Dua Startup Asia Luncurkan AI Tandingan Anthropic Usai Pembatasan Ekspor AS
Ule.co.id – Persaingan industri kecerdasan buatan semakin memanas setelah dua startup asal Asia meluncurkan AI tandingan Anthropic. Langkah ini muncul tidak lama setelah pemerintah Amerika Serikat membatasi akses global terhadap model AI canggih milik Anthropic, yaitu Mythos dan Fable, yang selama ini digunakan untuk berbagai kebutuhan pengembangan teknologi.
Dua perusahaan yang memperkenalkan AI tandingan Anthropic tersebut adalah Sakana AI dari Jepang dan perusahaan keamanan siber 360 asal China. Keduanya menghadirkan model AI dengan fokus berbeda, mulai dari agen AI hingga keamanan siber.
Pembatasan ekspor yang diterapkan Amerika Serikat membuat sejumlah perusahaan teknologi di Asia mulai mencari alternatif terhadap model AI buatan perusahaan asal AS. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembang lokal untuk menghadirkan solusi yang lebih mudah diakses oleh pasar regional.
Sakana AI Perkenalkan Fugu
Startup asal Tokyo, Sakana AI, meluncurkan model AI bernama Fugu. Nama tersebut diambil dari bahasa Jepang yang berarti ikan buntal.
Perusahaan menyebut Fugu sebagai model AI frontier, yaitu model kecerdasan buatan dengan kemampuan tinggi yang dirancang untuk bersaing dengan Fable 5 dan Mythos Preview milik Anthropic. Fugu juga dikembangkan sebagai model orkestrasi yang mampu mengatur penggunaan berbagai model AI lain melalui Application Programming Interface (API).
Sakana AI menegaskan bahwa peluncuran AI tandingan Anthropic tersebut bukan merupakan respons langsung terhadap kebijakan pembatasan ekspor Amerika Serikat.
“Sakana Fugu adalah sesuatu yang telah kami bangun sejak tahun lalu,” kata juru bicara Sakana AI.
Menurut perusahaan, waktu peluncuran hanya bertepatan dengan meningkatnya perhatian terhadap pembatasan akses model AI milik Anthropic.
Sakana AI didirikan pada 2023 oleh mantan peneliti Google, yakni Ren Ito, Llion Jones, dan David Ha. Perusahaan berfokus mengembangkan model AI generatif yang lebih efisien, mampu bekerja dengan data berukuran kecil, serta dioptimalkan untuk bahasa dan budaya Jepang.
Fugu ditujukan bagi kalangan bisnis maupun lembaga pemerintah Jepang yang ingin mengurangi ketergantungan terhadap model AI yang berpotensi terdampak aturan ekspor Amerika Serikat.
Meski demikian, Sakana menilai model AI asal Amerika tetap memiliki peran penting di kawasan Asia dan tidak akan langsung tergantikan.
China Hadirkan Tulongfeng dan Yitianzhen
Selain Jepang, China juga memperkenalkan AI tandingan Anthropic melalui perusahaan keamanan siber 360.
Perusahaan tersebut meluncurkan dua sistem AI, yaitu Tulongfeng dan Yitianzhen.
Tulongfeng dirancang untuk menemukan celah keamanan perangkat lunak secara otomatis, sedangkan Yitianzhen dikembangkan guna membantu otomatisasi pertahanan siber serta respons terhadap insiden keamanan digital.
Menurut laporan Reuters yang dikutip TechCrunch, pendiri 360 Zhou Hongyi menyebut AI yang mampu mendeteksi kerentanan keamanan merupakan aset strategis nasional.
Ia juga mengingatkan risiko terjadinya “transparansi satu arah”, yaitu kondisi ketika hanya sebagian pihak yang memiliki akses terhadap teknologi pendeteksi kerentanan tingkat tinggi, sementara pihak lain tertinggal.
Model Orkestrasi Jadi Arah Baru Pengembangan AI
David Ha, salah satu pendiri sekaligus CEO Sakana AI, menilai masa depan industri AI tidak hanya ditentukan oleh model dengan ukuran terbesar, tetapi juga kemampuan mengelola banyak model AI secara bersamaan.
Menurutnya, model orkestrasi akan menjadi tahap berikutnya dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan karena mampu memilih dan mengoordinasikan berbagai model AI sesuai kebutuhan pengguna.
“Model orkestrasi adalah frontier berikutnya, melampaui model yang lebih besar,” tulis David Ha melalui akun X.
Pembatasan Ekspor Buka Peluang Startup Asia
Anthropic sebelumnya melaporkan pertumbuhan bisnis yang signifikan dengan pendapatan tahunan mencapai lebih dari 47 miliar dolar AS pada Mei 2026. Namun, perusahaan belum mengungkapkan besarnya kontribusi pelanggan dari kawasan Asia.
Sejak pembatasan ekspor diberlakukan Amerika Serikat, sejumlah perusahaan teknologi di Tokyo dan Beijing mulai menawarkan AI tandingan Anthropic sebagai alternatif bagi pasar yang sebelumnya bergantung pada model AI asal Amerika.
TechCrunch menilai kemunculan model AI lokal yang memahami bahasa, budaya, dan kebutuhan regional berpotensi memperkuat ekosistem AI di Asia. Dengan hadirnya Fugu, Tulongfeng, dan Yitianzhen, persaingan di pasar AI global diperkirakan akan semakin ketat dalam beberapa tahun ke depan.

