Bupati Lamandau Bangga, Tahura Dapat Penghargaan Kemenhut 2026: Prestasi Lingkungan Nasional
Ule.co.id – Bupati Bangga Tahura Dapat Penghargaan Kemenhut menjadi sorotan utama saat Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Lamandau, Ostra Wungkana, menerima Anugerah Konservasi Alam 2026 atas nama Bupati Rizky Aditya Putra di Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta.
Penghargaan bergengsi tersebut diberikan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri pada rangka peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kategori yang diraih adalah UPT/UPTD Akseleratif Bidang Perencanaan, menandai pencapaian paling cepat dalam peningkatan efektivitas perencanaan kawasan konservasi di tingkat nasional.
Keberhasilan UPTD Tahura Lamandau mencerminkan komitmen daerah dalam mengelola hutan secara berkelanjutan. Selama beberapa tahun terakhir, tim perencanaan Tahura berhasil menyusun rencana aksi yang terintegrasi, melibatkan masyarakat lokal, serta mengoptimalkan penggunaan data geospasial untuk memantau kondisi hutan.
- Penetapan zona perlindungan yang jelas
- Peningkatan kapasitas aparatur melalui pelatihan teknis
- Penerapan sistem monitoring berbasis satelit
Dalam sambutannya, Bupati Lamandau Rizky Aditya Putra menegaskan bahwa penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan dorongan kuat untuk memperkuat upaya perlindungan hutan yang masih tersisa. “Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Lamandau. Kita tercatat sebagai satu-satunya pemerintah kabupaten se-Indonesia yang menerima penghargaan tersebut,” ujarnya.
Rizky menambahkan bahwa apresiasi dari Kementerian Kehutanan menjadi motivasi tambahan bagi seluruh elemen pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, dan warga untuk terus menjaga ekosistem hutan. Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektoral dalam menghadapi tantangan degradasi hutan dan perubahan iklim.
Selain merayakan prestasi, Bupati juga mengungkapkan harapan besar terkait usulan pengembangan kawasan baru, yaitu Tahura Bahu Burung. Kawasan tersebut direncanakan menjadi benteng pelestarian alam sekaligus penyangga cadangan air di hulu Sungai Bulik. “Kita doakan semoga usulan Tahura Bahu Burung dapat segera disetujui pemerintah pusat, supaya hutan dan cadangan air di hulu Sungai Bulik bisa terlindungi,” harapnya.
Usulan Tahura Bahu Burung mencakup area seluas lebih dari 10.000 hektar yang masih berupa hutan primer dan sekunder. Penelitian awal menunjukkan potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk spesies unggulan burung endemik dan mamalia langka. Jika disetujui, kawasan tersebut akan menjadi bagian integral dari jaringan konservasi hutan di Kalimantan Tengah.
Keberhasilan Tahura Lamandau dalam meraih Bupati Bangga Tahura Dapat Penghargaan Kemenhut juga membuka peluang pendanaan tambahan dari program pemerintah pusat dan lembaga donor internasional. Beberapa skema pendanaan, seperti Program Penataan Hutan dan Lahan (PPHL) serta Green Climate Fund, diperkirakan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat infrastruktur konservasi, rehabilitasi lahan kritis, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Para ahli lingkungan menilai bahwa penghargaan ini menegaskan pentingnya pendekatan berbasis perencanaan yang adaptif dan terukur. “Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan perencanaan yang berbasis data dan partisipatif dapat menghasilkan dampak nyata dalam pelestarian hutan,” kata Dr. Anita Sari, peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Dengan momentum ini, Pemerintah Kabupaten Lamandau berencana menggelar serangkaian lokakarya teknis untuk berbagi praktik terbaik dengan daerah lain yang memiliki potensi konservasi serupa. Lokakarya tersebut akan melibatkan perwakilan dari Kementerian Kehutanan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta organisasi non‑pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan.
Secara keseluruhan, pencapaian Tahura Lamandau tidak hanya meningkatkan citra Kabupaten Lamandau di tingkat nasional, tetapi juga memperkuat posisi daerah sebagai contoh keberhasilan pengelolaan hutan yang dapat direplikasi. Bupati Bangga Tahura Dapat Penghargaan Kemenhut menjadi bukti nyata bahwa kerja keras, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan perubahan positif bagi lingkungan dan masyarakat.

