSEL diposisikan sebagai solusi terintegrasi yang tidak hanya mengurangi volume sampah, tetapi juga menghasilkan energi listrik sebagai nilai tambah ekonomi.
Dengan pendekatan berbasis teknologi yang telah teruji dan dukungan investasi terpusat, pemerintah berharap proyek PSEL dapat berjalan lebih cepat dan memberikan dampak nyata, baik dari sisi lingkungan maupun ketahanan energi nasional.

