analitik

Mantan Pelatih Persebaya Iwan Setiawan Tutup Usia 68 Tahun, Jejaknya Tetap Menginspirasi Sepak Bola dan Politik Nasional

Ule.co.id – Iwan Setiawan, sosok legendaris yang pernah mengemban tongkat kepelatihan Persebaya Surabaya, meninggal dunia pada Kamis, 3 September 2026, dalam usia 68 tahun. Kabar duka tersebut pertama kali disampaikan oleh mantan pelatih Timnas Putri Indonesia, Rudy Eka Piyambada, melalui unggahan Instagram pribadi yang diiringi ucapan belasungkawa dan penghormatan atas dedikasi sang pelatih.

Berkarier sebagai pemain profesional sejak era 1970-an, Iwan Setiawan menorehkan prestasi di level klub seperti Pelita Jaya, Arseto Solo, dan Persija Jakarta. Ia juga pernah memperkuat Tim Nasional Indonesia pada beberapa tingkatan usia, mulai dari U-16 hingga tim senior. Setelah menutup karier sebagai pemain, ia beralih ke dunia kepelatihan, memulai langkahnya pada akhir 1990-an dengan mengasah talenta muda di Persija Jakarta.

Baca juga:
DEWA Kantongi Kontrak SSC Rp 22 Triliun, Dorong Pertumbuhan Jasa Tambang 2026

Puncak karier kepelatihannya tercapai ketika ia dipercaya memimpin Persebaya Surabaya di Liga 2 pada musim 2017. Di bawah asuhannya, tim tersebut menorehkan prestasi sebagai pelopor proyek Green Force, sebuah inisiatif yang menekankan pengembangan pemain muda dan gaya permainan menyerang. Keberhasilan tersebut menegaskan peran Iwan Setiawan sebagai arsitek strategi modern dalam sepak bola Indonesia.

  • 1997-1999: Pelatih tim junior Persija Jakarta
  • 2005-2007: Asisten pelatih Persebaya Surabaya
  • 2017: Pelatih utama Persebaya Surabaya, memperkenalkan konsep Green Force
  • 2020-2022: Konsultan teknis tim nasional U-23

Selain kiprah di lapangan hijau, Iwan Setiawan juga dikenal aktif dalam diskursus politik. Sebagai Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), ia memberikan analisis kritis terhadap dinamika politik regional. Pada awal September 2026, Iwan Setiawan menyoroti pertemuan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dengan tokoh masyarakat Botok dan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB). Ia mengingatkan publik untuk menilai apakah pertemuan tersebut bersifat sosial, pemerintahan, atau sekadar strategi elektoral.

Dalam pernyataannya, Iwan menekankan pentingnya transparansi dan substansi dalam pertemuan politik, agar tidak sekadar menjadi ajang pencitraan. “Publik berhak mengetahui agenda nyata di balik pertemuan tersebut,” ujarnya. Kritik ini menambah dimensi baru pada warisan Iwan Setiawan, yang tidak hanya dikenang sebagai pelatih, tetapi juga sebagai pengamat politik yang tajam.

Rudy Eka Piyambada, yang mengenal Iwan Setiawan secara pribadi, menuturkan pertemuan terakhir mereka di National Football Philosophy (NFP) Jogja. “Pertemuan kita di NFP Jogja meninggalkan kesan mendalam. Iwan adalah panutan dalam karier kepelatihan saya,” tulis Rudy dalam unggahan Instagramnya, menambahkan doa agar amal ibadah sang pelatih diterima di sisi Allah.

Baca juga:
Mobil Pikap Kecelakaan di Tol Cipularang, Dua Penumpang Meninggal Dunia

Kehilangan Iwan Setiawan dirasakan oleh banyak pihak, mulai dari mantan pemain, rekan pelatih, hingga aktivis politik. Mereka menyebutnya sebagai figur yang jujur, berjiwa besar, dan selalu mengutamakan integritas. Di tengah duka, keluarga dan sahabat dekat menggelar tahlilan dan doa bersama, berharap almarhum diberikan tempat terbaik di akhirat.

Warisan Iwan Setiawan tetap hidup melalui generasi pelatih muda yang terinspirasi oleh pendekatannya yang inovatif, serta melalui tulisan-tulisan politik yang terus menggugah kesadaran publik. Sebagai tokoh yang berhasil menjembatani dunia olahraga dan politik, ia meninggalkan contoh nyata bahwa dedikasi dapat melintasi bidang-bidang berbeda.

Publikasi ini menyajikan rangkuman lengkap tentang perjalanan hidup Iwan Setiawan, menyoroti kontribusinya pada sepak bola Indonesia serta peranannya dalam wacana politik kontemporer. Semoga kenangan akan dedikasinya terus menginspirasi generasi mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *