analitik

Skala Bencana: Korban Banjir Bandang Nepal Mencapai Lebih dari 1.130 Jiwa, Ribuan Hilang dan Upaya Pemulihan Besar

Ule.co.id – Tragedi banjir bandang Nepal yang melanda perbatasan dengan Tibet pada 26 Agustus 2026 masih menyisakan deretan panjang korban banjir bandang nepal, dengan lebih dari 1.130 orang tewas dan sekitar 4.462 orang masih dinyatakan hilang.

United Nations Development Programme (UNDP) mengungkapkan bahwa bencana tersebut meninggalkan lebih dari 2,4 juta ton puing, meliputi reruntuhan bangunan, barang rumah tangga, pepohonan, batu, dan lumpur. Puing‑puing ini tidak hanya menghambat upaya pencarian korban hilang, tetapi juga menambah beban kerja tim penyelamat yang terdiri dari aparat Nepal, bantuan internasional, serta warga setempat.

Baca juga:
Menhan Sjafrie Undang China Ikut Latihan Militer Heping Garuda 2026, Kerja Sama Pertahanan Diperkuat

Data resmi dari Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nepal mencatat 1.114 jenazah telah ditemukan hingga 2 September, sementara 3.916 orang masih hilang. Di wilayah Tibet, laporan media China menambahkan 16 korban jiwa dan 546 orang hilang, termasuk 261 warga negara asing. Total korban tewas di kedua wilayah kini mencapai 1.130 jiwa.

Upaya identifikasi korban menjadi prioritas utama. Kepolisian Nepal meminta keluarga yang kehilangan anggota untuk menyerahkan sampel DNA serta dua pas foto berukuran paspor ke laboratorium patologi di rumah sakit kepolisian Kathmandu atau kantor polisi terdekat. Bagi keluarga yang berada di luar negeri, prosedur pengambilan DNA dilakukan di laboratorium resmi masing‑masing negara, dengan hasil digital dikirim ke email resmi kepolisian Nepal. Hingga kini, lebih dari 100 orang telah mengantre untuk memberikan sampel darah di Kathmandu.

Para penyelamat, termasuk tim dari China, telah mengirimkan bantuan kemanusiaan dalam dua gelombang. Gelombang pertama berisi 50 ton barang, sementara gelombang kedua mencakup drone, peralatan pengujian DNA, serta perlengkapan pemurnian air dan penerangan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam penanggulangan bencana ini.

Di lapangan, situasi masih sangat menantang. Banyak korban hilang tertimbun di puing‑puing terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang rusak, tempat sebagian besar pekerja PLTA berada saat banjir melanda. Tim penyelamat harus menavigasi medan yang licin dan berbahaya, dengan risiko banjir susulan yang terus mengancam.

  • Korban tewas: >1.130 jiwa
  • Korban hilang: 4.462 orang
  • Puing: >2,4 juta ton
  • Orang yang diselamatkan: ~12.000 orang
  • Personel keamanan dikerahkan: >21.000 orang

Ratusan penyintas kini tinggal di penampungan darurat, seperti pusat yoga di Bidur, yang menampung sekitar 100 perempuan dan anak-anak dalam kondisi sempit. Salah satu pengungsi, Subba Tamang, mengungkapkan kehilangan delapan anggota keluarga dan mengaku malamnya dipenuhi tangisan dan ketakutan akan bencana lanjutan.

Baca juga:
Wabah Hantavirus Tewaskan Tiga Orang, Penumpang Kapal Pesiar Mulai Dievakuasi

Selain tantangan fisik, trauma psikologis menjadi beban berat bagi para korban. Banyak keluarga yang menunggu kabar tentang orang terdekatnya, sementara foto-foto jenazah dipajang di rumah sakit kepolisian untuk membantu proses identifikasi. Prakaiti Jurnj, seorang korban yang menunggu hasil DNA, menceritakan kesulitan menghubungi kerabat di desa yang masih mengalami pemadaman listrik.

Pemerintah Nepal melakukan pemakaman darurat di area hutan dekat Kathmandu, dengan setiap makam ditandai nomor berwarna biru dan dipagari kawat berduri demi keamanan. Upaya ini diharapkan menjadi solusi sementara hingga identitas semua korban dapat dipastikan.

Dengan lebih dari 1,6 juta orang terdampak secara langsung, bencana banjir bandang Nepal menuntut koordinasi lintas negara, bantuan logistik, serta dukungan medis dan psikologis yang berkelanjutan. Pemerintah dan komunitas internasional terus memantau situasi, menyediakan bantuan air bersih, makanan, serta peralatan penting untuk mempercepat proses pemulihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *