Ricuh di Keraton Solo: Saling dorong! 2 kubu raja berseteru saat Gamelan Sekaten 2026
Ule.co.id – Saling dorong! Ricuh 2 kubu raja Keraton Solo di acara gamelan Sekaten [titlebase] memicu ketegangan di Masjid Agung Solo pada Rabu, 19 Agustus 2026. Kedua kubu internal, Pakubuwono XIV Purboyo dan Pakubuwono XIV Hangabehi, bersengketa soal izin pengeluaran gamelan pusaka Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari yang menjadi inti prosesi Miyos Gongso.
Prosesi Miyos Gongso, tradisi sakral yang menandai dimulainya perayaan Sekaten 2026, melibatkan pemindahan gamelan dari Bangsal Handrawina ke Bangsal Pagongan. Kubu Hangabehi mengirimkan perangkat gamelan ke Pagongan Lor (utara) dan Pagongan Kidul (selatan) tanpa menunggu persetujuan resmi dari kubu Purboyo. Menurut pernyataan GKR Panembahan Timoer Rumbay, “Yang jelas mengambil gamelan tanpa seizin Sinuhun (PB XIV Purboyo) itu aja,” menegaskan rasa keberatan pihak Purboyo.
Saling dorong! Ricuh 2 kubu raja Keraton Solo di acara gamelan Sekaten [titlebase] kembali terulang ketika rombongan Purboyo berusaha memasuki Bangsal Kidul untuk menabuh gamelan Kyai Guntur Madu. Mereka dihadang oleh barikade yang dipasang oleh pasukan Hangabehi, memicu adu mulut dan aksi dorong‑mendorong di antara para abdi dalem yang mengenakan batik tradisional. Beberapa saksi melaporkan seorang Abdi Dalem Pejagen bahkan sempat dipukul dalam keributan tersebut.
Ketegangan berlanjut hingga sekitar pukul 11.00 WIB, ketika Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin Ketua Eksekutif KPH Eddy Wirabhumi turun tangan. LDA berupaya melerai kedua kubu dan memastikan gamelan tetap dapat dibunyikan sesuai jadwal. Meskipun LDA mengklaim telah memperoleh izin resmi dari PB XIV Mangkubumi, pihak Purboyo tetap menegaskan bahwa proses pengambilan gamelan belum melalui wewenangnya.
Saling dorong! Ricuh 2 kubu raja Keraton Solo di acara gamelan Sekaten [titlebase] tidak hanya berujung pada perselisihan internal, tetapi juga memengaruhi kegiatan sosial. Kubu Purboyo kemudian membagikan 2.500 bungkus kinang dan telur asin kepada warga di serambi masjid sebagai bentuk amal dan upaya meredakan ketegangan. Distribusi tersebut disambut hangat oleh masyarakat, meski sorotan utama tetap tertuju pada dinamika politik budaya di dalam keraton.
Menurut laporan saksi mata, setelah intervensi LDA, prosesi penabuhan gamelan kembali berjalan lancar. Gamelan Kyai Guntur Madu dibunyikan selama tujuh hari, dimulai setelah sholat Dzuhur, sementara PB XIV Mangkubumi memutuskan untuk tidak hadir secara fisik demi menghindari potensi benturan lebih lanjut. Upacara sekaten tetap dilaksanakan, menandai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan tetap menjaga nilai historis dan keagamaan yang melekat pada tradisi Solo.
Insiden ini menyoroti kompleksitas struktur kekuasaan di Keraton Solo, di mana dua garis keturunan raja—Purboyo dan Hangabehi—mempertahankan otoritas masing‑masing atas aset budaya. Perselisihan semacam ini bukan hal baru, namun kehadiran media sosial dan liputan video secara real‑time memperbesar dampak publiknya. Video yang beredar di platform TikTok dan Instagram menampilkan adegan saling dorong, menambah tekanan pada pihak-pihak terkait untuk menyelesaikan sengketa secara damai.
Para ahli kebudayaan menilai bahwa konflik ini, meskipun tampak sekadar perselisihan administratif, sebenarnya mencerminkan perjuangan mempertahankan legitimasi historis di tengah modernisasi keraton. “Sekaten bukan sekadar festival, melainkan simbol persatuan yang harus dijaga,” ujar Dr. Budi Santoso, dosen Sejarah Kebudayaan Universitas Gadjah Mada.
Dengan berakhirnya kericuhan, warga Solo dapat melanjutkan perayaan Sekaten 2026 dengan harapan bahwa pelajaran dari insiden ini akan memperkuat koordinasi antar kubu di masa mendatang. Tradisi Miyos Gongso tetap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, menegaskan peran penting gamelan dalam menyalakan semangat kebersamaan di tengah keragaman.

