PSSI Pertimbangkan Timo Scheunemann Jadi Pelatih Timnas Putri Senior, Fokus pada Pengembangan Bakat Muda
Ule.co.id – PSSI pertimbangkan Timo Scheunemann jadi pelatih timnas putri Indonesia senior [titlebase] setelah keberhasilan Garuda Pertiwi meraih runner-up Srikandi Merdeka Cup 2026. Keputusan ini muncul di tengah perbincangan internal PSSI mengenai arah strategi timnas wanita, terutama menjelang kualifikasi Piala Asia U-17 2027. Vivin Cahyani, anggota Exco PSSI, menegaskan bahwa rekam jejak Scheunemann dalam pembinaan usia dini menjadi faktor utama pertimbangan.
Timo Scheunemann, pelatih timnas U-16 putri, menolak secara tegas tawaran melatih tim senior. Dalam konferensi pers di Supersoccer Arena, Kudus, ia menekankan bahwa peran sebagai “gatekeeper” bagi talenta muda lebih sesuai dengan visi kariernya. “Enggak ada tanggapan, saya inginnya melatih yang muda jadi gatekeeper‑lah,” ujarnya. Meskipun terbuka untuk menangani tim U-20, ia menolak mengelola skuad senior karena fokusnya pada penciptaan pemain, bukan sekadar mengatur tim yang sudah matang.
Keputusan Scheunemann untuk tetap berada di level usia muda mendapat sorotan positif dari kalangan pelatih dan pengamat. Ia menilai bahwa pencarian bakat memerlukan objektivitas dan kemampuan khusus yang tidak dimiliki semua pelatih. “Karena pencarian bakat itu dua hal penting: satu objektivitas, enggak ‘masuk angin’, sama kemampuan,” jelasnya. Pengalaman Scheunemann di program grassroots seperti MilkLife Soccer Challenge dan HydroPlus Soccer League menambah nilai tambah bagi PSSI yang sedang memperkuat basis pemain wanita.
PSSI pertimbangkan Timo Scheunemann jadi pelatih timnas putri Indonesia senior [titlebase] juga dipengaruhi oleh performa tim U-16 di turnamen terakhir. Garuda Pertiwi menunjukkan kemampuan taktik yang kuat meski kalah tipis 0‑1 dari Thailand di final. Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa Scheunemann mampu mengembangkan pemain yang kompetitif di level internasional. PSSI berharap, bila Scheunemann diangkat, ia dapat meneruskan filosofi pembinaan pemain ke level senior, sekaligus menyiapkan generasi baru yang siap bersaing di ajang Asia.
Namun, Scheunemann tetap tegas menolak posisi senior. “Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau,” tegasnya. Ia menilai bahwa tugas melatih tim usia muda jauh lebih menantang karena programnya harus disesuaikan dengan perkembangan fisik dan mental pemain. Fokus pada penciptaan pemain menjadi prioritas, sehingga piala menjadi bonus, bukan tujuan utama. “Piala saya sesungguhnya itu semua pemain‑pemain saya, mereka itu piala berjalan,” ujarnya dalam salah satu sesi konferensi pers.
Jika terpilih, Scheunemann akan menjadi sosok yang menghubungkan proses scouting pemain dari turnamen domestik hingga timnas senior. PSSI telah menyiapkan skema scouting pasca Srikandi Merdeka Cup, dengan daftar 46 pemain yang akan dipangkas menjadi 23 untuk kualifikasi U-17. Keberadaan Scheunemann di pucuk pimpinan teknis diharapkan dapat memperlancar transisi pemain muda ke level yang lebih tinggi, sekaligus memperkuat identitas permainan timnas putri Indonesia.

