Sejumlah Kiai Sepuh Minta Munas dan Konbes NU 2026 Jaga Khittah dan Marwah Organisasi
Kediri, Ule.co.id – Sejumlah kiai sepuh Nahdlatul Ulama meminta agar Munas dan Konbes NU 2026 tetap menjaga khittah, marwah, serta hubungan historis antara organisasi dengan kalangan pesantren. Seruan tersebut disampaikan dalam pertemuan Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Sabtu, menjelang pelaksanaan Munas dan Konbes NU 2026.
Para masyayikh yang terdiri atas ulama dan pengasuh pondok pesantren berharap agenda Munas dan Konbes NU 2026 tidak membahas maupun menetapkan materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan kultural, spiritual, dan historis antara Nahdlatul Ulama dengan pesantren serta para masyayikh.
“Para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab,” demikian bunyi pernyataan bersama yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Masyayikh Tekankan Pentingnya Menjaga Khittah NU
Dalam pertemuan tersebut, para masyayikh menegaskan pentingnya menjaga khittah, marwah, persatuan, serta keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang lahir dan berkembang dari lingkungan pesantren.
Karena itu, mereka berharap Munas dan Konbes NU 2026 menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren sebagai fondasi utama organisasi, bukan justru memunculkan keputusan yang dapat menimbulkan jarak dengan tradisi yang selama ini menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama.
Para kiai sepuh memandang pesantren memiliki posisi yang tidak terpisahkan dari perjalanan organisasi. Hubungan antara NU dan pesantren selama ini dinilai menjadi sumber kekuatan dalam menjalankan pengabdian kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan.
Dihadiri KH Ma’ruf Amin hingga KH Said Aqil Siroj
Pertemuan Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso dihadiri sejumlah ulama terkemuka.
Di antaranya KH Nurul Huda Jazuli, KH Anwar Manshur, KH A. Kafabihi Mahrus, KH Ma’ruf Amin, KH Said Aqil Siroj, KH Muhammad Khalil As’ad, KH Abdullah Ubab Maimoen, KH Ali Akbar Marbun, KH Ubaidillah Shodaqoh, KH Ali Kholil, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Ah. Syatibi Hambali, serta KH Mas’ud Masduqi.
Kehadiran para ulama tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap pelaksanaan Munas dan Konbes NU 2026, terutama terkait upaya menjaga persatuan organisasi dan memperkuat posisi pesantren dalam kehidupan Nahdlatul Ulama.
Soroti Mekanisme AHWA
Dalam pernyataan bersama, para masyayikh juga menyoroti pengaturan mengenai Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Mereka meminta agar mekanisme dan persyaratan pemilihan anggota AHWA tetap mempertahankan karakter forum tersebut sebagai wadah keulamaan.
Menurut mereka, AHWA harus tetap bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Menjelang Munas dan Konbes NU 2026, para masyayikh juga menyatakan penolakan terhadap usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mewajibkan status sebagai pengurus syuriyah serta didasarkan pada representasi kewilayahan.
Mereka menilai karakter AHWA harus tetap mencerminkan forum keulamaan yang berlandaskan kapasitas ilmu dan pengabdian, bukan semata-mata aspek administratif.
Minta Larangan Rangkap Jabatan Politik Tidak Diubah
Selain membahas AHWA, para masyayikh turut meminta agar usulan perubahan mengenai ketentuan larangan rangkap jabatan politik dibatalkan.
Menurut mereka, ketentuan tersebut perlu tetap dipertahankan demi menjaga independensi dan marwah organisasi.
Harapan tersebut menjadi salah satu perhatian penting menjelang Munas dan Konbes NU 2026, mengingat berbagai usulan perubahan yang berkembang belakangan menjadi perhatian kalangan pesantren dan para ulama sepuh.
Pesantren Disebut Rumah Besar Nahdlatul Ulama
Dalam pernyataan bersama itu, para masyayikh menegaskan bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama sekaligus pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan.
Karena itu, mereka berharap Muktamar Nahdlatul Ulama pada masa mendatang dapat diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah serta mata rantai keilmuan yang menjadi sumber kekuatan NU.
Menurut para ulama, semangat tersebut sejalan dengan tujuan Munas dan Konbes NU 2026 untuk menjaga kesinambungan tradisi dan memperkuat peran pesantren dalam kehidupan organisasi.
Serukan Persatuan dan Adab Musyawarah
Para masyayikh juga mengajak seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, serta unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Munas dan Konbes NU 2026 agar menjaga ketertiban, akhlak, dan adab musyawarah.
Mereka menekankan pentingnya mengedepankan persatuan serta kesatuan organisasi di tengah berbagai dinamika yang berkembang.
“Menghormati ulama, memperkuat peran pesantren, dan menjaga persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” demikian salah satu poin dalam seruan tersebut.
Dengan berbagai pesan yang disampaikan para kiai sepuh, Munas dan Konbes NU 2026 diharapkan mampu menjadi forum yang memperkuat khittah dan marwah organisasi, sekaligus menjaga hubungan erat antara Nahdlatul Ulama dengan pesantren sebagai basis utama lahir dan berkembangnya jam’iyah tersebut.

