Carlo Ancelotti di Bawah Sorotan: Kritik Tajam, Gaji Fantastis, dan Hubungan dengan Palmeiras
Ule.co.id – carlo ancelotti kini menjadi sorotan utama dunia sepak bola setelah penunjukannya sebagai pelatih Seleção Brasileira dan kontrak empat tahun yang memperpanjang masa jabatannya hingga 2030. Di tengah antusiasme atas pengalaman internasionalnya, publik Brasil menuntut perubahan nyata dalam performa tim nasional, terutama setelah kegagalan di Piala Dunia 2026. Ancelotti membawa reputasi mengelola klub-klub elit Eropa, namun adaptasi dengan kultur pemain Brasil menjadi tantangan yang belum terpecahkan.
Di program televisi “Futbol Picante”, mantan pelatih Meksiko Ricardo “Tuca” Ferretti melontarkan kritik pedas tidak hanya kepada Rafael Márquez, pelatih baru Timnas Meksiko, tetapi juga kepada carlo ancelotti. Ferretti menilai kurangnya intensitas dan karakter dalam permainan Brasil di bawah asuhan sang Italia, bahkan menyebutnya “sebuah kematian” bagi tim. Ia mengingatkan kegagalan Brasil melawan Norwegia (2-1) di fase 16 besar Piala Dunia 2026, menuding kegagalan taktik dan kurangnya reaksi cepat terhadap gol Erling Haaland. Kritik tersebut menambah tekanan publik yang mengharapkan perubahan drastis dalam strategi dan mentalitas tim.
Sementara itu, data keuangan mengungkap posisi carlo ancelotti di antara pelatih paling berbayar di dunia. Menurut laporan GiveMeSport, Ancelotti menempati urutan ke-12 dengan gaji tahunan sebesar €9,43 juta (sekitar Rp56,1 miliar), menjadikannya satu-satunya pelatih tim nasional dalam daftar tersebut. Berikut rangkuman lengkap 12 pelatih teratas:
| Posisi | Pelatih | Klub/Tim | Gaji (Euro) | Gaji (Rupiah) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Simone Inzaghi | Al‑Hilal | 26 000 000 | Rp154,8 miliar |
| 2 | Diego Simeone | Atlético Madrid | 23 400 000 | Rp139,3 miliar |
| 3 | Luis Enrique | Paris Saint‑Germain | 20 000 000 | Rp119,1 miliar |
| 4 | Mikel Arteta | Arsenal | 17 500 000 | Rp104,2 miliar |
| 5 | Oliver Glasner | Nottingham Forest | 15 130 000 | Rp90,1 miliar |
| 6 | Xabi Alonso | Chelsea | 13 400 000 | Rp79,8 miliar |
| 7 | José Mourinho | Real Madrid | 12 000 000 | Rp71,4 miliar |
| 8 | Ange Postecoglou | Al‑Nassr | 11 640 000 | Rp69,3 miliar |
| 9 | Andoni Iraola | Liverpool | 11 640 000 | Rp69,3 miliar |
| 10 | Enzo Maresca | Manchester City | 11 640 000 | Rp69,3 miliar |
| 11 | Luciano Spalletti | Juventus | 11 060 000 | Rp65,8 miliar |
| 12 | Carlo Ancelotti | Seleção Brasileira | 9 430 000 | Rp56,1 miliar |
Gaji tinggi tersebut menegaskan bahwa federasi Brasil menaruh kepercayaan besar pada carlo ancelotti, meski kritik publik terus mengalir. Di sisi lain, hubungan Ancelotti dengan klub Brasil juga terlihat dalam pertemuan hangat bersama Abel Ferreira, pelatih Palmeiras. Pada 6 September 2026, keduanya bertemu di Stadion Nilton Santos sebelum laga Botafogo vs Palmeiras. Ferreira memuji kebijaksanaan Ancelotti dalam urusan kebijakan CBF dan menyoroti diskusi mereka tentang penggunaan rumput sintetis di kompetisi internasional. Ia juga mengundang Ancelotti untuk mengunjungi fasilitas Palmeiras, bahkan menawarkan sebotol anggur pribadi sebagai tanda persahabatan.
Abel Ferreira menegaskan bahwa meski tidak ada pemain Palmeiras yang terpilih untuk timnas, klubnya terus menghasilkan talenta seperti Endrick yang kini berkarier di Eropa. Ia menambahkan, “Carlo Ancelotti adalah salah satu pelatih yang paling saya pelajari, terutama dalam hal organisasi defensif dan kreativitas pemain.” Pernyataan ini mencerminkan adanya penghargaan profesional di antara pelatih, sekaligus menyoroti tantangan seleksi pemain Brasil yang harus menyeimbangkan ekspektasi klub dan kebutuhan timnas.
Ke depan, carlo ancelotti dihadapkan pada dua agenda utama: memperbaiki performa tim di ajang kualifikasi Copa América 2024 dan menyiapkan skuad untuk tujuan jangka panjang, yaitu menjuarai Piala Dunia 2030. Dengan delapan pemain baru yang dipanggil untuk pertandingan persahabatan terbaru, Ancelotti berupaya menanamkan gaya permainan yang lebih dinamis dan mengurangi ketergantungan pada bintang lama. Sementara kritik dari Tuca Ferretti tetap menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari gaji, melainkan dari hasil di lapangan. Jika Ancelotti mampu mengintegrasikan intensitas yang diharapkan publik dengan taktik berkelas dunia, ia berpotensi menulis bab baru dalam sejarah sepak bola Brasil.
