Gempa Jogja M3,5 Mengguncang DIY, Suara Dentuman Memicu Kekhawatiran dan Solidaritas Nasional
Ule.co.id – Gempa jogja berukuran magnitude 3,5 mengguncang wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta pada sore hari Kamis 20 Agustus 2026, menimbulkan getaran dan suara dentuman keras yang terdengar hingga ke rumah-rumah warga. Kejadian ini memicu perbincangan luas di media sosial serta menimbulkan pertanyaan tentang potensi bahaya lebih besar, termasuk tsunami, meski BMK​G menegaskan gempa tersebut dangkal dan tidak berpotensi tsunami.
Kepala Stasiun Geofisika Sleman, Ardhianto Septiadhi, menjelaskan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif Opak, sebuah patahan yang membentang sekitar 45 kilometer dari Kabupaten Bantul hingga Klaten. Kedalaman pusat gempa yang sangat dekat dengan permukaan menyebabkan gelombang seismik frekuensi tinggi terdengar sebagai suara dentuman atau ledakan. “Gempa bumi dangkal sangat lazim disertai suara gemuruh, dentuman, atau ledakan,” ujarnya.
Sejumlah warga Yogyakarta melaporkan mendengar suara seperti benda berat jatuh sebelum getaran terasa. Salah satu pengguna media sosial menuliskan, “Suara ‘dug’ dulu kayak benda berat jatuh di lantai, gemuruhnya kenceng, takut kayak gempa 2006.” Reaksi tersebut mengingatkan pada gempa dahsyat tahun 2006 yang menimbulkan kerusakan signifikan dan korban jiwa, sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi gempa di zona sesar Opak.
Selain dampak langsung di Yogyakarta, gempa ini menambah beban bagi warga Nusa Tenggara Timur (NTT) yang masih berjuang pulih dari gempa sebelumnya. Di Desa Nitung Lea, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, persediaan makanan masih sangat terbatas akibat longsor yang memutus akses jalan antar‑desa. Warga mengandalkan ubi kayu putih dan ubi putih sebagai sumber makanan utama, sambil menunggu jalan kembali terbuka. “Kami makan ubi kayu tambah ubi putih, irit‑irit makanannya,” ujar Lory Kadi, warga setempat.
Pemerintah Daerah DIY bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY, Bank Indonesia, dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) segera menggalang dana untuk membantu mahasiswa asal NTT yang keluarganya kehilangan rumah. Dalam setengah hari, mereka mengumpulkan Rp90 juta yang diserahkan kepada mahasiswa di Bangsal Kepatihan, Kantor Gubernur DIY. Selain bantuan tunai, pemerintah DIY juga menyalurkan bantuan senilai Rp1 miliar dan perbekalan medis Rp38 juta ke Pemerintah Provinsi NTT untuk penanggulangan darurat.
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menekankan komitmen provinsi untuk memberikan keringanan biaya tempat tinggal dan kemudahan administratif bagi mahasiswa NTT yang terdampak. “Kita akan bicara biaya kos dan mendapatkan kemudahan akses sehingga mereka dapat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta,” ujarnya, menandai langkah konkret yang melampaui bantuan logistik jangka pendek.
Para ahli menilai bahwa meski gempa jogja kali ini berukuran kecil, frekuensi aktivitas sesar Opak tetap tinggi. Sesar Opak dapat menghasilkan gempa dengan magnitudo hingga M6,6, sehingga kesiapsiagaan terus menjadi prioritas. Pemerintah DIY telah mengirimkan surat resmi ke perguruan tinggi di wilayahnya untuk memastikan mahasiswa terdampak menerima dukungan yang diperlukan.
Di sisi lain, Paus Leo XIV mengingatkan dunia akan pentingnya nilai kemanusiaan dalam era teknologi AI yang berkembang cepat. Meskipun tidak terkait langsung dengan gempa, pesan Paus menekankan bahwa inovasi, termasuk sistem peringatan dini gempa, harus diarahkan untuk melayani kepentingan bersama dan melindungi hak asasi manusia.
Secara keseluruhan, gempa jogja menegaskan kembali kerentanan wilayah Yogyakarta terhadap aktivitas sesar aktif serta menyoroti solidaritas nasional dalam membantu daerah yang terdampak bencana, termasuk NTT. Upaya bersama pemerintah, lembaga keuangan, dan masyarakat menunjukkan respon cepat dan terkoordinasi, sekaligus mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan berkelanjutan.

