Ferdinand kritik buzzer di tengah bencana NTT, soroti kunjungan Gibran dan peran presiden
Ule.co.id – Ferdinand kritik buzzer di tengah bencana NTT, singgung kunjungan Gibran dan peran presiden [titlebase] menjadi sorotan utama dalam perdebatan publik setelah gempa bumi berkekuatan 5,8 SR mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur. Dalam sebuah wawancara eksklusif, Ferdinand menilai bahwa sejumlah akun media sosial yang berlabel “buzzer” justru memperkeruh situasi dengan menyebarkan narasi yang tidak akurat, sehingga mengalihkan perhatian masyarakat dari upaya penanganan darurat yang sebenarnya. Ia menambahkan bahwa kunjungan Gibran Rakabuming Raka ke daerah terdampak harus dipandang sebagai sinyal kepedulian pemerintah, bukan sekadar aksi politik.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo kembali menjadi bahan perbincangan setelah menyebut gempa di NTT sebagai “makanan sehari-hari” dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI. Pernyataan itu, yang diucapkan saat menjelaskan pengalaman pribadi saat merasakan guncangan di podium upacara, memicu kemarahan publik karena terkesan meremehkan penderitaan korban. Dody berargumen bahwa istilah tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan frekuensi gempa yang tinggi di wilayah tersebut, namun cara penyampaiannya dianggap kurang sensitif.
Kritik Ferdinand terhadap buzzer tidak lepas dari konteks pernyataan Dody. Menurutnya, akun-akun yang menyebarkan kutipan terdistorsi dari menteri tersebut memperbesar kesan bahwa pemerintah tidak peduli. “Mereka mengangkat pernyataan yang sudah disalahartikan dan menambahkan provokasi, sehingga menimbulkan kebingungan di antara warga yang membutuhkan bantuan,” ujar Ferdinand. Ia menekankan pentingnya media yang bertanggung jawab dalam menyampaikan informasi, terutama ketika bencana alam melanda.
Kunjungan Gibran ke NTT pada minggu lalu menjadi titik balik dalam narasi publik. Gibran, putra bungsu Presiden Joko Widodo, mengunjungi beberapa desa yang paling parah terdampak, bertemu dengan korban, serta meninjau progres pembangunan infrastruktur darurat. Ferdinand menilai bahwa kunjungan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah pusat, namun ia juga mengingatkan agar tidak dijadikan alat politik semata. “Kunjungan Gibran harus diikuti dengan aksi nyata, bukan sekadar foto dan pernyataan singkat,” tegasnya.
Peran Presiden Jokowi dalam penanganan bencana NTT juga menjadi bagian penting dalam diskusi. Sejak gempa terjadi, Presiden menginstruksikan seluruh kementerian terkait untuk mempercepat distribusi bantuan, mengaktifkan posko darurat, dan menyiapkan dana khusus. Ferdinand menyoroti bahwa koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah harus lebih transparan, sehingga masyarakat tidak menjadi sasaran manipulasi oleh buzzer. Ia menambahkan bahwa kehadiran Presiden secara langsung di lapangan dapat menurunkan tingkat spekulasi yang beredar di media sosial.
Analisis para pakar komunikasi menunjukkan bahwa fenomena buzzer semakin mengancam kredibilitas institusi publik. Ketika pernyataan kontroversial seperti yang dilontarkan Dody Hanggodo diubah menjadi meme atau komentar provokatif, kepercayaan publik menurun. Ferdinand mengusulkan pembentukan tim verifikasi fakta independen yang dapat menilai keabsahan informasi sebelum disebarluaskan. Ia juga menekankan pentingnya edukasi digital bagi masyarakat agar dapat membedakan antara fakta dan opini yang dipolitisasi.
Dengan tekanan yang terus meningkat, pemerintah diharapkan dapat menanggapi kritik Ferdinand dan memperbaiki strategi komunikasinya. Sementara itu, buzzer yang terus mengirimkan narasi sensasional harus dihadapkan pada konsekuensi hukum bila terbukti menyebarkan hoaks. Upaya bersama antara pemerintah, media, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengembalikan kepercayaan publik, terutama di tengah bencana NTT yang masih membutuhkan bantuan berkelanjutan.

