Maruarar Sirait Gencarkan Program Hunian Tetap: Dari Banjir Sumut hingga Renovasi NTT
Ule.co.id – Maruarar Sirait, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), menegaskan komitmen pemerintah mempercepat penyediaan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana serta memperluas akses rumah layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Pada rapat Komisi V DPR tanggal 2 September 2026, ia melaporkan bahwa sudah ada 1.002 unit huntap yang selesai dibangun di Sumatra, Aceh, dan wilayah lainnya, sekaligus menekankan pentingnya kepastian hukum atas lahan untuk memperlancar pembangunan rumah susun dan rumah tapak.
Langkah konkret Sirait tidak hanya terbatas pada data statistik. Saat mengunjungi desa Napa, Kabupaten Tapanuli Selatan, pada 4 September 2026, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan permintaan maaf kepada korban banjir bandang dan tanah longsor. Dalam pertemuan tersebut, Sirait menegaskan bahwa pemerintah akan menuntaskan pembangunan huntap di Sumatera Utara pada bulan yang sama, menjawab tekanan publik yang menuntut tempat tinggal yang aman dan layak pasca bencana.
Di samping upaya penanggulangan bencana, Sirait juga memimpin terobosan hukum bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang serta Satgas Anti-Mafia Tanah. Kolaborasi ini bertujuan membersihkan status lahan, menghilangkan sengketa, dan memastikan setiap lahan yang dialokasikan untuk hunian rakyat memiliki status “clear and clean”. Menurutnya, skema pendanaan dan pembangunan sudah siap; yang dibutuhkan hanyalah landasan hukum yang kuat agar proses tidak terhambat lagi.
Tak hanya mengandalkan kebijakan, Sirait menggalang dukungan swasta. Grup Djarum, misalnya, menyalurkan dana sebesar Rp45 miliar untuk program perumahan dan sanitasi di Jawa Tengah, menargetkan 3.250 unit rumah. Sinergi antara pemerintah dan sektor bisnis ini diharapkan mempercepat realisasi hunian layak, terutama di daerah yang masih terdampak gempa atau banjir. Sementara itu, dalam rangka membantu korban gempa Nusa Tenggara Timur, Sirait mengalokasikan tambahan Rp5 miliar untuk program bedah rumah, menambah dana pribadi sebesar Rp5 miliar untuk 1.000 rumah yang akan direnovasi dengan teknologi Rumah Instan Sederhana Sehat (Risha) yang tahan gempa.
Semangat kebijakan publik ini juga tercermin dalam Gempar Youth Leader Summit 2026 yang digelar di Tangerang. Meskipun tidak secara langsung terkait, acara tersebut menekankan pentingnya peran generasi muda dalam pembangunan bangsa hingga 2045. Sirait menyoroti bahwa kepemudaan dan kepastian hunian merupakan dua pilar utama untuk menciptakan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan kebijakan perumahan, penegakan hukum, dan partisipasi sosial, diharapkan Indonesia dapat mengatasi tantangan perumahan secara komprehensif.

