analitik

Mastodon lawsuit: Brann Dailor Ungkap Ketegangan di Balik Gugatan Estate Brent Hinds

Ule.co.id – Ketegangan finansial kembali mengemuka di dunia metal ketika estate gitaris legendaris Brent Hinds mengajukan gugatan terhadap band asal Atlanta, Mastodon. Gugatan yang disebut oleh pihak band sebagai “meritless” menuntut pembayaran sebesar $80.000, mengklaim bahwa Hinds tidak menerima cek yang dijanjikan saat ia meninggalkan grup pada Maret 2025. Kasus ini menarik perhatian publik setelah band mengeluarkan pernyataan resmi melalui media sosial, menegaskan penolakan total atas tuduhan tersebut.

Brann Dailor, drummer Mastodon, menjadi salah satu suara utama dalam respons band. Dalam sebuah posting, Dailor menyatakan rasa sakit dan kehilangan mendalam atas kematian tragis Hinds dalam kecelakaan motor di Atlanta pada Agustus 2025. Ia menambahkan, “Kami tidak berniat membicarakan hal ini secara publik karena itu tidak akan menghormati ingatan Brent dan warisan musiknya,” sambil menegaskan kesiapan band untuk membela diri secara hukum.

Estate Hinds mengklaim bahwa selain menolak cek $80.000, Mastodon juga menggunakan citra dan kemiripan Hinds dalam promosi album terbaru mereka, Marrow Deep, yang dirilis pada September 2026. Sampul album menampilkan tiga sosok yang terinspirasi dari takdir Yunani, salah satunya diduga menyerupai Hinds dengan torso berbentuk tengkorak. Menurut gugatan, penggunaan gambar tersebut tanpa izin melanggar hak moral dan komersial almarhum.

Pernyataan resmi Mastodon menolak semua tuduhan, menyebutnya “meritless” dan menegaskan bahwa mereka akan “vigorously defend” diri mereka di pengadilan Fulton County. Band menambahkan, “Kami tidak akan berbicara lagi secara publik tentang hal ini karena kami rasa itu tidak menghormati Brent,” menutup dengan harapan agar permasalahan dapat diselesaikan secara damai di luar sorotan media.

Latar belakang perselisihan ini berakar pada proses pemisahan Hinds dari Mastodon. Menurut dokumen yang diungkapkan dalam gugatan, anggota yang tersisa berencana membeli saham Hinds di perusahaan-perusahaan terkait band, namun kontrak pembelian tersebut belum selesai ditandatangani sebelum kecelakaan fatal menewaskan Hinds. Estate mengklaim bahwa ketidaksepakatan mengenai nilai saham menjadi penyebab utama sengketa.

Selain aspek hukum, kasus ini menimbulkan refleksi tentang warisan musik Brent Hinds. Sebagai gitaris utama sejak debut album Remission (2002), Hinds dikenal dengan gaya riff yang memadukan elemen sludge, prog, dan nuansa blues. Kontribusinya pada album Blood Mountain (2006) yang merayakan 20 tahun lalu, serta kolaborasi dengan artis seperti Scott Kelly dan Josh Homme, menegaskan peran pentingnya dalam evolusi metal modern.

Brann Dailor, yang juga berperan penting dalam menulis lirik dan aransemen, mengungkapkan betapa sulitnya melanjutkan karier band tanpa kehadiran Hinds. “Kami merasakan beban berat, namun musik menjadi cara kami mengatasi rasa sakit itu,” kata Dailor dalam wawancara eksklusif. Ia menambahkan bahwa proses penciptaan Marrow Deep menjadi terapi kolektif bagi anggota yang masih bertahan, menggabungkan elemen duka dan harapan.

Penggemar Mastodon di seluruh dunia menanggapi berita ini dengan campuran simpati dan keprihatinan. Banyak yang mengingat kembali momen-momen konser di mana Brann Dailor dan Brent Hinds tampil bersama, menampilkan energi panggung yang tak tertandingi. Di media sosial, para fans menuliskan dukungan mereka kepada band sekaligus menuntut keadilan bagi estate Hinds.

Pengadilan Fulton County dijadwalkan mendengar argumen kedua belah pihak dalam beberapa minggu ke depan. Sementara itu, Mastodon berjanji untuk fokus pada tur internasional mereka, mempersembahkan lagu-lagu dari Marrow Deep yang didedikasikan untuk Hinds dan ibu Brann Dailor, yang meninggal pada tahun yang sama.

Kasus ini menyoroti kompleksitas hak cipta dan hak moral dalam industri musik, terutama ketika anggota band meninggal dan warisan mereka menjadi subjek sengketa. Dengan Brann Dailor sebagai figur sentral dalam narasi, perkembangan selanjutnya akan menjadi sorotan utama bagi penggemar metal dan praktisi hukum hiburan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *