analitik

Perseteruan DJI dan Insta360 Memanas, Gugatan Paten Bergulir di China

PALANGKA RAYA, Ule.co.id – DJI dan Insta360 kembali menjadi sorotan setelah persaingan keduanya berkembang menjadi sengketa hukum terkait hak paten. Dua perusahaan teknologi asal Shenzhen, China, tersebut kini tidak hanya bersaing memperebutkan pasar kamera pintar dan drone, tetapi juga saling menggugat di pengadilan atas dugaan pelanggaran paten.

Mengutip laporan Yicai Global, sidang perdana perkara DJI dan Insta360 dijadwalkan berlangsung pada Agustus 2026 di China daratan. Sebelumnya, kedua perusahaan sempat saling mengajukan gugatan di Amerika Serikat pada Juni 2026, namun seluruh perkara tersebut akhirnya dicabut sebelum memasuki tahap persidangan.

DJI Lebih Dulu Menggugat Insta360

Perseteruan DJI dan Insta360 diawali ketika DJI mengajukan gugatan di sejumlah pengadilan di China. Produsen drone terbesar di dunia itu menuduh Arashi Vision, perusahaan induk Insta360, melanggar beberapa paten yang berkaitan dengan teknologi kamera gimbal pada lini produk Luna.

Salah satu gugatan diterima oleh Pengadilan Menengah Rakyat Shenzhen, Provinsi Guangdong, dan dijadwalkan mulai disidangkan pada 3 Agustus mendatang.

Dalam gugatan tersebut, DJI meminta pengadilan memerintahkan Arashi Vision menghentikan produksi maupun penjualan produk yang dianggap melanggar paten. Selain itu, DJI juga menuntut ganti rugi atas kerugian ekonomi serta biaya hukum yang telah dikeluarkan untuk melindungi hak kekayaan intelektualnya.

Insta360 Balas dengan Enam Gugatan

Perseteruan DJI dan Insta360 tidak berhenti pada gugatan dari DJI. Arashi Vision merespons dengan mengajukan enam gugatan balik di sejumlah pengadilan, termasuk di Shenzhen dan Ningbo.

Gugatan tersebut mencakup berbagai teknologi yang digunakan DJI, mulai dari sistem gambar panoramik, perangkat lunak penyuntingan video, teknik pengambilan gambar bullet-time, teknologi pengendalian panas kamera, modul tambahan kamera, hingga sistem penyangga gimbal.

Bullet-time sendiri merupakan teknik pengambilan gambar yang membuat objek tampak diam atau bergerak sangat lambat, sementara kamera bergerak mengelilinginya. Teknologi ini banyak digunakan pada kamera aksi dan perangkat pembuat konten kreatif.

Persaingan Bisnis Menjadi Pemicu

Pengamat menilai sengketa DJI dan Insta360 tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua perusahaan mulai memasuki lini bisnis yang sebelumnya menjadi keunggulan masing-masing.

Pada Juli tahun lalu, DJI meluncurkan kamera panorama pertamanya, Osmo 360, yang langsung bersaing dengan produk unggulan Insta360 di pasar kamera 360 derajat.

Sebaliknya, Arashi Vision mulai merambah bisnis drone melalui kerja sama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan merek Antigravity. Pada akhir tahun, perusahaan tersebut memperkenalkan Antigravity A1 yang diklaim sebagai drone panoramik pertama di dunia.

Langkah ekspansi tersebut membuat persaingan DJI dan Insta360 semakin ketat, tidak hanya dalam inovasi produk tetapi juga dalam perlindungan hak paten.

Gugatan di Amerika Serikat Dicabut

Sebelum berlanjut di China, DJI dan Insta360 sempat membawa sengketa paten ke Amerika Serikat pada pertengahan Juni 2026.

Namun, kedua perusahaan kemudian sama-sama mencabut gugatan sebelum proses hukum berlanjut. Menurut sumber yang dekat dengan DJI, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi bisnis global perusahaan agar sumber daya dan biaya litigasi dapat difokuskan pada perkara yang dianggap lebih strategis.

Meski demikian, pencabutan gugatan bukan berarti DJI mengendurkan upaya melindungi hak patennya.

Dua Pemimpin Pasar Global

Perseteruan DJI dan Insta360 mendapat perhatian besar karena keduanya merupakan pemain utama di industri kamera pintar dunia.

Berdasarkan data International Data Corporation (IDC), DJI mengirimkan sekitar 10,4 juta unit perangkat kamera pintar sepanjang tahun lalu atau menguasai sekitar 62 persen pangsa pasar global.

Sementara itu, Arashi Vision melalui merek Insta360 berada di posisi kedua dengan pengiriman sekitar 3,4 juta unit atau sekitar 20 persen pangsa pasar.

Dengan dominasi pasar sebesar itu, hasil sengketa hukum antara DJI dan Insta360 berpotensi memengaruhi arah persaingan industri kamera pintar, kamera aksi, hingga drone dalam beberapa tahun ke depan.

Persaingan Inovasi Kini Berlanjut ke Pengadilan

Kasus DJI dan Insta360 menunjukkan bahwa persaingan industri teknologi tidak lagi hanya ditentukan oleh peluncuran produk baru, tetapi juga oleh kepemilikan dan perlindungan hak paten.

Di tengah semakin ketatnya kompetisi pasar kamera pintar dan drone, inovasi menjadi aset penting yang harus dijaga melalui jalur hukum. Sidang yang akan digelar di China pada Agustus mendatang diperkirakan menjadi salah satu perkara paten terbesar di industri teknologi konsumen tahun 2026 dan berpotensi menentukan babak baru dalam persaingan DJI dan Insta360.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *